EPISTEMOLOGI EMPIRISME / INDUKTIVISME (FRANCIS BACON) DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN ILMU-ILMU SOSIAL

EPISTEMOLOGI EMPIRISME / INDUKTIVISME (FRANCIS BACON) DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN ILMU-ILMU SOSIAL
 
EPISTEMOLOGI EMPIRISME / INDUKTIVISME (FRANCIS BACON) DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGEMBANGAN ILMU-ILMU SOSIAL
A. Pendahuluan 
Seorang filosof yang dikenal sebagai pencetus pemikiran empirisme yang mendasari sains hingga saat ini.adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.Tulisan dan pemikiran Bacon mempengaruhi metodologi sains yang menitikberatkan pada eksperimen.Francis Bacon bukanlah orang pertama yang menemukan arti kegunaan penyimpulan akliah secara induktif, dan juga bukan dia orang pertama yang memahami keuntungan-keuntungan yang mungkin diraih oleh masyarakat pengembangan ilmu pengetahuan.Tetapi, tak ada orang sebelum Bacon yang pernah menerbitkan dan menyebarkan gagasan seluas itu dan sesemangat itu.Lebih dari itu, sebagian karena Bacon seorang penulis yang begitu bagus, dan sebagian karena kemasyhurannya selaku politikus terkemuka, sikap Bacon terhadap ilmu pengetahuan betul-betul punya makna besar.
 
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan mengenai pemikiran Francis Bacon dan Implikasinya bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial. Namun sebelum itu terlebih dahulu akan dijelaskan secara singkat : (1) biografi Francis Bacon, (2) Pemikiran filsafatnya, (3) analisis epistimologi empirisme Francis Bacon, serta (4) Implikasi bagi pengembangan ilmu sosial dan pekerjaan social.
 
B. Biografi Francis Bacon 
Francis Bacon (1561-1628) dikenal sebagai Bapak metode Induktif (empiris-eksperimental). Ia belajar di Cambridge dalam usia yang sangat muda. Setelah kuliah, ia menjadi diplomat, kemudian menjadi anggota parlemen. Pada usia 40 tahun, ia memulai menulis filsafat. Ia mendapat gelar bangsawan dan pernah member kuliah tentang Aristoteles di Universitas Paris. Di masa akhir hidupnya, Bacon melakukan suatu percobaan untuk mengawetkan makanan dengan menggunakan salju. Akibat percobaan tersebut, ia menderita brokitis yang kemudian merenggut nyawanya.
London Empirisme Francis Bacon "Metode Bacon" Tahun 1573 Bacon masuk di Trinity College di Cambridge, yaitu pada saat ia menginjak usia 12 tahun. Tetapi baru belajar selama 3 tahun, ia keluar begitu saja tanpa mendapat gelar apa pun. Mulai umur 16 tahun dia bekerja sebentar di staf Kedubes Inggris di Paris. Tetapi begitu umurnya masuk 18 tahun sang ayah mendadak meninggal dengan hanya mewariskannya uang sedikit.
 
Karena hal tersebut, Bacon belajar hukum di Gray's Inn pada tahun 1579 dan di umur 21 tahun dia jadi pengacara. Trinity College Setelah Bacon menjadi pengacara, ia memulai karier politiknya. Pada umur 23 tahun dia terpilih menjadi anggota Majelis Rendah.Namun Ratu Elizabeth menolak pengangkatan Bacon atas kedudukan yang penting dan menguntungkan itu, walaupun Bacon memiliki sanak famili dan kerabat tingkat atas serta memiliki kecerdasan yang menonjol. Salah satu alasan Ratu Elizabeth menolak pengangkatan Bacon adalah karena keberanian Bacon menentang suatu rancangan pajak di parlemen yang dengan gigih disokong oleh sang Ratu. Bacon merupakan sahabat sekaligus penasihat dari Pangeran Essex, seorang bangsawan muda yang populer dan punya ambisi politik besar. Sebaliknya, Pangeran Essex memiliki ambisi yang luar biasa, ia meminta Bacon menyusun rencana untuk melakukan kudeta untuk menggulingkan Ratu Elizabeth. Namun Bacon menasihati Pangeran Essex agar tetap setia kepada Ratu.Walaupun telah dinasihati oleh Bacon, Pangeran Essex tetap nekad melanjutkan kudetanya. Dan ternyata kudeta tersebut gagal dan Bacon memegang peranan dalam proses penuntutan sang Pangeran atas tuduhan pengkhianatan. Pangeran Essex kemudian dihukum mati dengan dipancung kepalanya.Keseluruhan peristiwa ini menimbulkan kesan buruk dari publik terhadap Bacon.
 
