Kemiskinan & Tunawisma Dalam Pandangan Islam

Kemiskinan & Tunawisma Dalam Pandangan Islam 
Muhammad Nurul Anwar* 

Kemiskinan & Tunawisma Dalam Pandangan Islam
https://i1.wp.com/satuislam.org/wp-content/uploads/2017/06/Rintihan-Batin-Tuna-Wisma-di-Malam-Lebaran.jpg?resize=640%2C330&ssl=1

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi atau yang bisa disebut dengan istilah globalisasi, dengan segala yang dijanjikan telah membawa dampak berarti pada perubahan sendi-sendi etika umat Islam. Era globalisasi memiliki potensi yang cukup memengaruhi untuk merubah hampir seluruh sistem kehidupan masyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan di bidang pertahanan dan keamanan.
 
Sejalan dengan hal di atas, tingkat kemiskinan dan kesengsaraan umat Islam semakin meningkat, yang berakses bagi timbulnya berbagai problem sosial dan keagamaan. Berbagai penyakit masyarakat seperti pencurian, perampokan, penodongan, korupsi, pelanggaran HAM dan sejenisnya merupakan problem mendasar umat Islam saat ini. Kemiskinan dan kesenjangan sosial juga merupakan salah satu dampak yang cukup besar dari adanya globalisasi. Sayangnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dibarengi dengan perkembangan dan kemajuan dalam bidang etika (moral). Persepsi tentang moral semakin menurun sehingga kebanyakan mansia telah terpasung “tirani kepentingan materi semata”.  Ekses yang sangat mendasar dari problem tersebut adalah timbulnya pendangkalan iman, sebagaimana disinyalir dalam sebuah ungkapan “hampir saja kefakiran itu menjadi kekafiran”.
 
Kesejahteraan merupakan salah satu tujuan yang menjadi kehendak setiap manusia, baik dalam konteks individual maupun kelompok, karena keaadan ini merupakan keadaan dimana  segala bentuk kebutuhan mampu dipenuhi baik kebutuhan material maupun spiritual. Namun dengan berbagai latar belakang yang dimiliki individu maupun kelompok, kesejahteraan menjadi sulit untuk di dapatkan. Sering kali, problem kesejahteraan ini menimbulkan dampak yang sistemik dalam struktur kehidupan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan yang tidak mampu dilakukan menjadi sebuah jurang yang mengantarkan individu dalam garis kemiskinan yang pada akhirnya menimbulkan problem-problem sosial yang lainnya.
 
Kemiskinan adalah kata lain dari ketidakmampuan orang dalam memperoleh kesejahteraan. Selanjutnya kemiskinan melahirkan banyak masalah sosial, salah satunya adalah gelandangan atau tunawisma. Dalam pengertian yang sederhana, gelandangan atau tunawisma adalah mereka yang tidak mempu memenuhi kebutuhan primer papan sehingga memaksanya hidup di jalanan, tidur di emper-emper pertokoan, kolong jembatan, lahan kosong, sepanjang jalur kereta api dan lain sebagainya. Dalam perspektif positifis, gelandangan merupakan satu bentuk patologi sosial yang harus disembuhkan. Pandangan ini menimbulkan persepsi bahwa gelandangan adalah sekelompok orang yang selalu negatif dan harus dijauhi. Namun, ketika melihat dalam kaca mata yang lebih kritis, akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang sedikit berbeda. Misalnya, bagaimanakan gelandangan muncul? Apakah karena kemalasan mereka sehingga mereka tidak bisa memenuhi kebutuhannya atau karena kegagalan sistem pemerintahan sehingga memaksa dan meminggirkan mereka dalam keaadan tersebut.
 
Penyandang  masalah  kesejahteraan  di  Indonesia  hingga  saat  ini  digolongkan  ke  dalam  22  jenis,  2 diantaranya adalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) yang   sejak dulu hingga sekarang tetap menjadi perhatian serius oleh pemerintah pusat maupun daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota). Hal ini disebabkan banyaknya permasalahan turunan yang ditimbulkan terutama sekali berkaitan dengan harkat dan martabat manusia  sebagai  makhluk  ciptaan  Tuhan  yang  paling  sempurna  dan  mempunyai  kedudukan  istimewa dibanding dengan makhluk lainnya. Sebagian dari mereka memperoleh penghidupan dari mengemis, mengamen, mengasong dan memulung.
 
