Pernikahan Dini Sebagai Masalah Sosial (Tinjauan Sosiologis Terhadap Pernikahan Dini di Lombok NTB)

Pernikahan Dini Sebagai Masalah Sosial
(Tinjauan Sosiologis Terhadap Pernikahan Dini di Lombok NTB)
Idham Khalid*
Pernikahan Dini Sebagai Masalah Sosial (Tinjauan Sosiologis Terhadap Pernikahan Dini di Lombok NTB)
http://www.rmoljabar.com/images/berita/normal/324258_09164017012017_pernikahan_dini_KBB.jpg
 
A. PENDAHULUAN  
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat lepas dari manusia yang lain. Dimanapun dan kapanpun, dia akan berada akan selalu tergantung pada orang lain, sejak manusia lahir bahkan sampai dengan ajal menjemput, manusia tidak dapat hidup sendirian. Untuk itulah manusia selalu berhubungan atau berintraksi dengan manusia lain, baik secara individu atau kelompok. Dalam proses intraksi tersebut tentu ada hubungan dengan yang sifatnya timbal-balik.
 
Interaksi antar manusia atau interaksi yang sosial yang terjadi sifatnya bermacam-macam, ada yang saling menguntungkan, ada yang rugi, bahkan ada yang kedua-duanyaa mengalami dampak negatif dari interaksi tersebut. Mengapa demikian, karena manusia memiliki akal pikiran, hati dan hawa nafsu, sehingga dorongan interaksi tersebut dapat  berupa keinginan untuk kebaikan, menaklukkan, menguasai, dan sebagainya. Hubungan antar manusia bersifat kompleks dan tidak terbatas pada hubungan yang bersifat positif.
 
Kehidupan masyarakat yang sejahtera merupakan kondisi yang ideal dan menjadi  dambaan setiap manusia. Oleh sebab itu wajar apabila berbagai  upaya dilakukan untuk menghilangkan atau minimal untuk mengantisipasi dan mengelimminasi faktor-faktor yang menghalangi pencapaian kondisi ideal tersebut. Fenomena yang disebut sebagai masalah sosial dianggap sebagai kondisi yang dapat mengahmabat perwujudan ksejahteraan sosial. Oleh sebab itu masalah sosial sering disebut sebagai kondisi yang tidak diharapkan, dengan demikian kemunculanya selalu mendorong tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan.
 
Salah satu contoh yang penulis angkat adalah “Pernikahan Dini Sebagai Masalah Sosial” ini merupakan salah satu dimensi dari masalah sosial.  Di tinjau dari sisi manapun sebenarnya membawa dampak yang cukup signifikan bagi keberlangsungan hidup pasangan belia ini, karena belum memenuhi tuntutan dan tanggungjawabnya dalam memenuhi hak-hak yang sebenarnya dalam menjalani siklus kehidupan bermasyarakat. Timbulnya berbagai masalah yang diwujudkan oleh pasangan belia membuat penulis ingin menguak fakta yang sebenarnya mengenai masalah pernikahan dini ini yang membawa dampak yang begitu banyak, misalnya saja peningkatan angka kematian ibu da bayi, Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) menjadi rendah, pengangguran, kemiskonan, kekerasan dalam rumaah tanga, dan lain sebagaainya.
 
Persoalan yang muncul akibat pernikahan dini yang terjadi dikalangan generasi muda dibawah usia masih saja terjadi dikalangan masyarakat terutama masyarakat Lombok NTB. Pernikahan dini sebenarnya bukan hal baru untuk diperbincangkan, masalah ini sudah sering diangkat sebagai topik utama di berbagai diskusi, skripsi maupun yang lainnya. Meskipun demikian, masalah ini selalu menarik keinginan para cendikiawan untuk menelisik lebih jauh tentang apa dan bagaimana pernikahan dini ini masih saja terjadi dikalangan masyarakat terutama di Lombok NTB? Apakah pernikahan yang terjadi dikalangan usia muda dikarenakan karena sudah memang waktunya untuk menikah atau karena keterpaksaan akan subuah tuntutan, ekonomi, sosial, politik, psikologi atau mungkin ada sesuatu hal yang lebih dari semua itu?
 
