Prostitusi dan Minuman Keras dalam Perspektif FIqh Sosial

Prostitusi dan Minuman Keras dalam Perspektif FIqh Sosial
Prostitusi dan Minuman Keras dalam Perspektif FIqh Sosial
 https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2016/06/03/715392/670x335/jelang-ramadan-warung-remang-di-pesisir-pantai-bengkulu-di-bongkar.png
 
A. Pendahuluan
Pelacuran atau prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya. Pelacuran itu berasal dari bahasa Latin pro-stituere atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan persundalan, percabulan, pergendakan. Sedangkan prostitute adalah pelacur atau sundal. Dikenal dengan istilah WTS atau wanita tuna susila.
Begitu juga dengan tradisi minuman keras dengan berbagai variasinya dijumpai masyarakat mana pun di dunia, sepanjang sejarah. Masyarakat arab zaman jahiliyyah juga mengenal minuman ini. Kebiasaan minuman keras berlanjut terus sampai zaman Islam. Bahkan ketika zaman khalifah Umar inb Khattab masih dijumpai orang yang tidak mengetahui kedudukan hokum minuman keras dan menganggapnya sebagai jenis minuman biasa yang dihalalkan. 
Tidak satu pun Negara yang melegislasi minuman keras itu yang tidak mengetahui akibat-akibat buruk minuman keras bagi kehidupan pribadi maupun social. Para ahli medis di Negara itu juga mengetahuinya. Bahkan mereka dengan amat keras menentang minuman keras dan mengemukakan data-data statistic akibat buruk yang ditimbulkan.
Selain minuman keras, pelacuran merupakn “profesi” yang sangat tua usianya, setua umur kehidupan manusia itu sendiri. Yaitu berupa tingkah laku lepas bebas tanpa kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Pelacuran itu selalu ada pada semua Negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang. Dan senantiasa menjadi masalah social atau menjadi obyek urusan hokum dan tradisi. Selanjutnya, dengan perkembangan teknologi, industry dan kebudayaan manusia, turut berkembang pula pelacuran dalam pelbagai bentuk dan tingkatannya.
Di banyak Negara pelacuran itu dilarang, bahkan dikenakan hukuman. Juga dianggap sebagai perbuatan hina oleh segenap masyarakat. Akan tetapi, sejak adanya masyarakat manusia yang pertama sehingga dunia akan kiamat nanti, “mata pencaharian” pelacuran ini akan tetap ada; sukar, bahkan hamper-hampir tidak mungkin diberantas dari muka bumi, selama masih ada nafsu-nafsu seks yang lepas dari kendali Kemampuan dan hati nurani. 
B. Pelacuran (Prostitusi) versus Norma Agama dan Norma Adat (Hukum Ashal Prostitusi dalam Islam)

Sejak zaman dahulu kala, para pelacur selalu dikecam atau dikutuk oleh masyarakat, karena tingkah lakunya yang tidak susila dan dianggap mengotori sakralitas hubingan seks. Mereka disebut sebagai orang-orang yang melanggar norma moral, adat dan agama; bahkan kadang-kadang juga melanggar norma Negara, apabila Negara tersebut melarangnya dengan undang-undang atau peraturan.
Norma adat pada galibnya melarang pelacuran. Akan tetapi, setiap daerah itu tidak sama peratuarannya; dan kebanyakan norma tersebut tidak tertulis. Pelanggaran pelacuran itu berdasarkan alasan sebagai berikut : tidak menghargai diri wanita, diri sendiri, penghinaan terhadap isteri dan pria-pria yang melacurkan diri, tidak menghormati kesucian perkelaminan (sakralitas seks), menyebabkan penyebaran penyakit kotor dan menganggu keserasian perkawinan.
Namun, ada masyarakat-masyarakat tertentu yang memperkenankan hubungan seks diluar perkawinan. Pada masyarakat Eskimo, kelahiran bayi di luar nikah, ditolerir oleh masyarakat. Bahkan untuk menghormati tamu-tamu yang terpandang, isteri sendiri disuruhnya tidur bersama dengan tamunya dan memberikan pelayanan seks seperlunya. Juga pada beberapa kelompok suku di pulau Kei, Flores, Mentawai, system perkawinannya mengizinkan anak-anak gadis mengadakan hubungan kelamin dengan laki-laki sebelum menikah.  Bahkan gadis-gadis yang terampil dan “pandai’’ memberikan pelayanan seks, akan laku terlebih dahulu. Juga masyarakat Desa di daerah Banjarnegara, mengizinkan anak-anak laki-laki melakukan relasi seks dengan pelacur atau penari (Aledek, tandak) sebagai peristiwa inisiasi menuju kedewasaan, yang disebut “Gowokan”.
Norma agama pada umunya juga melarang pelacuran. Surat Al-Isra ayat 32, meyebutkan : “dan janganlah kamu sekali-sekali melakukan perzinaan, sesungguhnya perzinaan itu merupakan suatu perbuatan yang keji, tidak sopan dan jalan yang buruk”. Sebab perzinaan yaitu persetubuhan antara laki-laki dan perempuan di luar perkawinan itu melanggar kesopanan, merusak keturunan, meyebabkan penyakit kotor; menimbulkan persengketaan, ketidakrukunan dalam keluarga dan malapetaka lainnya. 
Juga surat An-Nur ayat 2 menyatakan pelarangan; bunyinya sebagai berikut : “perempuan dan laki-laki yang berzina, deralah kedua-duanya, masing-masing seratus kali dera. Janganlah saying kepada keduanya dalam menjalankan hukuman agama Allah, kalau kamu betul-betul beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaknya hukuman bagi keduanya itu disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Dalam uasaha penanggulangan masalah pelacuran, agaknya Soviet Rusia berhasil menekan dan memberantas pelacuran, berkat adanya kebebasan seks yang sangat besar dan ditolerir oleh hamper semua warga masyarakat.
Maka Tuhan menganjurkan kawin; dan melalui perkawinan itu dapat dibangun rumah tangga yang sah dan bahagia, kalis dari kesulitan dan terpeliharalah anak keturunan. Sedang perzinaan dipandang sebagai perbuatan 