Islam sebenarnya sudah membahas jauh-jauh hari terkait bagaimana kemiskinan mampu mempengaruhi tatanan sosial masyaratak, termasuk dalam hal gelandangan ini. Secara implisit dalam ayat yang menerakangkan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat/ shodaqoh sebenarnya sudah tercantum di dalamnya, faqir, miskin dan orang-orang yang mempunyai hutang. Ummat Islam seharunya memfokuskan pengentasan kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan jangan hanya dengan memaknai ayat dengan leterlek, namun juga perlu adanya inovasi dalam memaknai sebuah ayat. Gelandangan atau tunawisma seharunya menjadi perhatian khusus dalam hal ini. Pemanfaatan zakat tidak hanya dialokasiakan dalam hal-hal yang sifatnya konsumtif, namun juga dalam hal-hal yang produktif.
 
Dalam ceramahnya, KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Mus mengatakan: “karena Indonesia ini mayoritas adalah ummat Islam, kalo Indonesia ini maju dan berjaya maka orang Islamlah yang pertama-tama harus bersyukur, tapi kalau terpuruk seperti sekarang ummat Islamlah yang paling bertanggung jawab”. Dari pernyataan tersebut dapat jelas dipahami bahwa, Islam dalam hal ini ummatnya, berperan penting dalam upaya penanggulangan dan pengentasan kemiskinan dan segala macam problematika sosial lainnya.  Agama, sebagai the way of life idealnya mampu mengcover segala bentuk problematika yang dialami oleh para gelandangan, namun sering kali gelandangan hanya dijadikan ajang eksploitasi oleh sebagian besar kalangan, dijadikan alat untuk pamer ketika sebagian kelompok melakukan aksi sosial yang hanya insidental dan tidak bersifat continue. Islam dalam hal ini pemeluknya, harus sudah mulai berperan aktif dalam upaya mengentaskan gelandangan dan tunawisma ini dari garis kemiskinan untuk mengembalikan harkat dan martabatnya.
 
Al-Qur’an membedakan pengertian antara fakir dan miskin. Orang miskin adalah mereka yang tidak atau kurang memiliki potensi untuk mencukupi kebutuhan hidup yang paling primer, yaitu makan dan minum, sedangkan orang fakir adalah mereka yang memiliki potensi yang belum teraktualisasikan untuk mencukupi kebutuhan hidup terutama yang bersifat primer. Kebutuhan primer ini juga bisa dimaknai sebagai kebutuhan papan atau tempat tinggal. Jadi jelas bahwa gelandangan atau tuna wisma juga merupakan bagian dari tanggung jawab ummat Islam dalam rangka mebantu memenuhi kebutuhannya. Ada beberapa pandangan dalam kaitannya dengan kemiskinan, pandangan-pandangan ini dikemukakan oleh golongan-golongan yang berbeda yang tentunya mempunyai landasan dan dasar berfikir yang berbeda pula. Pandangan-pandangan dari golongan-golongan tersebut antara lain:
 
1. Pandangan Golongan yang Mensucikan Kemiskinan.
 
Beberapa orang mempunyai keyakinan bahwa kemiskinan adalah sebuah anugrah yang diberikan tuhan dan ia suci, mereka adalah orang yang secara sengaja menjauhi dari sifat kemewahan, golongan ini didominasi oleh kaum zuhud, kaum sufi dan pendeta.
 
Mereka beranggapan bahwa kemiskinan bukanlah suatu keburukan yang perlu diatasi, dan bukan pula suatu problem yang harus ditemukan problem solver-nya. Bahkan mereka beranggapan bahwa kemiskinan aalah suatu karunia dan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada Makhluk-Nya yang Ia cintai agar hatinya selalu tertuju kepada Allah dan Akhirat, membenci dunia, memurnikan hati dalam berhubungan dengan Allah, serta dapat menyayangi sesama manusia. Mereka berpendapat bahwa kekayaan akan melalaikan mereka dari tanggung jawabnya dalam menyembah Allah dan lebih pada mendekatkan pada kemaksiatan termasuk sombong, ria, lalai dan menimbulkan kesenjangan sosial.
 
