Anti Oprasi dan Hak Asasi Manusia

Anti Oprasi dan Hak Asasi Manusia

Anti Oprasi dan Hak Asasi Manusia
Masalah sosial di era globalisasi ini kian komplek, masalah sosial sebagai sebuah kondisi yang tidak diharapkan karena mengandung berbagai unsur yang merugikan baik itu fisik maupun non fisik atau hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma dan standar sosial yang berlaku (Jhon Rawls, 2011), untuk itulah peran berbagai bidang pekerjaan sangat dibutuhkan terutama para pekera sosial khususnya. Daniel Bell, Jean Baudrillard dan David Harvey melihat globalisasi ini sebagai sebuah kondisi dimana masyarakat tidak lagi diatur oleh prinsip produksi barang (manufacture) melainkan produksi dan reproduksi dimana sektor jasa menjadi yang paling menentukan (Jauhari, 2012).

Dalam hal ini, tentunya tuntutan jasa seorang pekerja sosial (social worker) di tuntut untuk memberikan pelayanan secara professional demi keberlansungan hidup seorang klien dengan lingkungannya. Kepofesionalan seorang pekerja sosial dalam memberikan pelayanan (social service) sebagaimana dikemukakan Siporin dalam (Abdul Najib, 2016), yaitui: pelayayanan akses (acces service), pelayanan terapi, pertolongan, rehabilitasi, serta pelayanan sosialisasi dan pengembangan. Dalam memberikan pelayanan, seorang pekerjaan sosial tidak bisa lepas dari nilai dasar pekerja sosial (pengetahuan, nilai dan skil) dan perinsip-perinsip pekerjaan social itu sendiri. Prinsip pekerjaan sosial ini merupakan hal yang sangat fundamental yang harus dimiliki oleh seorang pekerja social. Perinsip ini harus dipegang teguh untuk dijadikan pegangan dalam aktivitas social dalam proses intervensi.

Sembilan perinsip (Penerimaan, individualisasi, mengekspresikan perasaan, objektif, pelibatan emosi yang terkendali, akses terhadap sumber, serta bertaggung jawab) pekerjaan social menurut DuBis (2005), merupakan tuntutan bagi pekerja social dalam melakukan peraktek pertolongan dengan individu maupun dengan maasyarakat secara professional. Dengan adanya prinsip dan etika menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan selama peraktik harus dapat dipertanggung jawabkan, baik terhadap masyarakat tempat peraktikum dilaksanakan maupun secra akademik.

Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dilakukan seorag pekerja social dalam memberikan pelayanan secara professional maupun individu tidak bisa lepas dari prinsip-prinsip dasar pekerjaan social.

Dalam pandangan agama manapun, tolong-menolong merupakan hal yang dibutuhkan bagi setiap orag karena setiap orang/individu tidak bisa lepas dari bantuan orang lain, besar maupun kecilnya sebuah bantuan atau pertolongan tersebut. Mengembalikan keberpugsian social individu meupakan bentuk pertolongan seorang pekerja social dalam memberikan pelayanan. Dilihat dari sejarah lairnya pekerjaan social beberapa abad yang lalu misalnya lahir dari gereja dengan prinsif sumbangan (charity) yang di berikan kepada masyarakat sekitar penduduk gereja yang di lakukan oleh seorang biarawan, sedangakan dalam agama islampun peraktek pekerjaan social sudah dilakukan pada zaman sahabat/khalifah usmani yang sering di kenal dengan konsep kedermawanan (philanthopyist). Begitupun dengan para tokoh maupun ulama yang berada di Indonesia peraktek tolong menolong kerap kali di peraktikkan salah satu contoh adalah kiyai Ahmad Dahlan, beliau memperaktekkan dalam bentuk dakwah memberikam pemahama kepada orang-orang tertindas, dan mengayomi para anak yatim piyatu, dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Melihat dari sejarah lahirnya pekerjaan social diatas telah memberikan kita sebuah pemahaman bahwa agama mengajarkan kita hidup bersama dengan tujuan yang sama, yaitu bagaimana setiap orang harus tenang dan damai (sejahtera) dalam menjalani kehidupannya.

Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia serta memberikan jaminan akan sebuah kehidupan yag layak, pendidikan, berpendapat, dan lain sebagainya Hal ini merupakan wujud dari kepedulian bangsa dan Negara kepada setiap marsyarakatnya, namum secara keseluruhan memang belum dilaksanakan dengan sepenuhnya, karena berbagai bentuk hambatan dan tantangan bangsa dalam menjalankan aktifitas Negara yang begitu banyak yang diurus. Namun palig tidak sudah banyak hal yang dilakukan Negara demi mensejahterakan rakyatnya, sepeti prograp PKH, PKSA, PNPM Mandiri dan lain sebagainya.

Tindakan individu, tuntutan keprofesionalitas, peran agama, bangsa dan Negara banyak yang kita temukan dilapangan namun masih jauh dari apa yang diharapkan bahkan sebaliknya pun seringing kita temukan. Hal yang penulis pahami adalah bahwa kehidupan tidak selau sempurna, namun kita sebagai manusia selau berusaha untuk mencari atau mengurangi kesalahan demi mencapai kehidupan yang sejahter, kehidupan yang tercukupi baik ekonomi maupun kehidupan sosialnya.



No comments

Powered by Blogger.