Seiring berkembangnya zaman image yang berkembang di kalangan masyarakat, akademisi, maupun dikalangan pemerintahan justru sebaliknya yaitu banyak menimbulkan masalah yang berkepanjangan. Ditinjau dari segi ekonomi, kesehatan maupun psikologi justru menyumbangkan angka yang tidak sedikit pada tingkat daerah, berbagai upaya dan strategipun diluncurkan oleh pemerintah untuk memutus salah satu  mata rantai penghambat masyarakat  yang ideal.
 
Untuk itulah penulis tertarik membahas mengenai perinkahan dini ditinjau dari segi ekonomi, psikologi, maupun biologis dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis menyusun rumusan masalah diantaranya:
 
a)    Bagaimana pandangan Islam dan Negara (UU) tentang pernikahan dini?
b)    Apa faktor penyebab dan dampak pernikan dini di Lombok NTB?


B. NIKAH
 
1. Pernikahan Dini Dalam Perspektif Islam 
Agama islam merupakan agama yang mewajibkan bagi setiap pemeluknya untuk melakukan pernikahan jika sudah memenuhi keriteria untuk membangun sebuah keluarga. Keluarga yang dibangun dalam islam tentunya bertujuan untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan wa rahmah.
 
Pernikahan/perkawinan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaaqon gholiidhan  untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Pernikahan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan wa rahmah.  Pernikahan pada hakikatnya menikah juga hanya saja dilakukan oleh mereka yang masih muda, sebab menjaga kesucian dan akhlak hukumnya wajib bagi setiap muslim. Sedangkan hukum menikah usia muda adalah sunnah atau mandub, demikian menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani dengan landasan pada hadis Nabi SAW yang artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu, hendaklah menikah, sebab dengan menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan akan lebih menjaga kehormatan. kalau belum mampu, hendaklah berpuasa, sebab puasa akan menjadi perisai bagimu” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Satu hal yang perlu digaris bawahi dari hadits di atas adalah perintah menikah bagi para pemuda dengan syarat jika ia telah mampu, maksudnya adalah siap untuk me-nikah. Kesiapan menikah dalam tinjauan hukum Islam meliputi 3 hal, yaitu:
 
a. Kesiapan ilmu, yaitu kesiapan pemahaman hukum-hukum fikih yang ada hubungannya dengan masalah pernikahan, baik hukum sebelum menikah, seperti khitbah (melamar), pada saat menikah seperti syarat dan rukun akad nikah, maupun sesudah menikah seperti hukum menafkahi keluarga, thalak, rujuk. Syarat pertama ini didasarkan pada prinsip bahwa fardu ‘ain hukumnya bagi seorang muslim untuk mengetahui hukum perbuatan sehari-hari yang dilakukannya atau yang akan dilakukannya. Pemahaman fikihpun tidaklah cukup dalam dunia pernikahan, apalagi di zaman teknologi yang serba canggih yang berkembang saat ini keilmuan yang lainpun sangatlah menunjang.
 
b. Kesiapan harta atau materi, yang dimaksud dengan harta di sini ada dua macam yaitu harta sebagai mahar dan harta sebagai nafkah suami kepada istri untuk memenuhi kebutuhan pokok (al-hajat al-asasiyyah) bagi istri berupa sandang, pangan, dan papan yang wajib diberikan dalam kadar yang layak (bil ma’ruf).
 
c. Kesiapan fisik atau kesehatan khususnya bagi laki-laki yaitu mampu menjalani tugasnya sebagai suami, tidak impoten. Khalifah Umar bin Khaththab pernah memberi penangguhan selama satu tahun kepada seorang laki-laki (suami) yang impoten untuk berobat.  Ini menunjukkan bahwa kesiapan “fisik” yang satu ini perlu mendapat perhatian serius.
 