Dari kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa alam semesta ini akan rusak dan harta kekayaan merupakan bencana dan cobaan. Karena itu suatu keharusan bagi orang yang berakal untuk memperingan dalam mencari jalan hidup dengan segala kemewahannya, dan tidak perlu berusaha bekerja keras kecuali sekedar untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya seperti makan dan minum.
 
Salah satu motivasi teologi dari golongan ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang artinya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
 
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin serta kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.”
 
2. Pandangan Golongan Jabariyah.
 
Sedikit berbeda dengan golongan yang pertama, golongan jabariyah ini memandang bahwa kemiskinan adalah sebuah bencana dan ujian. Di samping itu, mereka juga memandang bahwa kemiskina adalah sebuah taqdir Tuhan yang tidak membutuhkan obat atau dokter untuk mengatasinya. Kemiskinan atau kekayaan adalah kehendak tuhan, kalau tuhan menghendaki seseorang untuk menjadi miskin maka ia akan miskin, sebaliknya jika Tuhan menghendaki seseorang untuk menjadi kaya maka ia akan menjadi kaya.
 
Konsep yang mereka kemukakan untuk mengatasi problem kemiskinan ini hanya sebatas memberikan nasihat kepada orang-orang miskin agar ridlo terhadap taqdir Tuhan, sabar dalam ujian dan merasa puas akan segala pemberian-Nya. Rasa puas menurut pandangan mereka adalah rela terhadap apa yang menimpa dirinya bagaimanapun adanya.
 
Golongan jabariyah ini tidak memperdulikan orang-orang kaya dan sikap mereka dalam memboroskan dan menghambur-hamburkan uang dan harta mereka. Karena itu, golongan jabariyah tidak memberi nasihat kepada orang miskim dengan ucapan: “Ini adalah pemberian Allah kepadamu, oleh karena itu terimalah dia! Dan janganlah engkau meminta lebih dari itu. Dan janganlah engkau berusaha mengubahnya.
 
3. Pandangan Golongan yang Mengajak Berbuat Kebijakan Secara Pribadi
 
Pandangan golongan ketiga ini secara garis besar sama dengan pandangan golongan kedua. Mereka berpendirian bahwa kemiskinan itu suatu bencana, juga suatu ujian dan cobaan. Tapi, mereka perpendirian bahwa kemiskinan itu merupakan problem yang harus diatasi dan dipecahkan. Hanya, cara pemecahannya tidak hanya sebatas memberi nasihat kepada orang miskin agar mereka bersabar, ridla dan merasa puas terhadap apa yang mereka terima, sebagaimana pendirian golongan jabariyah. Tetapi, mereka harus maju selangkah di samping memberi nasihat kepada orang-orang miskin juga menganjurkan agar orang-orang kaya mau berkorban, berbuat baik, membantu orang-orang miskin dan menggembirakan mereka dengan harapan-harapan dan janji-janji yang baik, dengan ucapan: “Akan mendapat balasan pahala di sisi Allah bagi orang-orang yang mau melaksanakan ajaran baik ini,”. Di samping itu, juga diberi ancaman yang menyedihkan, dengan peringatan: “Akan menderita adzab yang pedih di sisi Allah, bagi orang-orang kaya yang acuh terhadap kaum faqir miskin.
 
Pandangan ini sebenarnya sudah dikenal pada agama-agama terdahulu sebelum Islam, yaitu pandangan yang berpegang pada “kebajikan individual” dan “sedekah sukarela” untuk mengatasi kemiskinan, tanpa memandang golongan yang menganggap suci dan golongan jabariyah.
 