Setelah Ratu Elizabeth tutup usia tahun pada 1603, Bacon menjadi penasihat pengganti Ratu Elizabeth, Raja James I. Raja James I tidak selalu mendengarkan nasihat Bacon, namun Raja James I menghormatinya. Dalam masa pemerintahan James I, Bacon mengalami kemajuan yang pesat pada kariernya di kalangan pemerintahan. Pada tahun 1607, Bacon menjadi konsultan umum bidang hukum dan tahun 1613 ia menjadi jaksa agung. Lalu tahun 1618 ia ditunjuk jadi ketua Majelis Tinggi. Pada tahun 1618 itu juga Bacon memperoleh gelar "Baron" dan pada tahun 1621, Bacon dinobatkan lagi menjadi "Viscount", satu gelar kebangsawanan di atas "Baron". Sebagai seorang hakim Bacon pernah menerima suap dari tertuduh.
 
Meskipun hal seperti ini cukup umum terjadi saat itu, namun tetap merupakan perbuatan terlarang.Lawan-lawan politik Bacon di parlemen tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendepak Bacon dari kursinya. Bacon mengaku kesalahannya dan dijebloskan di penjara yang terletak di "Tower of London," menara kota London. Bukan hanya itu, Bacon pun harus membayar denda yang cukup besar jumlahnya. Bacon juga dilarang bekerja di kantor pemerintahan selama-lamanya. Raja segera membebaskan Bacon dari penjara dan membebaskan pula beban dendanya.Tetapi, dengan kejadian ini tamatlah riwayat politik Bacon.
 
Orang-orang yang dituduh biasanya akan menyangkalnya, namun Bacon melakukan sebaliknya. Komentar Bacon dalam pengakuannya berbeda.Dia bilang, "Saya adalah hakim terjujur di Inggris selama lima puluh tahun, dan saya tukang ngomel dan tukang kritik yang terpolos di parlemen Inggris selama 200 tahun."Meskipun dia seorang Inggris yang setia, Bacon punya pandangan berjangka jauh melampaui batas negerinya. Dia membedakan 3 jenis ambisi: Pertama, mereka yang berselera meluaskan kekuasaannya di negerinya sendiri, suatu selera yang vulgar dan tak bermutu. Tetapi, jika orang mencoba mendirikan dan meluaskan kekuasaan dan dominasi terhadap umat manusia di seluruh jagad, ambisinya ini tak salah lagi lebih bijak dari kedua ambisi yang disebut duluan.Kedua, ialah mereka yang bekerja meluaskan kekuasaan atas negerinya sendiri dan penguasaannya atas penduduk.
 
Ini tentu lebih bermutu meskipun kurang baik. Bacon juga menghindari 4 idola yang membatasi kita untuk menerima pengetahuan yaitu: Keempat, yaitu terlalu terpesona terhadap satu teori sehingga tidak mengkritisinya. Pertama, yaitu berasal dari kata tribe, yaitu halangan yang berasal dari manusia itu sendiri.Kedua, yaitu berasal dari kata specus.Idola ini ada pada sudut pandang tiap-tiap individu yang berasal dari pendidikan, kebiasaan dan lain-lain.Ketiga, yaitu fori adalah pasar yang berarti perbincangan yang tidak bermakna seperti orang di pasar.idola tribus idola specus idola fori idola theatri Setelah melepaskan diri dari 4 idola kita harus melakukan penyelidikan dalam 3 tahap yaitu: Pertama, yaitu mengumpulkan sebanyak mungkin data yang ada di pengalaman kita. Kedua, yaitu menyaring dan membuang bagian- bagian yang tidak diperlukan.Ketiga, yaitu menyimpulkan data-data yang ada ke dalam kesimpulan umum dan membuat teori baru.
 
C. Pokok-pokok pemikiran Filsafat Francis Bacon
 
Karya pertamanya adalah buku yang berjudul Essays, muncul tahun1597 dan sedikit demi sedikit diterbitkan lebih luas. Essays ini ditulis denganpadat dan gaya luar biasa bagus, mengandung kekayaan mendalam, bukan saja dalam masalah politik melainkan juga menyangkut hal ihwal pribadi. Beberapa contoh yang khas misalnya pandangannya tentang manusia usia muda dan usia lanjut.
 