Sekalipun dikatakan bahwa pernikahan dini hukum asalnya diperbolehkan menurut syariat islam, tetapi tidak berarti ia dibolehkan secara mutlak bagi semua perempuan dalam semua keadaan.
 
Dalam keputusan ijtima’ ‘ulama Komisi Fatwa Se Indonesia III 2009 dinyatakan bahwa dalam literature fikih islam, tidak terdapat ketentuan secara eksplisit mengenai batasan usia pernikahan, baik batasan usia minimal maupun maksimal. Berdasarkan hal tersebut, komisi fatwa menetapkan menetapkan beberapa hukum. Pertama, islam pada dasarnya tidak memberikan batasan usia minimal pernikahan secara definitive. Usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak. Kedua, pernikahan usia dini hukumnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika mengakibatkan mudharat. Kedewasaan usia merupakan salah satu indikator bagi tercapainya tujuan pernikahan, yaitu kemaslahatan hidup berumah tangga dan bermasyarakat serta jaminan keamanan bagi kehamilan. Ketiga, guna merealisasikan kemaslahatan, ketentuan perkawinan dikembalikan pada standar usia sebagaimana ditetapkan dalam UU No 1 Tahun 1974 sebagai pedoman.
 
Salah satu dalil yang menjadi dasar penetapan ketentuan hukum tersebut terdapat pada suart At-Thalaq yaitu:
 
Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (Q.S At-Thalaq : 4).
 
2. Pernikahan dini menurut  Negara (UU) 
Pernikahan anak didefinisikan dalam dua konteks sesuai UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 maka pernikahan anak dipandang sebagai pernikahan resmi atau bisa dipandang tidak resmi sebelum berumur 18 tahun. Dalam UU ini menetapkan bahwa usia minimum bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki batas usia minimum untuk menikah adalah 19 tahun.
 
Berdasarkan UU Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002 kondisi ini merupakan realitas untuk anak laki-laki dan perempuan. Pernikahan dini sering terjadi pada anak yang sedang mengikuti pendidikan atau pada mereka yang putus sekolah. Hal ini merupakan masalah sosial yang terjadi di masyarakat, penyebab dan damapaknya amat kompleks mencakup sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun psikis.
 
Table dibawah ini meunjukkan jumlah pernikahan di usia muda dari berbagai Negara.
 
Negara                           Usia               Persentase
Indonesia                       15 Tahun       11 %
                                      18 Tahun        35 %
Afrika                            18 Tahun        42 %
Amerika Latin              -18 Tahun        29 %
Nigeria                           18 Tahun        79 %
Kongo                           -18 Tahun        74 %
Afganistan                    -18 Tahun        54 %
Bangladesh                   -18 Tahun        51 %
 
Hasil Penelitian UNICEF Tahun 2002
 
Hasil penelitian UNICEF di Indonesia (2002), menemukan angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun berkisar 11%, sedangkan yang menikah di saat usia tepat 18 tahun sekitar 35% dari jumlah penduduk Indonesia. Praktek pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Di Amerika Latin dan Karibia, 29% wanita muda menikah saat mereka berusia 18 tahun. Prevalensi tinggi kasus pernikahan usia dini tercatat di Nigeria (79%), Kongo (74%), Afganistan (54%), dan Bangladesh (51%). Secara umum, pernikahan anak lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun. Selain itu didapatkan pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki. 

Analisis survei penduduk antar sensus (SUPAS) 2005 dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) didapatkan angka pernikahan diperkotaan lebih rendah dibanding di pedesaan, untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan dan 11,88% di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita usia muda di perdesaan lebih banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda. Meskipun pernikahan anak merupakan masalah predominan di negara berkembang, terdapat bukti bahwa kejadian ini juga masih berlangsung di negara maju yang orangtua menyetujui pernikahan anaknya berusia kurang dari 15 tahun. 

