Etika Da'i

Etika Da'i

Etika Da'i

Pendahuluan

Dakwah dalam Islam merupakan tugas yang sangat mulia, yang juga merupakan tugas para nabi dan rasul, juga merupakan tanggung jawab setiap muslim. Dakwah bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, juga tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang. Seorang da’i harus mempunyai persiapan-persiapan yang matang baik dari segi keilmuan ataupun dari segi budi pekerti. Sangat susah untuk dibayangkan bahwa suatu dakwah akan berhasil jika seorang da’i tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang memadai dan tingkah laku yang buruk, baik secara pribadi maupun sosial.
Seorang da’i sebagai juru dakwah adalah salah satu faktor dalam kegiatan dakwah yang menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan dakwah. Setiap muslim yang hendak menyampaikan dakwah khususnya seorang da’i seyogianya memiliki kepribadian yang baik untuk menunjang keberhasilan dakwahnya.
Dalam makalah ini akan penulis sampaikan tentang etika da’i dalam berdakwah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Pembahasan
Sosok da’i yang memiliki kepribadian yang sangat tinggi dan tidak pernah kering untuk digali adalah pribadi Rasulullah Saw. Beliau diutus oleh Allah Swt sebagai pemberi kabar gembira dan juga pemberi peringatan, sebagai da’i ke jalan-Nya dan juga sebagai penerangan bagi kehidupan umat manusia dengan cahaya Islam yang dibawanya. Rasulullah Saw merupakan  panutan terbaik bagi seluruh umatnya, pada diri beliau senantiasa ditemukan tauladan yang baik serta kepribadian mulia. Perilaku Rasulullah Saw dalam segala hal adalah perilaku yang dipastikan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, justru perilaku beliau adalah cerminan isi kandungan Al-Qur’an.
Dalam suatu hadits ‘Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Nabi, ia menjawab bahwa akhlak Nabi adalah Al-Quran. Oleh karena itu, bagi setiap da’i hendaknya menjadikan Al-Quran sebagai pedoman untuk dapat menggali nilai-nilai keluhuran dan kebijakan sehingga tingkah laku dan perkataannya merupakan cerminan dari nilai-nilai Ilahiah tersebut.
Dalam menghadapi persoalan-persoalan dakwah, semua acuan harus dikembalikan kepada teladan tunggal yang ditetapkan Allah untuk dirujuki dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan, baik menyangkut duniawi maupun ukhrawi. Semua contoh yang terbaik itu ada pada diri Rasulullah Saw. Oleh karena itu, setiap da’i harus berusaha menjadi teladan yang baik bagi mad’unya. Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 21:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Pada ayat di atas, Allah menegaskan kepada manusia bahwa manusia dapat memperoleh teladan yang baik dari Rasulullah Saw. Rasulullah Saw adalah sosok manusia yang kuat imannya, pemberani, penyabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah Swt dan beliau memiliki ahklak yang sangat mulia. Jika manusia bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, bahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik akhlaknya dan tidak pernah berkata keji, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

 حديثُ عبدِ اللهِ بن عمرٍو رضي الله عنهما، قال : لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ اَحْسَنَكُمْ اَخْلاَقًا (أخرجه البخاري)

“Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi Saw bukanlah seorang yang keji perkataannya, juga tidak biasa berkata keji, bahkan Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian ialah yang terbaik akhlak budi pekertinya”. (HR. Bukhari)
Dakwah adalah pekerjaan yang bersifat propaganda kepada orang lain. Propaganda akan mudah diterima jika orang yang mempropaganda berlaku ramah, sopan, dan ringan tangan untuk melayani obyeknya. Demikian juga dalam berdakwah, seorang da’i dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik seperti ramah, sopan, ringan tangan, dan lain-lain  untuk menunjang keberhasilan dakwah. Salah satu bentuk kepribadian yang dimaksud seperti tertera dalam Surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka itu akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Seorang da’i harus bisa menarik simpati dari orang yang didakwahinya, bisa melalui perkataan yang lembut, materi yang ringan dan mudah dipahami, jangan sampai mempersulit dan menakut-nakuti sehingga mereka malah tidak mau menerima ajaran yang dibawa oleh da’i. Dalam sebuah hadits disebutkan:

حديثُ أنسٍ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَ بَشِّرُوْا ولاَ تُنَفِّرُوْا (أخرجه البخاري)

“Anas r.a berkata: Nabi Saw bersabda: Ringankanlah ajaran dakwahmu dan jangan mempersulit, dan gembirakanlah pengikutmu dan jangan kamu gusarkan”. (HR. Bukhari)
Dalam menjalankan dakwahnya, Rasulullah Saw tidak pernah memisahkan antara apa yang beliau katakan dengan apa yang beliau kerjakan. Artinya, apa yang beliau perintahkan beliau juga mengerjakannya, dan apa yang beliau larang, beliau juga meninggalkannya. Misalnya, dalam hal perintah beliau untuk shalat, beliau bersabda:

صَلُّوا  كَمَا رَأَيْتُمُوْانِيْ اُصَلِّي

“Shalatlah kalian seperti kalian melihat diriku shalat”.
Dengan demikian para sahabat tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah karena mereka telah melihat peragaan praktis mengenaiperintah-perintah itu dari Rasulullah Saw.

Seorang da’i harus memiliki sifat arif dan bijaksana serta sabar atas segala rintangan, sebab ia akan menemui berbagai rintangan dalam berdakwah. Apabila seorang da’i tidak memiliki sifat lembut dan bijaksana, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sebagaimana yang diwasiatkan oleh Lukman Al-Hakim kepada anaknya yang tercantum dalam Al-Quran Surat Lukman ayat 17:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Allah telah menetapkan kaidah-kaidah penting tentang perilaku bijak. Jika perilaku ini dijalankan secara konsisten oleh seorang da’i, Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan oleh Allah. Dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 90 disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Kesimpulan

Sebagai orang yang membawa misi menyampaikan ajaran Islam kepada manusia, seorang da’i berkewajiban meneladani Rasulullah Saw dalam kepribadian yang baik, karena seorang da’i harus menyebarluaskan pesan-pesan risalah yang dibawa oleh Nabi. Perilaku dan amal para da’i adalah cerminan dari dakwahnya, mereka adalah teladan dalam berbicara dan bertindak. Seorang da’i harus mempunyai akhlak yang baik dan menjauhkan diri dari akhlak yang tercela sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadits, karena sikap dan kepribadian seorang da’i mempunyai pengaruh besar bagi keberhasilan dakwah yang disampaikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Baqi, Muhammad Fuad, Mutiara Hadits Shahih Bukhari Muslim, Bina Ilmu, Surabaya, 2005.

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Syaamil Cipta Media, Bandung, 2005.

Faizah, Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, Kencana, Jakarta, 2006.

Hielmy, Irfan, Dakwah Bil Hikmah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002.

No comments

Powered by Blogger.