Tulisan Bacon terpenting adalah yang menyangkut falsafah ilmu pengetahuan. Dia merencanakan suatu kerja besar Instauratio Magna atau Great Renewal dalam enam bagian. Bagian pertama dimaksud untuk meninjau kembali keadaan ilmu pengetahuan kita. Bagian kedua menjabarkan sistem baru penelaahan ilmu. Bagian ketiga berisikan kumpulan data empiris, Bagian keempat berisi ilustrasi sistem baru ilmiahnya dalam praktek. Bagian kelima menyuguhkan kesimpulan sementara. Dan bagian keenam suatu  sintesa ilmu pengetahuan yang diperoleh dari metode barunya. Tidaklah mengherankan, skema raksasa tersebut menjadi suatu pekerjaan paling ambisius yang sejak jaman Aristoteles– tak pernah terselesaikan. Tetapi, buku The n Advancement of Learning (1605) dan Novum Organum (1620) dapat dianggap sebagai penyelesaian kedua bagian dari kerja raksasanya.
 
Novum Organum atau New Instrument adalah buku Bacon yang terpenting. Buku ini pada dasarnya merupakan pernyataan pengukuhan untuk penerimaan metode empiris tentang penyelidikan. Praktek ilmiah yang saat itu bertumpu sepenuhnya pada logika deduktif Aristoteles dipandang tidak ada gunanya, merosot, dan absurd. Karena itu diperlukan metode baru penelaahan, yaitu suatu metode induktif Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu titik tempat bertolak dan mengambil kesimpulan darinya, tetapi ilmu pengetahuan adalah sesuatu tempat sampai ke tujuan.
 
Untuk memahami dunia ini, pertama orang mesti “mengamati”nya. Pertama, kumpulkan fakta-fakta. Kemudian, ambil kesimpulan dari fakta-fakta itu dengan cara argumentasi induktif yang logis. Meskipun para ilmuwan tidak mengikuti metode induktif Bacon dalam semua segi, tetapi ide umumnya yang diutarakannya dalam penelitian dan percobaan penting yang ruwet menjadi daya dorong dari metode yang digunakan oleh para ilmuwan sejak saat itu.
 
Buku terakhir Bacon adalah The New Atlantis, sebuah penjelasan tentang negeri utopis terletak di sebuah pulau khayalan di Pasifik. Meskipun pokok cerita di ilhami oleh Utopia Sir Thomas Moore, keseluruhan pokok masalah yang terdapat dalam buku Bacon sepenuhnya berbeda. Dalam buku Bacon, kemakmuran dan keadilan dalam negara idealnya tergantung pada dan hasil langsung dari hasil pemusatan penyelidikan ilmiah. Bacon memberitahu pada pembacanya bahwa penggunaan intelegensia dalam penyelidikan ilmiah dapat membuat Eropa makmur danbahagia seperti halnya penduduk yang hidup di pulau khayalan itu.
 
Orang selayaknya boleh bilang bahwa Francis Bacon merupakan filsuf modern pertama. Pandangan keseluruhannya adalah sekuler dan bukannyareligius (kendati dia percaya kepada Tuhan dengan keyakinan teguh). Diaadalah seorang rasionalis dan bukan orang yang percaya kepada tahyul. Seorang empiris dan bukannya seorang dogmatis yang logikanya mencla-mencle. Di bidang politik dia adalah seorang realis dan bukan seorang teoritikus. Dengan pengetahuannya yang mendalam dalam pengetahuan klasik serta keahlian sastranya yang mantap, dia menaruh simpati terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun dia seorang Inggris yang setia,Bacon punya pandangan berjangka jauh melampaui batas negerinya.
 
D. Analisis Epistimologi Empirisme/Induktivisme Francis Bacon
 
Pandangan saya terhadap analisis pokok-pokok pemikiran filsafat Francis Bacon adalah pertama, kita tidak lupa akan kebahagiaan kita dalam pengetahuan sebagaimana kita melupakan kematian kita. Kedua, bahwa kita menerapkan pengetahuan untuk memberi ketenangan dan kepuasan diri kita sendiri dan tidak membenci atau mengeluh.Ketiga, bahwa kita tidak mengira bahwa lewat kontemplasi (pemikiran) atas alam.
Fokus utama pemikiran filsafat Francis Bacon adalah bersandar pada penjelasan pentingnya studi pengetahuan dalam kerangka aplikasi praktisnya atas masalah individu dalam masyarakat.Analisis pertama adalah tentang penempilan atas penggunaan, bahwa individu yang berbeda dapat memiliki pendekatan studi.Sebagaimana ditunjukkan bahwa kebijakan studi menunjukkan sifat-sifatnya.
 