C. FENOMENA PERNIKAHAN DINI dan FAKTOR PENYEBABNYA di LOMBOK NTB
 
Pernikahan dini di Lombok NTB merupakan kejadian yang tidak bisa di tampikan, kalau sudah melewati proses pemberlakuan adat yang berlaku maka hal itu mesti dilaksanakan. Oleh karena itu sangat memperihatinkan jika yang menikah adalah orang yang berada di usia bawah umur yang sudah ditetapkan Undang-Undang pernikahan maupun Undang-undang anak. Table di bawah ini menunjukkan bahwa pernikahan dibawah usia 20 tahun ke bawah cukup tinggi, hal ini pun merupakan yang dapat di dijangkau oleh hasil surey namun yang sebenarnya mellebihi angka yang sebenarnya terjadi di masyarakat sasak.

Jumlah Penduduk                            Jumlah            Laki-Laki         Perempuan
                                                         4.500.212       2.183.646         2.316.566
Data nikah                                        3.003.963      1.451.292         1.552.671
Nikah di bawah usia 20                                          72.565              77.634
Nikah di usia 21-25                                                870.775            931.603
Nikah di usia 26-30                                                362.823            388.168
Nikah di usia 30 keatas                                          145.129            155.167
Data Hasil Survey Sosial Ekonomi 2010.
 
Survey Sosial Ekonomi Nasional 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk NTB mencapai 4.500.211 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2.183.646 jiwa dan perempuan sebanyak 2.316.566 jiwa. Data tersebut menunjukkan jumlah perempuan lebih bnyak dari laki-laki.   Penduduk usia nikah di NTB tercatat sebanyak 3.003.963, yang terdiri dari 1.451.292 laki-laki dan 1.552.671 perempuan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 72.565 laki-laki menikah di usia 20 tahun kebawah, dan lebih banyak perempuan yakni 77.634. Untuk usia 21-25 tahun menikah terdapat 870.775 laki-laki dan 931.603 perempuan. Tingkat selanjutnya, usia 26-30 tahun menikah terdiri 362.823 laki-laki dan 388.168 tahun ke atas berjumlah 145.129 laki-laki dan 155.167 perempuan.
 
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa, pada tahun 2011 angka pernikahan dini di NTB mencapai 20,12%, tahun 2012 mencapai 24,5% dan pada tahun 2013 sebesar 51,8%. Pasangan usia dini di bawah 19 tahun, jika dihitung secara angka jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan yang paling tertinggi di Pulau Lombok. Kabupaten Lombok Timur (Lotim) sebagai Kabupaten dengan penduduk paling padat pernah menjadi yang tertinggi, tapi belakangan beralih ke Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). 
 
Menanyakan tentang perkawinan di bawah umur di masyarakat Sasak tampak menjadi sesuatu yang tabu diperbincangkan. Hampir setiap orang yang ditemui akan dengan mudah dan tampak biasa menjelaskan tentang pengetahuan mereka mengenai praktik perkawinan ini di masyarakat sekitarnya. Menurut peneliti dari IAIN Mataram, Ibu Nur dan Pak Jamal, praktek ini masih banyakditemukan, khususnya di daerah Lombok Timur, Lombok Tengah dan di Lombok Barat.
 
Usia perkawinan di bawah umur yang terjadi cukup bervariasi, utuk perempuan berada  dalam rentang antara usia 9-15 tahun namun kebanyakan berada di kisaran usia 14-15 tahun, sedangkan untuk laki-laki kebanyakan terjadi pada usia 13-18 tahun. Dari berbagai sumber dinyatakan bahwa kebanyakan praktek perkawinan di bawah umur kerapkali terjadi pada pihak perempuan, sedangkan suaminya telah mencapai usia dewasa atau kebanyakan berada di atas usia 20 tahun. Akan tetapi juga di temukan perkawinan dimana pasangan suami dan istri sama-sama berusia di bawah ketentuan UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan,  yaitu di  bawah usia 16 dan 19 tahun.
 