4. Pandangan Golongan Kapitalis (Ra’sumaliyyah)
 
Kaum kapitalisme memandang bahwa kemiskinan termasuk salah satu bahaya kehidupan dan salah satu problematikanya. Penanggulanganpun merupakan tanggung jawab si miskin sendiri, atau memang kemiskinan itu sudah menjadi takdirnya. Kaum kapitalisme memandang kemiskinan bukanlah suatu beban ummat, karena setiap dan negara, karena setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri-sendiri. Ia bebas berbuat dan bebas mempergunakan hartanya.
 
Pelorpor golongan ini adalah karun. Ia adalah kaum Nabi Musa yang kemudian menentang kepadanya. Allah SWT telah memberikan karun harta yang berlimpah ruah, yang kuncinya berapada pada golongan yang kuat. Tatkala para pengikutnya memberikan nasihat kepadanya dengan ucapan: “Carilah apa-apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk kebahagiaan akhirat, dan kamu jangan melupakan bagianmu di dunia, serta berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan jangan kamu mengadakan kerusakan di dunia, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.”  Kemudian karun menjawab dengan lantang dan tegas, sebagaimana yang telah dikisahkan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya kekayaan yang telah diberikan kepadamu adalah hasil kemampuan dan usahaku sendiri”.
 
Pendirian semacam inilah yang kemudian menjadi cikal bakal golongan kapitalisme. Semasa mudanya mereka menunjukan semangat kerja keras, individualisti, tidak menaruh belas kasih terhadap yang lemah, tidak menghargai wanita dan tidak mau memandang dengan kacamata ,
 
5. Pandangan Golongan Sosialisme Marxisme (Isytirakiyyah Marxiyyah)
 
Golongan ini berpendapat bahwa sesungguhnya melenyapkan kemiskinan dan berusaha menyadarkan orang-orang miskin adalah suatu hal yang tidak mungkin tercapai, kecuali apabila golongan Borjuis beserta sumber-sumbernya dimusnahkan terlebi dahulu. Kemudian sebagai tindak lanjutnya, harus dibentuk kelas-kelas lain, guna menghadapi mereka sambil menabur benih-benih kedengkian dan kemarahan kepada mereka, serta menyalakan api pertentangan antara kelas yang satu dengan kelas yang lainnya, yang berakhir dengan kemenangan golongan mayoritas, yaitu kelas Buruuh yang mereka namakan sebagai ploretar.
 
Pandangan ini adalah pandangan yang menyeru pada Komunisme dan Sosialisme Revolusioner. Di sana ada suatu nilai yang disepakati bersama di samping adanya pertentangan-pertentangan yang berkecamuk antara sosialisme secara keseluruhan baik yang ekstrem maupun yang moderat. Mereka sama-sama memandang adanya hak milik individu dan berusaha untuk memusnahkannya, mereka berpendirian bahwa hak milik individu adalah sumber dari segala bencana, sekalipun cara dan jalan-jalan memeranginya berbeda-beda. Ada yang menempuh cara demokrasi dan ada yang menempuh dengan cara revolusioner.
 
George Bourgane dan Bayer Rampier dalam bukunya yang berjudul “Inilah Sosialisme” menyatakan, “Sesungguhnya Sosialisme itu menghargai kemerdekaan individu dan menghormati hak-hak perorangan”. Tetapi, golongan lain menjawab, “Tidak demikian, bahkan Sosialisme itu akan memonopoli sumber-sumber produksi rakyat, dan berusaha menegakkan kokohnya kediktatoran kelas buruh”. 
 
Secara umum Islam menolak pandangan-pandangan dari golongan-golongan tersebut di atas. Islam memandang kemiskinan dalam hal ini penyebab dan solusinya, tidak bisa dipandang secaara parsial seperti yang dikemukakan oleh lima golongan di atas. Islam memandang kemiskinan adalah suatu problem yang harus dipandang secara komprehensif. Walaupun Islam tidak sepakat dengan golongan-golongan tersebut, namun ketika sisi-sisi positif dari pandangan golongan-golongan tersebut dapat diakomodir dan diaplikasikan dengan baik, ini bisa menjadi solisi yang baik guna memandang kemiskinan.
 
