Interaksi Sosial; Macam & Bentuk-Bentuknya

Interaksi Sosial; Macam & Bentuk-Bentuknya

Interaksi Sosial; Macam & Bentuk-Bentuknya
PENDAHULUAN
 
Kebutuhan akan pedoman dan petunjuk praktis untuk menciptakan ketenangan dan kebahagiaan hidup atau kesehatan mental secara umum, semakin hari semakin dirasakan, baik oleh diri pribadi, keluarga ataupun masyarakat maju, berkembang ataupun masih terbelakang.
 
Semakin banyak tuntutan hidup dalam suatu masyarakat, akan berakibat semakin meningkatnya persaingan dan perlombaan dalam mencari jalan guna memenuhi kebutuhan hidup. Persaingan dan perlombaan ini sering kali menimbulkan munculnya berbagai permasalahan yang tidak mudah dipecahkan, salah satunya adalah terkait dengan kesehatan mental seseorang.
 
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.
 
Interaksi manusia dengan lingkungan  sosialnya berhubungan erat dengan kesehatannya. Kondisi social yang sehat akan mendukung kesehatan bagi manusia, dan sebaliknya social yang tidak sehat akan dapat mengganggu kesehatan mentalnya.
 
Hubungan manusia dengan socialnya diharapkan meningkatkan kulaitas hidupnya. Manusia pada prinsipnya satu kesatuan dengan lingkungan social sekitarnya, yang selalu berinteraksi dan mempengaruhi prilaku kesehatan mental manusia. Banyak gangguan mental yang dialami masyarakat sebagai akibat dari lingkungan social yang tidak baik.
 
Seseorang yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas kemampuan pribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar pengertian ini tentu tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan mental pada seseorang, karena selain harus mengetahui potensi individunya juga harus melihat konteks sosialnya.
 
Dalam makalah ini penulis akan memberikan sedikit pengertian dan gambaran terkait interaksi social dan urgensinya terhdaap kesehatan mental.

PEMBAHASAN
 
1. PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL
 
Interaksi Sosial adalah suatu proses hubungan timbale balik yang dilakukan oleh individu dengan individu, antara indivu dengan kelompok, antara kelompok dengan individu, antara kelompok dengan dengan kelompok dalam kehidupan social.
 
Dalam kamus Bahasa Indonesia Innteraksi didifinisikan sebagai hal saling melalkukan akasi, berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian  interaksi adalah hubungan timbale balik (social) berupa aksi salaing mempengaruhi antara indeividu dengan individu, antara individu dankelompok dan antara kelompok dengan dengan kelompok.
 
Gillin mengartikan bahwa interaksi social sebagai hubungan-hubungan social dimana yang menyangkut hubungan antarandividu , individu dan kelompok  antau antar kelompok.
 
Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok”. Pendapat lain dikemukakan oleh Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial”. “Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung”.
 
Berdasarkan definisi di atas maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok.

2. Macam - Macam Interaksi Sosial
 
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
 
a. Interaksi antara individu dan individu.
Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
 
b. Interaksi antara individu dan kelompok.
Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam - macam sesuai situasi dan kondisinya.
 
c. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok.
Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.

3. Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial
 
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu:
a. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
 
1). Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
 
2). Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok - kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
 
3). Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
 
4. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.
 
b. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
 
1). Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
 
2). Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
 
3). Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

4. Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
 
a. Adanya Kontak Sosial
 
Kata kontak dalam bahasa inggrisnya “contack”, dari bahasa lain “con” atau “cum” yang artinya bersama-sama  dan “tangere” yang artinya menyentuh . Jadi kontak  berarti sama-sama menyentuh.Kontak social ini tidak selalu melalui interaksi atau hubungan fisik, karena orang dapat melakuan kontak social tidak dengan menyentuh,    misalnya menggunakan HP, telepon dsb.
 
Kontak social memiliki memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1). Kontak social bisa bersifat positif dan bisa negative. Kalau kontak social mengarah pada kerjasama berarti positif, kalau mengarah pada suatu pertentangan atau konflik berarti negative.
 
2). Kontak social dapat bersifat primer dan bersifat skunder. Kontak social primer terjadi  apa bila peserta interaksi  bertemu muka secara langsung. Misanya kontak antara guru dengan murid dsb. Kalau kontak skunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui perantara. Missal percakapan melalui telepon, HP dsb.
 
b. Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak kepihak yang lain dalam rangka mencapai tujuan bersama.
 