Dalam melakukan pernikahan para informan tidak selalu berdasarkan pada tujuan yang termaktub dalam UU No. 1 tahun 1974 dan kompilasi hukum islam. Sebagian informan menyatakan bahwa perkawinan dilakukan sebagai bagian dari proses  siklus hidup yang harus dijalani atau hanyalah bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu tidak ada persiapan khusus untuk hal tersebut, misalnya saja pengetahuan yang dibangun orang tua terhadap anak-anaknya tentang apa yang harus diperhatikan saat akan menikah atau memilih calon pendamping, pengetahuan tentang organ reproduksi, dan lainnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh rosidah dan kawan-kawan, secara khusus beberapa informan perempuan dalam wawancara kelompok tampak kesulitan menjelaskan apa tujuan mereka melakukan pernikahan, namun pada akhirnya penjelasan yang terungkap dari tujuan pernikahan yang dilakukan adalah untuk mlaksanakan peran seks dan peran gender perempaun, diantaranya agar punya anak, untuk mengurus anak, untuk menjadi istri dan mengurus rumah tangga.
 
Sedangkan informan laki-laki yang menikahi perempuan di usia di bawah umur menyatakan bahwa pernikahan yang dibangunnya ditujukan untuk membangun sebuah keluarga bahagia. Bagi mereka memilih istri bukan diukur dari uisanya namun dilihat dari kecantikan lahir batinnya. Perempuan dianggap baik dan pantas dipinang jika perempuan tersebut rajin membantu orang tuanya dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci, atau aktifitas kesehariannya. Karena itu, biasanya para laki-laki akan terlebih dahulu mengamati perempuan yang akan dikunjungi (midang) dan memilih perempuan yang rajin menerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.
 
Pernikahan dibawah umur ini masih terjadi karena beragam faktor. Dari  hasil wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, penyuluh, pejabat di kantor kemetrian agama kabupaten, pegawai Pengadilan Tinggi NTB, dan akademisi, teridentifikasi ada lima faktor yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan di bawah umur, yaitu faktor ekonomi, dekadensi moral, perkembangan teknologi, tekanan sosial budaya, dan kesadaran lingkungan.
 
Faktor pertama adalah ekonomi. Persoalan keterbatasan ekonomi pada masyarakat sasak kerap menjadikan mereka dalam situasi yang sulit. Pendidikan yang dienyam hanya terbatas pada pendidikan dasar dan sulit bisa bagi mereka  untuk memiliki harapan bersekilah sampai pada jenjang yang diinginkan. Misalnya saja, pada masyarakat Geung Lombok Barat yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai buruh tani musiman dengan penghasilan yang diperoleh tidak pasti. Karena itulah, selepas sekolah di tingkat dasar (SD), maka yang terpikir bagi mereka adalah menikah. Jika pernikahan terjadi di saat mereka belum tamat sekolah, maka putus sekolah menjadi bagian yang tidak bisa dihindari. Pihak sekolah tidak mengizinkan muruid yang telah menikah kembali bersekolah, walaupun sekedar untuk menjalani ujian akhir sekolah (UAS).
 
Faktor kedua adalah dekadensi moral dan pemahaman keagamaan. Menurut salah satu tokoh agama, dinyatakan bahwa anak-anak dari keluarga buruh migrant biasanya kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, sehingga mereka mencari kasih sayang dari teman laki-laki atau kenalannya. Dekadensi moral ini mengakibatkan terjadinya pernikahan yang dilakukan karena telah terjadi kehamilan di luar pernikahan.  Fakta ini diakui cukup banyak terjadi, salah satu contoh yang disampaikan adalah seorang informan perempuan di Lombok Barat yang menikah pada usia 15 tahun, dan empat bulan berikutnya melahirkan seorang anak perempuan.
 
