Metode Dakwah Islam

Metode Dakwah Islam

Metode Dakwah Islam
Pendahuluan 

Islam adalah agama dakwah yang selalu mendorong umatnya untuk selalu aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduran islam dinilai sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yang dilakukan umat islam itu sendiri. Oleh sebab itu, Islam memberikan banyak tuntunan dan pilihan dalam melaksanakan aktivitas dakwah. Fungsi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits ialah  sebagai pedoman dan petunjuk dakwah yang akan senantiasa mendorong para da’i untuk memperhatikan situasi dan kondisi obyek/mitra dakwahnya. Dengan demikian, menjadi tugas bagi para pelaku dakwah untuk menggali dan merumuskan konsep-konsep dalam Al-Qur’an dan Hadits ke dalam metode dakwah yang tepat dan terarah sesuai dengan kebutuhan waktu dan tempat. Pendekatan yang demikian dimaksudkan agar dakwah dapat memberikan out put yang tepat dan bermanfaat bagi mad’unya sesuai konteks masyarakat yang sedang atau akan dihadapi.
 
Apabila kita cermati dan pelajari mengenai konteks dan konsep dakwah Rasulullah Saw dalam mengemban misi dakwah selama 23 tahun, maka secara sosiologis dakwah Rasullah memiliki tiga tingkat konsep/tahapan. Pertama, dakwah bersifat retorika atau tabligh, yaitu sebatas menyampaikan pesan dakwah (ajakan menyembah Allah dan meninggalkan kemusyrikan) kepada umat manusia. Kedua, Rasulullah Saw dengan dakwahnya berusaha menanamkan dan mewujudkan nilai-nilai Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dakwah dalam pengertian/tahap ini sudah bersifat esensial dengan pengaruh yang mulai meluas, sehingga membutuhkan pemikiran yang serius dan mendalam, karena harus mampu melakukan dialog antar budaya (akulturasi budaya), sosialisasi dan implementasi. Dakwah semacam ini disebut sebagai dakawah kultural. Ketiga, dakwah membentuk masyarakat Islam dalam semua segi kehidupan umat manusia. Pekerjaan ini tidaklah mudah, karena adanya keharusan membangun struktur dan manajemen dakwah yang memadai, solid, dan berkelanjutan. Dakwah semacam ini yang disebut dakwah struktural. 

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata cara memberikan sesuatu (metode) lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri (materi). Semangkok teh pahit dan dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat, akan lebih terasa enak disantap ketimbang seporsi makanan lezat, mewah dan mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara yang tidak sopan dan menyakitkan hati orang yang menerimanya. Hal tersebut memberikan pengertian  bahwa tata cara atau metode lebih penting daripada materi. Batapa pun sempurnanya materi, lengkap dan aktualnya bahan, tetapi bila disampaikan dengan cara sembrono, tidak sistematis dan asal-asalan, akan menimbulkan kesan yang mengecewakan. Namun, walaupun materi kurang sempurna, bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, maka akan menimbulkan kesan yang menggembirakan. Itulah pentingnya metode dalam pelaksanaan dakwah islamiah.
 
Rasulullah SAW memberikan isyarat bahwa metode dakwah yang tidak tepat, bisa memberikan kesan (image) yang keliru/mengecewakan tentang islam. Tahapan pelaksanaan dakwah yang tidak teratur pun akan menyebabkan efektifitas dakwah menjadi berkurang. Maka perlu disadari bahwa dakwah merupakan suatu proses yang berkesinambungan  yang ditangani oleh para pengemban dakwah yang profesional dan dilakukan secara bertahap dan konsisten. Suatu proses yang berkesinambungan adalah suatu proses yang bukan insidental atau kebetulan, melainkan benar-benar direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secar terus-menerus oleh para pengemban dakwah sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Pembahasan 

Metode secara bahasa adalah cara berfikir, sedangkan secara istilah merupakan cara bertindak atau berfikir. Fungsi metode adalah sebagai landasan/pijakan/pertimbangan dalam melakukan suatu kegiatan tertentu agar berjalan secara benar sesuai tujuan yang diharapkan. Termasuk dalam aktivitas dakwah, metode pun sangat dibutuhkan dan penting untuk dirumuskan.
 