Secara umum, Islam sudah memberikan solusi-solusi terkait problem sosial kemiskinan ini, antaralain:
 
1. Bekerja, sebagaiamana firman Allah, sebagai berikut:

 هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
 
Etos kerja dalam Islam adalaha monodualisme kodrati manusia sebagai basyar dan insan, serta monodualisme fungsi manusia sebagai ‘abdun dan khalifah. Monodualisme etos kerja itu tercermin dalam kesunggugahnnya melakukan ijtihad berfikir kreatif untuk mencari solusi dan alternatif sebagai terobosan baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi, didasarkan pada kepatuhannya pada hukum alam, hukum akal sehat dan hukum moral. Etos kerja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya yang halal dan berkah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan kemanusiaan.  Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an sebagai berikut:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
 
Artinya:  Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas : 77)
 
2. Mencukupi keluarga yang lemah, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
 
Artinya: dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu Termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)  di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
 
3. Zakat, sebagimana firman Allah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
 
Menurut ajaran Islam, merupakan kewajiban bagi seluruh manusia yang kaya untuk memberikan sebagian dari kekayaan mereka bagi kesejahteraan kaum faqir miskin. Al-Qur’an memperingatkan agar pemberian tersebut tanpa mengharapkan imbalan atau ganjaran tertentu di dunia melainkan semata-mata untuk memperoleh keridloan Tuhan dan keselamatan di akhirat. Istilah dalam al-Qur’an yang paling sering disebut berualang-ulang dalam konteks pemberian untuk kesejahteraan kaum faqir miskin dan mereka yang membutuhkan adalah infaq (pemberian sukarela), ihsan (kebajikan), zakat (hak orang miskin), shodaqoh (amal/ derma) dan it’am (memberi makan). Di antara hal-hal tersebut, maka zakat mencerminkan pembayaran yang bersifat pasti dan diperintahkan; merupakan istilah lain berkenaan dengan pertolongan dan pembayaran yang disengaja. Memberi makanan kepada orang yang kelaparan selalu ditekankan berulang-ulang sedemikian banyaknya sehingga penolakan terhadap anak yatim dan mengabaikan pemberian makanan pada kaum miskin adalah sama dengan mendurhakai agama.
 
4. Dana bantuan perbendaharaan Islam dari berbagai sumber.
 
5. Keharusan memenuhi hak-hak selain zakat.
 
6. Sedekah sukarela dan kebijakan individu
 
Islam sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT, merupakan agama yang sempurna, agama yang mampu menjamin apapun kebutuhan ummatnya, hanya saja seringkali ummat Islam sendiri kurang mampu memahami dan lebih lagi mengimplementasikan ajaran dan juga nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam tersebut dalam kesehariannya, sehingga segala bentuk problem yang ada, termasuk problem sosial menjadi asing dalam penyelesaiannya. Yang menjadi pekerjaan rumah selanjutnya agi ummat Islam adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kesehariannya, dalam rangka memperbaiki tatanan sosial, termasuk dalam pengentasan kesejahteraan gelandangan dan tunawisma. Secara lebih luas, agama manapun idealnya mampu menjadi guide untuk ummatnya, tidak hanya Islam saja. Karena pada hakikatnya semua agama juga mengemban misi kemanusian yang tidak jauh berbeda antara satu agama dengan agama lainnya. Agama tidak hanya menjadi sebuah dogma dan ritus semata, namun mampu menjadi jawaban atas segala permsalahan dan keluh kesah ummatnya.
 
Selanjutnya, ada dua faktor utama yang melatarbelakangi mengapa ekonomi umma Islam tidak banyak mengalami perubahan secara mendasar.
 
Pertama, faktor kultural. Bahwa budaya kita masih tergolong soft culture. Sifat-sifat kelemahan dalam mentalitas mayoritas orang Indonesia masih sulit dihilangkan, seperti: suka meremehkan mutu, suka menerabas (jalan pintas), tidak percaya pada diri sendiri, kurang disiplin, dan suka mengabaikan tanggung jawab. Belakangan ini, tampaknya generasi muda kita terjangkit “demam handphone”, suka yang “instan-instan”, dan berperilaku konsumtif. Orientasi generasi muda kita sekarang ini terjebak ke dalam orientasi kekinian, bukan orientasi masa depan. Selain itu, cara pandang masyarakat kita terhadap agama masih sempit dan rigid. Agama lebih dipahami sebagai ritual, bukan makna spiritnya. Dengan kata lain, agama belum dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata sehari-hari, tetapi masih dalam agama simbolik. Kesalehannya masih bersifat individu, belum ke arah terwujudnya “kesalehan sosial”.  Bila kesalehan individu bersifat vertikal dan ke dalam (hubungan hamba dengan al-khaliq), maka kesalehan sosial bersifat horizontal dan keluar (hubungan hamba dengan sesamanya).
 