C. Prostitusi Dalam Pandangan Fiqih Sosial (Reaksi Sosial) 
Seks adalah energy psikis yang ikut mendorong manusia untuk aktif bertingkah laku. Seks juga merupakan mekanisme bagi manusia untuk mengadakan keturunan. Karena itu, seks dianggap sebagai mekanisme yang sangat vital, dengan mana manusiabisa mengabadikan jenisnya.
Hubungan seksual yang normal itu mengandung pengertian sebagai berikut:
a. Hubungan tersebut tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun partnernya.
b. Tidak menimbulkan konflik-konflik psikis dan tidak bersifat paksaan atau perkosaan.
Sedang relasi seksual yang bertanggung jawab itu mengandung pengertian : kedua belah pihak menyadari akan konsekuensinya, dan berani memikul tanggung jawab serta resiko dari padanya. Sedangkan relasi seks yang tidak normal dan perverse (buruk, jahat) adalah : (1) tidak tanggung jawab, (2) didorong oleh kompulsi-kompulsi (tekanan paksaan); dan (3) didorong oleh impuls-impuls yang abnormal. Abnormalitas dalam pemuasan dorongan seksual itu dibagi 3 golongan yaitu : (1) Abnormalitas seks disebabkan oleh dorongan seksual abnormal, (2) Abnormalitas seks disebabkan oleh partner seks yang abnormal, (3) Abnormalitas seks dengan cara-cara yang abnormal.
Kenyataan membuktikan, bahwa semakin ditekan pelacuran, maka semakin luas menyebar prostitusi tersebut. Sikap reaktif dari masyarakat atau reaksi sosialnya bergantung pada empat factor :
1. Derajat penampakkan/visibilitas tingkah laku yaitu menyolok tidaknya perilaku immoril para pelacur.
2. Besarnya pengaruh yang mendemoralisir lingkungan sekitarnya.
3. Kronis tidaknya kompleks tersebut menjadi penyakit kotor syphilis dan Gonorrhoe dan penyebab terjadinya abortus serta kematian bayi-bayi.
4. Pola cultural : adat-istiadat, norma-norma susila dan agama yang menentang pelacuran, yang bersifat represif dan memaksakan.
Reaksi social itu bisa bersifat menolak sama sekali  dan mengutuk keras serat memberikan hukuman berat; sampai pada sikap netral, masa bodoh dan acuh tak acuh serta menerima dengan baik. Apabila deviasi atau penyimpangan tingkah laku berlangsung terus-menerus dan jumlah pelacur menjadi semakin banyak menjadi kelompok-kelompok deviant dengan tingkah lakunya yang menyolok, maka terjadilah perubahan pada sikap dan organisasi masyarakat terhadap prostitusi. Terjadi pula perubahan dalam kebudayaan itu sendiri. Stigma atau noda social dan eksploitasi-komersialisasi seks yang semula dikutuk dengan hebat, kini berubah dan mulai diterima sebagai gejala social yang umum. Usaha penghukuman, pencegahan, pelarangan, pengendalian, reformasi dan perubahan, semuanya ikut bergeser dan berubah. Tingkah laku seksual immoral yang semula dianggap sebagai noda bagi kehidupan normal dan mengganggu system yang sudah ada, mulai diterima sebagai gejala yang wajar. Yang semula ditolak oleh umum, kemudian diintegrasikan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat; demikian pula halnya dengan gejala pelacuran ini. 