Untuk itu dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual, faktual dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahakan masalah yang kekinian dan hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti konkrit dan nyata, serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut probema yang yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu memiliki cara dan metode yang tepat, agar dakwah menjadi actual, faktual dan kontekstual, menjadi bagian setrategis dari kegiatan dakwah itu sendiri.
 
Aktivitas dan kegiatan dakwah dilakukan dengan mengajak, mendorong, menyeru, tanpa tekanan, paksaan dan provokasi, dan bukan pula dengan bujukan dan rayuan pemberian sembako, dsb. Maka metode atau cara yang dilakukan dalam mengajak tersebut haruslah sesuai pula dengan materi dan tujuan kemana ajakan tersebut ditujukan. Pemakaian metode atau cara yang benar merupakan sebagian dari keberhasilan dari dakwah itu sendiri. Sebaliknya, bila metode atau cara yang dipergunakan dalam menyampaikan sesuatu tidak sesuai dan tidak pas, akan mengakibatkan hal yang tidak diharapkan.

Di dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 125 Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl:125)

Dalam literatur ilmu dakwah sering dibicarakan menganai metode dakwah. Sekurang-kurangnya ada tiga cara atau metode dalam dakwah, yakni metode hikmah, metode mau’izhah dan metode mujadalah.

Dalam tafsir Jallalain dijelaskan mengenai maksud ayat di atas bahwa Rosulullah diperintahkan untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan (yang dimaksud adalah agama Islam) dengan jalan hikmah (menggunakan dengan al-Quran), dan pelajaran yang baik yakni nasihat-nasihat yang lembut, dan bantahan dengan baik (seperti menyeru kepada allah dengan menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujjah-hujjah yang jelas.

Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini menerangkan bahwa Allah menyuruh rasul untuk mengajak manusia dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat dan ajaran yang baik. Dan apabila mereka yang diseru mengjak berdebat, agar dibantah dengan cara yang baik. Dalam hal ini Nabi diminta tidak berkecil hati apabila ada yang tidak mengikutinya dan tetap dalam kesesatan mereka. Tugas Nabi hanya menyampaikan wahyu dan memberi peringatan sedangkan Allah yang akan menentukan dan memberi petunjuk. Dan Dia-lah yang akan meminta pertanggungjawaban kelak di akhir kiamat.

Mengenai metode dakwah lebih terlihat pada penjelasan tafsir Al Misbah. Dijelaskan mengenai ayat tersebut di atas bahwa itulah tiga cara (metode) berdakwah yang hendaknya ditempuh dalam menghadapi manusia yang beranekaragam peringkat dan kecenderungannya. Pendakwah diminta jangan menghiraukan cemoohan atau tuduhan yang tidak berdasar dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Ayat ini dipahami sementara ulama sebagai penjelasan tiga macam metode dakwah yaitu:
 
1. Terhadap para cendekiawan yang berpengetahuan, maka dakwah disampaikan dengan hikmah yakni berdialog dengan mereka menggunakan perkataan yang bijak.
 
2. Terhadap orang awam maka dakwah dilakukan dengan memberi nasihat-nasihat yang menyentuh jiwa dan disesuaikan dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana.
 
3. Terhadap ahli kitab maka dakwah dilakukan dengan logika dan retorika yang halus, terlepas dari kekerasan dan umpatan dalam berbantah dengan mereka.