Faktor ketiga adalah perkembangan tekonlogi yang semakin mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. Telephone cellular salah satunya, dianggap menjadi media pengubung yang efektif bagi terjadinya pernikahan dibawah umur. Pihak laki-laki dan perempuan dengan mudah membangaun kedekatan emosional melalui telepon genggam tanpa sepengetahuan orang tua. Padahal dalam system adat, terdapat peroses midang, yaitu kunjungan atau kedatangan laki-laki ke rumah perempuan untuk melakukan pendekatan untuk merencanakan pernikahan dengan si perempuan di tempat yang disebut sebagai berugak (semacam gazebo terbuka di halaman depan  rumah) dengan pengawasan dari sang ayah. Dugaan dari tokoh agama dan adat  tentang penyalah gunaan telepon seluler sebagai media yang memicu terjadinya perkawinan di bawah umur terbuktimelalui pengalaman Ana  dari Lombok Barat yang menikah pada usia 16 tahun. Ana mengenal suaminya dari telepon nyasar yang mengajaknya berkenalan, lalu merarik di hari pertama kalinya Ana bertatap muka dengan laki-laki tersebut.  Dan masih banyak contoh yang lain. Pemahaman adat tersebut mengakibatkan orang tua dan masyarakat cendrung terpaksa menyetujui merarik yang sudah dilakukan anak-anaknya. Adat ditempatkan sebagai pressure factor terhadap maraknya pernikahan dibawah umur.
 
Selain adat, tekanan sosial juga dianggap sebagai pressure factor yang ikut berkontribusi terhadap terjadinya pernikahan dibawah umur. Bentuk  tekanan sosial adalah mitos-mitos, seperti mitos malu yang akan ditimpakan  pada keluarga perempuan jika merarik tidak dilanjutkan dengan pernikahan,mitos sial yang akan dilekatkan pada perempuan dan mengakibatkan dirinya sulit mendapatkan jodoh, serta tekanan sosial pada perempuan untuk menjaga nama baik keluarga. Meskipun sebagian informan laki-laki mengatakan bahwa mereka tida lagi mempersoalkan perempuan batal nikah, namun bagi mereka  mitos tersebut masih tetap terasa hidup, bahkan menurut R. Rais, ada semacam motto yang berbunyi “lebih baik ambil janda daripada perempuan yang tidak jadi nikah”.
 
Faktor terakhir yang menyebabkan pernikahan dibawah umur masih terjadi di masyarakat sasak adalah rendahnya pengetahuan dan kesadaran akan konsekuensi  hukum atas tindakan yang dilakukan baik laki-laki maupun perempuan. baik laki-laki maupun perempuan pada umumnyamasih belum menyadari pentingnya akta nikah, kecuali hanya untuk memudahkan pembuatan akta kelahiran anak mereka agar bisa sekolah. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran hukum ini terlihat nyata dalam kasus-kasus perceraian yang diketahui, dimana kebanyakan dari mereka hanyalah menggunakan cara-cara adat dan tidak melalui proses persidangan di pengadilan agama sehingga mereka tidak memegang surat akta cerai dan tidak memperoleh hak apapun. Biasanya para janda baru mengurus surat cerai saat akan menikah lagi secara tercatat di KUA. 

D. PROBLEMATIKA DAN DAMPAK PERNIKAHAN DINI

Kemajuan zaman sekarang ini semaakin canggih dan terus berkembang setiap harinya, membongkar berbagai dampak atau masalah yang timbul dari berbagai kegiatan yang merugikan (kekerasan pisik, kemiskinan, KDRT, kematian ibu dan bayi, psiikologi terganggu, dll) dikalangan masyarakat umum secara keseluruhan menuntut hak-hak dasar anak agar senantiasa mampu berkembang dan menikmati masa-masaanya sebagai anak/remaja sebelum memasuki duni pernikahan sebelum waktunya.
Bila dianalisis dampak negatif pernikahan dini lebih banyak dari pada damapak positifnya, untuk itu perlu adanya komitmen dari pemerintah dalam menekan angka pernikahan dini di Indonesia. Pernikahan dini bisa menurunkan Sumber Daya Manusia Indonesia karena terputusnya mereka untuk memeroleh pendidikan. Alhasil, kemiskinan semakin banyak dan beban Negara juga semakin menumpuk. Terlepas dari pro-kontra pernikahan dini disadari ataupun tidak pernikahan dini bisa member dampak yang negative, diantaranya:

1. Pendidikan Anak Terputus
 
Anak yang seharusnya menikmati masa-masa pendididikan namun kini terputus akibat perpindahan tanggung jawab sebagi seorang ibu ataupunsebagi seorang bapak atu kepala keluarga. Pernikahan dini menyebabkan anak putus sekolah ini berdampak pada rendahnya tingkat pengetahuan dan akses informasi pada anak, belum lagi kesiapan mental, organ repoduksinya yang belum siap secara matang. Berdasarkan pada data BPS RI 2011 menunjukkan bahwa di Provinsi NTB rata-rata lama sekolah perempuan selama 6.5 tahun dan NTB berada di peringkat ke-32 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.
 