Pengetahuan dan kekuasaan dalam The New Organon telah disalahartikan oleh banyak kritik pencerahan yang sangat dihormati.Pengetahuan tentang alam hampir tidak ada karena kegunaannya kurang bernilai.Argumennya terkait erat dengan etika menyeluruhnya, yang mempertanyakan kekuasaan yang mapan serta mengubtubgkan manusia. Pengetahuan dan kekuasaan tidak merupakan suatu kesatuan dan sama bagi Francis Bacon, tetapi mereka berhubungan, dalam arti bahwa kekuatan manusia diperlukan untuk meningkatkan penyimpanan penegetahuan manusia, dan tidak dalam arti bahwa penegtahuan alam mengarah langsung ke kuasa untuk mendominasi sifat atau manusia.
 
Metode deduktif murni Francis Bacon tidak akan pernah menghasilkan pengetahuan baru. Bacon mengkalaim bahwa metodenya menuju kepada generalisasi semua hal, tidak hanya beberapa ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu golongan terbatas saja.Walaupun begitu, dalam pemakaian kata kebenaran suatu induksi dalam pengertian yang umum.Baconlah yang berjasa karena menyadarkan para ilmuwan bahwa untuk menggugurkan kesahihan suatu induksi, hanya dibutuhkan satu contoh yang menyangkal.Sedangkan setiap konfirmasi yang mendukung, hanya membantu menguatkan keyakinan itu sendiri.Oleh karena itu, di dalam Novum Organum Francis Bacon mengemukakan bahwa contoh negatiflah yang lebih berpengaruh.
 
E. Implikasi bagi pengembangan ilmu sosial dan pekerjaan sosial
 
Bagi Bacon ilmu pengetahuan disadarkan pada tiga hal penting dalam kesatuan (triganda), yang di antaranaya adalah  ingatan (memoria), daya khayal (imagination), dan akal (ratio). Pandangan ini dapat ditempatkan pada realitas sosial yang dapat diamati secara empiris.Realitas sosial yang dinamis dan berkembang membutuhkan sudut pandang untuk mengkajinya dengan metode yang induktif.Oleh karenanya, pandangan bacon ini dapat diterapkan dalam ranah ilmu-ilmu sosial yang berkembang terus menerus.
 
Ilmu sosial yang secara fungsi mempunyai tujuan praktis menyelesaikan masalah-masalah sosial, hendaknya tidak lepas daripada keadaan sosial yang sebenarnya di lapangan.Masalah-masalah sosial yang begitu banyak menimbulkan kesulitan untuk memetakan strategi penyeleasaikan masalah. Mengambil gambaran pengetahuan dari Bacon, bahwa masalah sosialharus menjadi ingatan (memoria) yang menandas untuk memperoleh dasar gambaran (imagination) tentang cara yang efektif menyelesaikan persoalan sosial. Gambaran memori dan daya angan/khayal tentang masyarakat yang sejahtera dan terbebas dari persoalan dipastikan dapat diwujudkan melalui pemikiran yang kritis (ratio) dan kemudian ditindak lanjuti dengan aksi nyata di lapngan.
 
Pemikiran bacon tentang filsafat dibaginya dalam tiga hal, De Numina (ketuhanan), De Natura tentang alam yang dihuni manusia, dan De Homine tentang manusia itu sendiri. Dasar pengetahuan ketuhanan (de numina), menurut bacon ialah manusia menerima adanya pengetahuan teologis berdasarkan wahyu, tetapi pengetahuan itu sendiri terletak di luar bidang filsafat. Hal ini diterangkan dengan konsep radio refracto, yang artinya terang mengenai pokok tersebut kita terima lewat pembiasaan.Dari pengetahuan ini, manusia sebagai mahluk sosial yg memperoleh pengetahuan (wahyu) dari tuhan merupakan pembawa dari kebaikan-kebaikan yang diperintahkan Tuhan sendiri.Manusia sebagai pembawa misi kesejahteraan hidup adalah dasar yang tepat untuk digunakan sebagai landasan berfilsafat bahwa seharusnya dalam kehidupan bersama di dunia semua manusia mampu menjalankan dan menularkan kebaikan.Implikasi logis adanya pengetahuan dari Tuhan ini mengarahkan pemikiran dan ilmu sosial yang sesuai degan fungsi wahyu yang mengajarkan manusia untuk membiasakan hidup sejahtera bersama.
 