Menurut teori dakwah, dakwah itu harus disesuaikan dengan objek yang didakwahi. Jika orang yang kita dakwahi sudah mampu untuk menerima kebenaran seutuhnya maka dakwah harus disampaikan dengan tegas dan terang. Namun, jika orang yang kita dakwahi belum mempu untuk menerima kebenaran maka lakukanlah dakwah dengan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu. Konsep ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berdakwah di Makkah, yang pertama kali beliau lakukan adalah menanamkan iman dan tauhidullah di hati umatnya. Dan ketika beliau berdakwah di Madinah, beliau mulai menanamkan hukum-hukum agama, jihad, muammalah, dll. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi umat Islam di Madinah yang lebih siap menerima kebenaran dibanding kondisi umat Islam di Makkah. Dan dakwah nabi pun terbukti keberhasilannya.
 
Jika kita melihat pada sejarah masuknya Islam ke Indonesia, orang Indonesia pada umumnya menyukai Islam karena ajaran agama Islam yang tidak mengenal sistem kasta, penyebaran Islam dilakukan dengan jalan damai, upacara keagamaanya yang sederhana, dll. Walaupun telah memeluk Islam, umat Islam pada waktu itu masih sulit sekali meninggalkan tradisi animisme, dinamisme maupun ajaran Hindu Budha, sehingga dilakukanlah pendekatan-pendekatan kebudayaan. Seperti para Sunan yang mengundang orang untuk memeluk Islam dengan gamelan, wayang kulit yang dijadikan hiburan dikemas nilai Islam dengan diubahnya bentuk tubuh wayang kulit agar tidak terlalu menyerupai manusia, dll.
 
Dalam babad tanah jawa yang tersimpan di museum Belanda tercatat, bahwa Sunan Kalijaga berkata, “ aku berharap agar umat Islam di masa mendatang dapat meluruskan apa yang aku perbuat sekarang”. Demikianlah, dakwah di masa dulu tidak akan diterima masyarakat jika langsung saklek, ekstrim dan tidak flexible. Berlaku juga dengan masa sekarang.
 
Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

من رئ منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطيع فبلسانه فان لم يستطيع فبقلبه وذلك اضعف الايمن (روه مسلم)

“Barangsiapa diantara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya (nasihat), dan apabila tidak mampu (juga) maka dengan hatinya (mendoakan), dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dakwah merupakan lapangan yang sangat penting dan utama sekali, baik dilihat dari pandangan agama maupun dari segi pertumbuhan bangsa yang sedang membangun baik saat ini maupun masa yang akan datang. Makin banyak masyarakat membicarakan pembangunan, makin terasa pula bagaimana ketergantungan mereka pada manusia dan urusan duniawi. Sosialisasi ajaran agama Islam ditengah-tengah masyarakat tersebut, baiknya menggunakan strategi dan metode dakwah yang tepat, yakni dakwah yang dilakukan secara fi’il maupun lisan, dan dapat dilakukan oleh setiap muslim. Dengan demikian, maka tujuan dakwah secara umum dapat dikatakan membangun masyarakat yang maslahat dunia dan akhirat melalui pengetahuan mendalam terhadap pokok-pokok syar’iyah agamanya.
 
Maksud dari mengubah kemungkaran dengan tangan yaitu bagi mereka (kaum muslimin) yang mempunyai kekuatan atau pengaruh di dalam masyarakat para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pihak yang berwajib. Seperti tindakan yang dilakuakan oleh polisi demi menjaga keamanan masyarakat atau seorang kepala desa yang membimbing warga untuk hidup rukun dan berdampingan.
 
Jika dakwah yang dilakuakn dengan cara di atas masih dianggap kurang efektif maka dakwah dapat dilakukan pula secara lisan. Dakwah menggunakan lisan bisa kita pahami sebagai sarana dakwah dengan saling menasehati dan memberi petunjuk kepada sesuatu yang benar, seperti para pemuka agama yang memberi ceramah, nasihat, dan petuah kepada para jamaahnya. Apabila kedua cara dakwah tersebut masih belum juga dapat mengatasi kemungkaran maka sebgai seorang muslim wajib untuk mendoakan.

No comments

Powered by Blogger.