2. Kemiskinan
 
Dua orang anak yang menikah pada usia yang belia/dini, cenderung belum memiliki penghasilan yang cukup atau bahkan belum bekerja. Hal inilah yang menyebabkan pernikahan dini rentan dengan kemiskinan. Dengan kasus perrnikahan dini ini, pada umumnya mempunyai produk domistik bruto yang rendah, membuat keluarga, masyarakat, bahkan Negara mengalami kesulitan untuk melepaskan dari jerat kemiskinan dan hal lain ini tentunya menyebabkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan yang rendah baik anak maupun keluarga dan lingkungannya.
 
Hal ini menjadikan kemiskinan terus diwariskan kepada generasinya kebawah, membuat semua orang kerepotan, apalagi pemerintah. Pemerintah yang dalam hal ini sudah mulai mensosialisasikan bahkan mengeluarkan berbagai peraturan untuk mencegah penikahan dini ini, salah satu contohnya adalah dari setiap masyarakat yang akan melaksanakan pernikahan harus datang ke KUA dan dinikahkaan secara geratis dan tidak menikahkan anak yang masih berada di bangku sekolah.
 
3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
 
Dominasi pasangan akibat kondisi psikis yang masih labil menyebabkan emosi sangat rentan terhadap kekerasan, sehingga bias berdampak pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3KB) NTB, T. Wismaningsih Drajadiah, mengatakan Sepanjang tahun 2014 lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 1249. Jumlah tersebut hanyalah yang diketahui pihaknya, namun bisa saja yang tidak terdeteksi lebih banyak lagi. “Masalah utamanya karena pernikahan dini” ungkapnya. Ditegaskannya, pernikahan dini yang marak terjadi di NTB menjadi faktor utama tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jenis kekerasan yang menimpa perempuan beraneka ragam, namun mayoritas adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDART). 
 
4. Dampak Biologis dan Psikologis Anak
 
Secara biologis organ-organ reproduksi anak yang baru menginjak akil baligh masih berada pada proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil dan melahirkan. Jika dipaksakan yang terjadi justru malah sebuah trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antar istri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan terhadap seorang anak.
 
Apabila sampai terjadi kehamilan pada usia di bawah usia 17 tahun maka akan meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Hal ini disebabkan organ reproduksi anak belum berkembang dengan baik dan panggul juga belum siap untuk melahirkan. Data dari UNPFA tahun 2003 memperlihatkan 15%-30% di antara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik, yaitu obstetric fistula . Selain itu juga meningkatkan risiko penyakit menular seksual dan penularan infeksi HIV.  Secara psikis anak belum siap dan belum mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan.
 
Di tingkat nasional, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Surya Chandra Surapaty menjelaskan dari sisi kesehatan. Dia mengatakan, leher rahim remaja perempuan masih sensitif sehingga jika dipaksakan hamil, berisiko menimbulkan kanker leher rahim di kemudian hari. Risiko kematian saat melahirkan juga besar pada usia muda. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 menunjukkan, 48 orang dari 1.000 remaja putri usia 15-19 tahun sudah melahirkan.
 
5. Kematian Ibu dan Anak
 
Saat anak yang masih bertumbuh mengalami proses kehamilan terjadi persaingan nutrisi dengan janin yang dikandungnya, sehingga berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, dapat disertai dengan anemia karena defisiensi nutrisi serta berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Didapatkan bahwa sekitar 14% bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur. Anak berisiko mengalami perlakuan salah dan atau penelantaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan dari pernikahan usia dini berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orangtua pula di usia dini.
 
Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Nusa Tenggara Barat (NTB), Wismaningsih Drajadiah, peningkatan IPM suatu daerah sangat erat dan banyak dipengaruhi angka harapan hidup ibu dan anak. Di NTB sendiri, kata dia, angka kematian ibu dan anak masih saja sering terjadi. Hal ini akibat pernikahan usia dini yang secara aturan memang diperbolehkan, tapi berdampak terhadap kehidupan keluarga, karena tidak dipersiapkan secara maksimal.

E. KESIMPULAN
 
Mahluk yang bernama manuisia ini memang tidak bisa lepas dari berbagai keinginan yang belum tercapai, walaupun sudah tercapai mesti akan tibul keinginan-keinginan baru utuk diraihnya kembali. Kalau tidak dibatasi atau tidak ada kontrol diri dalam meraihnya maka dia senantiasa akan membabi buta untuk mengapainya tanpa memikirkan dampak negatife yang akan merasukinya dan senantiasa mengrugikan banyak orang, sebagaimana halnya dengan pernikahan dini.
Jika ini terus dibiarkan maka masyarakat maupun pemerintah seringkali direpotkan olehnya (pernikahan dini) karena dampak yang ditimbulkan bersifat berkepanjangan yang dialami oleh keluarga. Kekerasan Dalam Keluarga (KDRT), kemiskinan, kematian ibu dan bayi yang tinggi, ini merupakan sedikit contoh yang membuat segenap pemerintah maupun masyarakat dibuat repot olehnya, hanya gara-gara memaksakan kehendak yang belum waktunya untuk menikah. Yang menikah pada usia dewasa pun bahkan sudah mengalami usia renta masih saja kita temukan kekerasan dalam rumah tangga, apalagi pada usia belia yang emosinya belum mampu ia cerna dengan matang dan sempurna.
 
Nikah memang diharuskan dalam islam namun ada beberapa hal yang harus dipersiapkan yaitu keriapan mental, pisik maupun psikis, harta kekayaan. Jangan hanya karena mengedepankan keinginan sesaat yang tak mampu dibanyangkan kemudian dijalankan keinginannya itu, maka dampaknya  sangat besar. Untuk itulah kita sebagai manusia senantiasa selalu mengukur dan terukur dalam setiap tindakan apa yang kita perbuat nantinya, agar kita tidak merepotkan banyakorang.

 
* Idham Khalid adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2016
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama, 1997: 18
 
Dwi Rifiani, Pernikahan Dini Dalam Perspektif Hukum Islam (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Malang: 2006) hal. 131
 
http://www.bps.go.id/?news.
 
http://print.kompas.com/baca/2015/06/20/Pernikahan-Dini-Memicu-Masalah
 
http://www.radarlombok.co.id/ntb-tertinggi-pernikahan-dini-se-indonesia.html
 
http://fajri-untuksumbawa.blogspot.co.id/2015/06/penundaan-usia-perkawinan-di-ntb-untuk.html
 
http://imfatul-tria-fkm13.web.unair.ac.id/artikel_detail-92162-sosial%20kesehatan-Pernikahan%20dini%20sebagai%20masalah%20sosialkesehatan%20masyarakat%20Indonesia.html
 
http://www.republika.co.id/berita/koran/hukum-koran/15/10/09/nvxy8v1-angka-pernikahan-dini-di-ntb-tinggi
 
http://www.smallcrab.com/others/1278-pernikahan-usia-dini-dan-permasalahannya

Keputusan ijtima’ ‘ulama Komisi Fatwa Se Indonesia III 2009
 
Mustafa Masyhur, Qudwah di jalan Dakwah, terjemah oleh Ali Hasan (Jakarta: Citra Islam Perss, 1999), hlm. 71.
 
QS. At-Thalaq (65):4

Supardi, Dasar-dasar Ilmu Sosial (Yogyakarta: Ombak, 2011), hlm. 79
   




No comments

Powered by Blogger.