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu:
 
1). Komunikator yaitu orang yang menyampaikan informasi atau pesan atau perasaan atau pemikiran pada pihak lain.
 
2). Komunikan yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, informasi.
 
3). Pesan yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
 
4). Media yaitu alat untuk menyampaiakn pesan
 
5). Efek/feed back yaitu tanggapan atau perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapat pesan dari komunikator.
 
Ada tiga tahapan penting dalam komunikasi yaitu:
 
a. Encoding . Pada tahap ini gagssaan atau program yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar . dalam tahap ini komunikator harus memilih kata atau istilah ,kalimat dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan komunikan.
 
b. Penyampaian. Pada tahap ini istilah atau gagasan yang telah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaiakan . Penyampaian dapat berupa lisan dan dapat berupa tulisan atau gabungan dari duanya.
 
c. Decoding Pada tahap ini dilakukan proses mencerna fdan memahami kalimat serta gambar yang diterima menuruy pengalaman yang dimiliki.
 
Ada beberapa factor yang mendorong  terjadinya interaksi social yaitu sebagai berikut:
 
a. Faktor imitasi, masyarakat merupakan pengelompokan manusia di mana tiap individu saling mengimitasi (meniru) dari orang lain dan sebaliknya. Bahkan masyarakat baru menjadi masyarakat yang sebenarnya ketika manusia mulai mengimitasi kegiatan manusia lainnya.
 
b. Faktor sugesti, pengaruh psikis baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari orang lain, umumnya sugesti diterima tanpa adanya kritik dati individu yang bersangkutan. Sugesti adalah suatu proses di mana individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman tingkah laku orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
 

c. Faktor identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi identik atau sama dengan orang lain.
 
d. Faktor simpati, orang memiliki kecenderungan tertarik pada orang lain, sedangkan orang yang memiliki kecenderungan menolak orang lain disebut antipati. Simpati akan menjalin hubungan saling pengertian yang saling mendalam dalam inteaksi antarindividu, ingin mengerti dan ingin kerja sama dengan orang lain serta saling melengkapi satu sama lain.

5. URGENSI INTERAKSI SOSIAL DENGAN KESEHATAN MENTAL
 
Interaksi social banyak dikaji dalam kaitannya dengan gangguan mental (Barber, 1964). Ada dua pandangan hubungan interaksi social ini dengan gangguan mental. Pertama teori psikodinamik mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan mental dapat berakibat pada pengurangan interaksi social, hal ini dapat diketahui daari perilaku regressi sebagai dari adanya sakit mental. Kedua, bahwa rendahnya interaksi social itulah yang menimbulkan adanya gangguan mental.
 
Barber dkk (1964) mengemukakakan keterasingan atau keterpencilan seseorang itu bertingkat. Jika tidak ada kontak sama sekali berari ia dalam kondisi yang sangat terisolasi. Keterpencilan dapat berkurang jika masih terdapat kontak dengan orang tuanya, menjadi kurang terpencil lagi jika dapat kontak dengan teman sebayanya, dan makin berkurang rasa keterpencilannya jika dapat berinteraksi dengan kelompok orang tuanya, dan tidak tidak terpencil dan interaksi social menjadi berfungsi pada tingkatan yang tertinggi jika dapat berinteraksi dengan kelompok dan sebayanya.
 
Berdasarkan pandangan ini berarti semakin baik interaksi social seseorang maka semakin baik pula, dan sebaliknya makin terpencil dalam interaksi sosialnya makin berisiko orang tersebut mengalami gangguan mental.
 
Faris dan Dunham (1970) berpandangan bahwa tempat tinggal yang terisolasi dari hubungan interpersonal diyakini dapat meningkatkan insidensi psikosis , schizophrenia. Hal ini karena secara social terisolasi. Tempat tinggal yang terisolasi secara social tidak hanya karena jarak yang jauh satu dengan yang lain, tetapi juga menyangkut apakah tempat tinggal itu member suasana yang mampu meningkatkan hubungan interpersonal atau tidak. Meskupin secara fisik berdekatan, tetapi tempat tersebut tidak mempu member peluang untuk menjalin hubungan interpersonal meka secara social tempat itu terisolasi.
 