D. Setiap yang Memabukkan adalah Khamr/Miras (Pandangan Hukum Ashal dalam Islam) 
Pertama yang ditegaskan oleh Nabi saw bukan melihat terlebih dahulu kepada materi yang digunakan untuk membuat khamr. Beliau justru melihat kepada pengaruh yang ditimbulkan, yaitu “memabukkan”. Apapun nama dan mereknya, kalau ia memiliki daya memabukkan, itulah khamr, dengan bahan apapun ia dibuat. Atas dasar ini, bird an sejenisnya adalah Haram.
Nabi saw pernah ditanya tentang beberapa minuman yang dibuat dari madu atau biji-bijian dan gandum yang difermetasikan hingga menjadi minuman keras. Nabi, yang telah dikaruniai jawami`ul kalim (kata-kata yang mencakup) itu menjawab dengan singkat dan padat “setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram”. Dari atas mimbar Rasulullah saw, Umar bin Khattab ra menegaskan “khamr adalah sesuatu yang menutupi akal pikiran”.
Selain itu, larangan minuman keras dijelaskan secara tegas (sarih) dalam Al-Quran. Penetapan larangan tersebut diturunkan secara bertahap. Mulanya dikatakan bahwa dari buah korma dan anggur dapat dibuat minuman yang memabukkan dan rezki yang terbaik. Tersebut dalam surat An-Nahl ayat 67: “dan dari buah korma dan anggur dapat kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik”.
Nabi saw tidak hanya mengharamkan minuman khamr dalam jumlah banyak maupun sedikit. Lebih dari itu, beliau juga mengharamkan bisnis khamr, sekalipun dengan non-muslim. Karena itu, tidak dihalalkan bagi seorang Muslim melakukan kegiatan ekspor-impor khamr, memiliki kios untuk jual belinya atau bekerja di tempat itu.
Apabila menjual dan memakan hasil penjualan khamr adalah haram, bagi seorang muslim, memberi hadiah kham yang tanpa imbalan, sekalipun kepada seorang Yahudi, Nasrani, atau siapa saja, haram juga hukumnya.

E. Khamr Dalam Pandangan Fiqh Sosial 
Dalam pandangan hukum ashalnya sudah jelas bahwa yang namanya khamr adalah haram, hal ini meliputi semua aspek yang berkaitan dengan khamr seperti bisnis khar, member hadiah kharm, banyak sedikitnya minum khamr dan lain sebagainya yang berkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan khamr. Namun, dalam pandangan fiqh social yang berangkat dari berbagai pandangan meliputi kehidupan social, bentuk kebudayaan masyarakat dan norma-norma yang ada dalam suatu masyarakat.
Pandangan fiqh social disini berangkat dari niat seseorang dalam minum khamr. Unsur ini terpenuhi apabila melakukan perbuatan minum-minuman keras (khamr) padahal ia tahu bahwa apa yang diminumnya itu adalah khamr atau muskir. Dengan demikian, apabila seseorang minum-minuman yang memabukkan tetapi ia menyangka bahwa apa yang diminumnya itu adalah minuman biasa yang tidak memabukkan maka ia tidak dikenai hukuman had, karena tidak ada unsure yang melawan hokum.
Apabila seseorang tidak tahu bahwa minuman khamr itu dilarang, walaupun tahu bahwa barang tersebut memabukkan maka dalam hal ini unsure melawanhukum (qashad jina`i) belum terpenuhi. Akan tetapi, alasan tidak tahu hokum tidak bisa diterima dari orang-orang yang hidup dan berdomisili di negeri dan lingkungan Islam.
Dilihat dari aspek kesehatan, khamr termasuk dalam jenis minuman keras yang mempunyai dampak ganda, menyenangkan tetapi merusak fisik maupun mental. Factor akal menempati posisi yang paling vital dalam kehidupan manusia. Manusia sehat adalah manusia yang akalnya sehat, system syarafnya bekerja secara baik. Minuman keras atau khamr mengakibatkan gangguan syaraf akal. Selain itu minuman, beralkohol juga merusak bagian-bagian tubuh lain seperti hati (pancreas) dan kelumpuhan kekebalan dan pertahanan tubuh. Dari segi psikis minuman keras menimbulkan efek menyenangkan, perasaan euphoria, banyak bicara, merasa lebih leluasa berhadapan dengan orang lain dan wajahnya kemarah-merahan. Rentetan efek berikutnya ialah mal adaptif, agresif, terangsang untuk berkelahi, halangan fungsi social, gangguan koordinatif gerak, pembicaraan cadel/pelo, berjalan gontai, daya ingat kacau dan kehilangan kemampuan intelektual. Selain itu juga mengakibatkan kekacauan kemampuan abstraksi, bahasa, aktivitas motorik serta nagnosia.
Hukum Islam dari segi Fiqh social menyimpulkan bahwa minuman keras dalam bentuk apapun adalah haram dan dilarang. Dilarang bukan hanya kepada pelaku peminumnya saja, tetapi juga pengedaran, pemilikan dan itu sekaligus produsennya. Alasan bahwa minuman keras (beralkohol) untuk merangsang pemanasan tubuh pada waktu musim dingin di negara-negara tertentu yang bersalju, bukanlah alasan yang benar. Masih banyak cairan lain untuk diminum yang tidak mengganngu tubuh dan mental. Teknologi modern dewasa ini sangat mungkin untuk memproduksi minuman sejenis itu (mengahangatkan badan) yang aman bagi manusia. Tetapi nampaknya kecenderungan dunia sekuler dewasa ini memang tidak mampu dikontrol norma-norma positif yang pada hakekatnya melindungi manusia itu sendiri. Dalam keadaan demikian tidak mungkin minuman keras dapat dilarang sepenuhnya walaupun jelas mengancam kehidupan manusia.
Aspek terpenting untuk melindungi manusia dari ancaman dan bahaya minuman keras ialah menumbuhkan kesadaran manusia untuk memahami nilai-nilai normative dalam dirinya bahwa tidak mungkin manusia tanpa kendali agama mampu menempatkan dirinya dalam proporsi kemanusiaan yang benar, sebab hanya dengan itu manusia dapat melihat sisi lain dari kehidupan yang tidak dapat dilihat dari sisi manusia yang dikuasai hawa nafsu dan kemauan jahat.