Mengenai tempat tinggal manusia atau lingkungan dimana manusia bermukim, menurut bacon adalah de natura atau dengan konsep radio directo, artinya, terang pokok tersebut kita terima secara langsung.Pada bagian pemikiran ini, dapat dijelaskan darinya bahwa manusia tidak berhak untuk memilih dimana dia dilahirkan. Karenanya, manusia dengan alam dimana ia dilahirkan merupakan sebuah ketentuan yang sifatnya pasti dan tidak mungkin dihindari. Bilamana alam yang ditempatiya adalah daerah pelosok dan jauh dari infrastruktur, itu bukanlah daerah atau alam yang harus di tinggalkan.Sebaliknya, alam atau daerah yang seperti itu perlu mendapat perhatian serius demi membangun sumberdaya manusia yang bermukim.Ilmu sosial dan pekerjaan sosial dalam hal ini diarahkan untuk memantau dan membangun infrasutruktur yang bertujuan menjadikan hidup masyarakat yang sejahtera.
 
Sedangkan pilah ilmu yang ketiga dari Francis Bacon adalah de homnie yang diterangkan dengan konsep radio reflexo, artinya terang mengenai pokok bersangkutan kita terima lewat pemantulan.Ilmu sosial menjadi refleksi atas berbagai pemahaman yang terbentuk dalam masyarakat.Dalam ilmu sosialini adanya arahan-arahan baru yang bersumber pada antroposentris bahwa manusia adalah sumber dari terwujudnya kebudayaan dan kesejahteraan individu dan kelompok.Manusia yang berkesadaran sosial tinggi dan saling membantu manusia lainnya.Sisi inilah yang perlu dikembangkan dalam implementasi ilmu sosial di tengah-tengah masyarakat, implikasinya adalah kejelasan bahwa ilmu sosial memang tepat untuk dipakai dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang ada.
 
Penutup
 
Francis Broken adalah seoarang filsafat modern yang di kenal sebagai bapak metode Induktif (empiris-eksperimental).Pemikiran Bacon sangat mempengaruhi tradisi empiris yang akhirnya menghasilkan konsep ideologi.Ideologi adalah sebagai dasar bagi semua ilmu pengetahuan (sains).Ilmu baru yang disebutnya ideologi sesungguhnya adalah empirisme, karena ilmu baru itu didasarkan atas sensasi terhadap fenomena fisik.Ideologi sebagai ilmu yang melihat asal-usul pikiran sesungguhnya sebagai upaya untuk memperteguh landasan ilmu penegtahuan empiris yang dapat dijadikan dasar bagi terbentuknya masyarakat yang adil dan damai.
 
Dalam perkembangannya, pandangan Francis Bacon tentang pengetahuan ini dapat diterapkan dalam ranah ilmu-ilmu sosial yang berkembang terus menerus. Pengetahuan dari Bacon, bahwa masalah sosial harus menjadi ingatan (memoria) yang menandas untuk memperoleh dasar gambaran (imagination) tentang cara yang efektif menyelesaikan persoalan sosial. Gambaran memori dan daya angan/khayal tentang masyarakat yang sejahtera dan terbebas dari persoalan dipastikan dapat diwujudkan melalui pemikiran yang kritis (ratio) dan kemudian ditindak lanjuti dengan aksi nyata di lapangan.
 
Pemikiran bacon tentang filsafat dibaginya dalam tiga hal, De Numina (ketuhanan), De Natura tentang alam yang dihuni manusia, dan De Homine tentang manusia itu sendiri. Dalam hal inilah perlu dikembangkan dalam implementasi ilmu sosial di tengah-tengah masyarakat, implikasinya adalah kejelasan bahwa ilmu sosial memang tepat untuk dipakai dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang ada.

Referensi

Yusuf Lubis, Akhyar, Filsafat Ilmu:Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015)
 
Robert C. Solomon, Kathleen M. Higgns, Sejarah Filsafat di terjemahkan oleh Saut Pasaribu (Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 2000)
 
http://filsafat.kompasiana.com/2010/12/28/biografi-dan-pemikiran-filsafat-francis-bacon-1561-1626

No comments

Powered by Blogger.