Menurut Clausen dan Kohn (1970) mengemukakan ada empat tempat tinggal macam yang dipandang menimbulkan pengalaman terisolasi secara social, sebagai berikut:

a. Hidup di dalam tempat tinggal yang menghasilkan/ menimbulkan isolasi social karena tempat tinggal itu terus menerus berubah.
 
b. Hidup di dalam wilayah etnis lain.
 
c. Hidup di dalam masyarakat di lingkungan kumuh (slum), keturunan asing yang kasar, atau di masyarakat dengan karakter hidup yang kompetitif dapat berakibat isolasi social, khususnya bagi orang yang sensitive, suka mengalah (self-conscious), atau malu-malu.
 
d. Dalam lingkungan kelas social rendah, umumnya kurang asertife pada anak. Jika anak tidak menjalin hubungan dengan kelompok sebayanyaatau tetangganya, maka dia terisolasi secara social.
 
Dengan meningkatnya pertambahan penduduk yang sangat cepat, daerah-daerah perkotaan menjadi cepat pula berubah. Sebagian besar daerahnya dipakai untuk mendirikan bangunan industry dan perdagangan, perumahan pernduduk, kantor pemerintah dan militer. Semua upaya pembangunan tersebut itu mempunyai dampak sampingan berupa disrupsi social (kebelahan dan kekacauaan social). Disrupsi ini dicerminkan oleh semakin meningkatnya keluarga yang pecah berantakan, kasus bunuh diri, alkoholisme, korupsi, kriminalitas dimana-mana dan segala jenis gangguan mental yang akhirnya berdampak pula bagi lingkungan sosio-kulturnya.
 
Para sosiolog berpendapat bahwa penyebab tinngkah laku delinkuen pada anak-anak remaja sekarang adalah murni sosiologis atau social-psikologis sifatnya. Misanya disebabkan oleh sturkur social yang deviatif, tekanan kelompok, peranan social, status social atau oleh internalisasi simbolis yang keliru. Maka factor-faktor cultural dan social itu sangat mempengaruhi bahkan mendominasi struktur lembaga-lembaga social dan peranan social setiap individu di tengah maysarakat, status individu di tengah-tengah kelompoknya, pertisipasi social dan pendefinisian dari dan konsep dirinya.
 
Dalam proses penentuan konsep-diri tadi, yang penting ialah, simbolisasi-diri atau “penamaan diri” disebut juga pendefinisian-diri atau peranan-diri. Dalam proses simbolisasi-diri, subjek mempersamakan diri mereka dengan tokoh-tokoh penjahat. Gambaran atau konsep umum mengenai sesuatu ide itu dioper oleh anak yang bersangkutan menjadi kekayaan batinnya, dan dijadikan “konsep hidupnya”. Berlangsunglah proses penentuan konsep diri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi sesaat.
 
KESIMPULAN 
Dari beberapa penjelasan terkait dengan hubungan interaksi social dengan kesehatan mental penulis dapat menarik kesimpulan bahwa kesehatan mental seseorang tidak hanya dipengaruhi satu factor seperti pendidikan saja, agama saja dan atau bilologis saja, tetapi merupakan kesatuan yang akhirnya menuju pada suatu proses pengaktualisasian yang bergelut langsung dalam dunia social (interaksi aktif social).
 
Seseorang yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas kemampuan pribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar pengertian ini tentu tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan mental pada seseorang, karena selain harus mengetahui potensi individunya juga harus melihat konteks sosialnya.
 
Interaksi social menjadi hal yang mutlak dibutuhkan ketika ingin membuat jiwa/ mental kita sehat secara social.

DAFTAR PUSTAKA
Benson, Nigel C. dan Simon Grove. 2002.  Mengenal Psikologi For Beginners. Terj. Medina Chodijah. Bandung: Mizan.
 
El Quussiy, Abdul Aziz. 1986. Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa /Mental. Terj. Zakiah Daradjat. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
 
Kartono, Kartini. 1992. Patologi Social II: Kenakalan Remaja. Jakarta: CV. Rajawali.
 
Kartono, Kartini. 2000. Hygiene Mental. Bandung: Mandar Maju.
 
Notosoedirdjo, Moeljono dan Latipun. 2001.  Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan. 
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Press.
 
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Mizan.
 
Sebagian data penulis dapatkan dengan cara mengakses di Media Internet

No comments

Powered by Blogger.