Kedua, faktor struktural. Bahwa perekonomian indonesia hingga saat ini belum mencerminkan struktur ekonomi yang berkeadilan, sebagaimana yang diamanatkan di dalam UUD 1945. Faktor-faktor produksi yang penting (modal misalnya) masih dikuasai oleh segelintir orang, parahnya, hal itu diperoleh dengan cara yang tidak sehat. Ibarat sebuah piramida, idealnya ekonomi kelas menengah dapat berkembang dan jumlahnya dapat diperbanyak. Strateginya antara lain memberikan kesempatan yang luas kepada kelompok pribumu (kelas bawah) dan memberdayakannya seperti kebijakan yang dilakukan oleh Malaysia. Dengan demikian, pada gilirannya nanti mereka dengan sendirinya mampu melakukan “mobilitas vertikal” untuk naik kelas. Ketika mekanisme pasar bergerak cepat, kelompok itu dapat segera menyesuaikannya (informasi pasar, akses modal, dll), karena infrastruktur yang mendukung untuk itu diberi peluang dan dijamin oleh pemerintah.
 
Atas dasar itu, penulis berasumsi ada relevansi antara nila-nilai ajaran agama (budaya) dengan perilaku dan kemajuan ekonomi. Dan yang tak kalah pentingnya, nilai-nilai budaya (etos kerja) itu dapat berjalan ketika ada infrastruktur, lembaga atau sistem yang mendukungnya. Jika dikaji pada sumbernya (al-Qur’an dan al-Hadits) pada perinsipnya Islam mendorong ummatnya untuk bekerja keras secara bermoral. Dengan istilah lain, Islam memberikan dorongan dan landasan etik, moral dan spiritual dalam terwujudnya wirausahawan muslim yang unggul. Oleh karena itu, spirit al-Qur’an dan al-Hadits perlu kita kaji secara terus menerus. Disamping itu, kita perlu menemukan kembali “elan vital” wirausaha yang telah hilang dari para saudagar mulim terdahulu, yakni mereka yang telah menyebarkan Islam ke Nusantara, kita juga dapat menarik pelajaran dari para sahabat yang memiliki etos wira usaha. Tak terkecuali kita juga patut meneladani Nabi Muhammad SAW, sebagai seorang pedagang yang sukses dan jujur.

*Muhammad Nurul Anwar merupakan mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun ajaran 2015-2017, mengambil konsentrasi Pekerjaan Sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardawy, Muhammad Yusuf. Konsepsi Islam dalam Mengentaskan Kemiskinan. terj. Umar Fanany. Surabaya: Bina Ilmu Ofset, 1996.
 
Ibrahim, Sa’ad. Kemiskinan Dalam Perspektif al-Qur’an. Malang : UIN Maliki Pers, 2007.
 
Saroni, Mohamad. Orang Miskin Bukan Orang Bodoh. Jogjakarta : Bahtera Buku, 2011.
 
Wargadinata, Wildana. Islam & Pengentasan Kemiskinan. Malang : UIN Maliki Press, 2001.
 
Saifullah, M Jakfar Puteh, Dakwah Tekstual dan Kontekstual; Peran dan Fungsinya Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat, Yogyakarta: AK Group, 2006
 
Asy’ari, Musa, Dialektika Islam: Etos Kerja dan Kemiskinan, Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI), 2006.
 
Ahmad, Ziauddin, Al-Qur’an: Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan, Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998
 
Yunus, Muh,  Islam dan Kewirausahaan Inovatif, Malang: UIN Malang Press, 2008

No comments

Powered by Blogger.