F. Penutup

Apa yang telah dikemukakan di atas membuktikan bahwa larangan parktik prostitusi dan minum khamr yang ditegaskan dalam al-Quran dan Sunnah pada dasarnya menempatkan manusia dalam proporsi kemanusiaan yang sebenarnya. Segi terpenting yang dilindungi hokum Islam ialah lima hal: akal, kehormatan, harta, agama dan jiwa. Kelima hal tersebut merupakan unsure terpenting dari kemanusiaan. Hakekat larangan terhadap prostistusi dan minuman khamr (miras) adalah perlindungan terhadap kemanusiaan manusia.
Ketidakmampuan hukum sekuler untuk menerapkan hukuman sesuai dengan norma kemanusiaan oleh karena hokum mendasarkan rujukannya kepada manusia sendiri. Meskipun berakibat sangat buruk yang ditimbulkan oleh prostitusi dan miras sudah diketahui, namun karena masyarakat tidak menghendaki hal itu dilarang dengan ancaman hukuman tertentu, terutama kepada produsen/agen prostitusi dan miras, akibatnya tingkat kriminalitas di dunia makin hari makin berkembang tanpa dapat dicegahnya atau bahkan dihapuskan. Larangan-larangan yang berupa pembatasan pengedaran miras dan lokalisasi prostitusi hanya pada tempat-tempat dan umur-umur tertentu tidak mungkin dapat menghapuskan atau menghindari akibatnya. Semetara pembatasan miras dilakukan tetapi produksi minuman keras tiap tahun meningkat baik jumlah maupun kualitasnya. Begitu juga dengan prostitusi, meskipun sudah ada lokalisasi, namun tiap tahun bahkan tiap hari bertambah juga yang berprofesi sebagai pelacur.

DAFTAR PUSTAKA
Chuzaimah dan A. Hafidz Anshary,1995, Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: Pustaka Firdaus

Dokter Muhammad Th, Bahaya Narkotika dan Minuman Keras, dalam Majalah Aula, Edisi 09
Kartono, Kartini,1997, Patologi Sosial, Jakarta:Raja Grafindo Persada
Muhammad Ibn Idris al-Syafi`I, Al-Umm, Beirut: Dar al-Fikr
Muslich, Ahmad Wardi,2005, Hukum Pidana Islam,Jakarta: Sinar Grafika
Qardhawi, Yusuf, Halal Haram dalam Islam,2005,Solo: Era Intermedia
Sukarno, sarinah, panitia Penerbitan buku-buku karangan Presiden Sukarno Jakarta, 1963

No comments

Powered by Blogger.