Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial

Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial
Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial
Pendahuluan

Iman akan dapat terwujud dengan wujudnya ilmu, karena tanpa ilmu, iman tidak akan dapat terwujud dan tumbuh berkembang dengan subur dan mengakar kokoh di dalam hati manusia. Iman merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu Syar`i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu `ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agama. seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya.

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah Ta’ala  berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 52 yang artinya:

"Sebelumnya  engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (Al-Quran) dan apakah iman itu, tetapi kami jadikan Al-Quran itu cahaya, dengan itu kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami” (QS. Asy-Syura : 52).

Setelah keimanan itu tumbuh dengan subur dan mengakar kokoh dalam hati, maka akan lebih berguna dan bermanfaat ketika keimanan itu direalisasikan dalam kehidupan sosial yang nyata. Ukhuwah keimanan lebih unggul dari ikatan kesukuan dan jiwa kebangsaan. Keimanan memenuhi kalbu umat Islam, sehingga mereka lupa kepada kebanggan kebangsaan. Mereka mencerakan kaum keluarganya, anak memerangi bapaknya dan saudara memerangi saudaranya, demi untuk membela keyakinan dan mempertahankan negara baru yang dibangunkan di atas dasar keimanan.
Hidup bantu membantu adalah akibat yang ditmbulkan oleh persaudaraan keagamaan. Ia merupakan perasaan hidup bersama, solidaritas dan merasa sesakit sesenang. Masing-masing merasa bertanggung  jawab untuk keselamatan saudaranya dan memikul beban kawannya dan bukan hanya mementingkan diri sendiri.
Realisasi keimanan yang lain dalam kehidupan ini adalah memiliki rasa cinta terhadap sesama muslim. Pada dasarnya sifat kasih sayang (ar-Rahmah) adalah fitrah yang dianugrahkan Allah kepada pelbagai makhluk. Pada hewan misalnya kita perhatikan begitu kasihnya kepada anaknya, sehingg rela berkorban jika anaknya diganggu. Naluri ini pun ada pada manusia, dimulai dari kasih sayang orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya, hingga dalam lingkungan yang lebih luas: lingkungan keluarga, tetangga, kampung, bangsa dan yang amat luas adalah kasih sayang antara manusia.
Akhlak pun merupakan suatu interpretasi dari keimanan seseorang. Semakin kuat keimanan seseorang, maka akan semakin baik pula akhlak seseorang. Baik akhlak terhadap sesama manusia dan makhluk lain di alam semesta juga akhlak terhadap Allah SWT sang Khaliq yang Maha Mulia. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa mempergunakan dan melaksanakan bagian akidah, ibadat, aturan dan adat istiadat, perlu berpegang kuat dan tekun dalam mewujudkan bagian lain yang disebut dengan akhlak. 
A. Cinta Sesama Muslim Bagian Dari Iman

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dan hidup berdampingan. Semua umat muslim adalah bersaudara. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga hubungan satu sama lain dengan mencintai sesama muslim. Mencintai sesama muslim merupakan salah satu bukti keimanan setiap muslim. Sikap ini juga dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam sabda beliau :
لايؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه (روه البخرى ومسلم )
Artinya : Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan salah satu akhlak yang utama dalam islam. Dijelaskan bagaimana seorang muslim seharusnya berakhlak terhadap sesama muslim. Menurut  musnad Ahmad,  arti dari "tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga". Seorang hamba Allah tidak meraih iman yang benar sampai cintanya untuk manusia sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Maksudnya tidak beriman  di hadits ini, bukan menyatakan menolak iman secara keseluruhan, bukan berarti menjadi kafir, karena tidak mencintai saudaranya. "Ia mencintai saudaranya sebagaimana cintanya untuk dirinya sendiri." Di dalam hadits yang lain, rasul menjelaskan kunci surga yang berhubungan dengan kondisi ini. "Siapa saja yang suka diselamatkan dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Meninggalnya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir dan memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh mereka"
Mencintai sesama muslim dapat dibuktikan dengan berbuat baik pada saudara muslim lainnya. Seorang muslim akan merasa senang jika saudaranya memiliki agama yang baik, aqidah yang benar, tutur kata yang bagus, serta perbuatan yang baik. Ia senang jika saudaranya mendapatkan kebaikan-kebaikan sepeti kesehatan, kecukupan rizki, sejahtera, kedudukan, dan sebagainya.
Sebaliknya, seorang muslim akan tidak senang jika saudaranya hidup sengsara, miskin, dan menderita. Ia pun akan benci bila saudaranya jauh dari agama, selalu berbuat maksiat dan hal tidak baik lainnya. Bila ini terjadi, seorang muslim yang baik akan senantiasa ikhlas menolong saudaranya itu serta menuntunnya kembali ke jalan yang benar/sesuai dengan syariat agama.

Saling tolong-menolong memang kewajiban umat muslim, dan merupakan bukti cinta terhadap sesama muslim. Ini adalah  perbuatan yang terpuji dan disunnahkah. Salah satunya adalah mendahulukan kepentingan saudaranya dalam urusan dunia, seperti bila mendapatkan saudaranya sedang dalam kesulitan. Namun perlu diingat, dimakruhkan bagi seorang muslim mendahulukan kepentingan saudaranya dalam urusan akhirat.
Cinta dan kasih antara sesama muslim dapat dilakukan di mana saja. Di tempat kerja, di sekolah, di rumah, dengan tetangga, bahkan di tempat-tempat umum. Cinta yang terjalin diantara sesama muslim yang tumbuh dan berkembang dengan subur tentunya akan menumbuhkan ukhuwah yang harmonis. Dengan begitu, akan timbul kekuatan yang akan menyatukan muslim demi masa depan umat.
Dalam Ihya Ullumudin, al-Ghazali menulis cerita kisah seorang laki-laki yang rumahnya kemasukan tikus. Laki-laki ini mau mengusir tikus ini dengan kucing, tapi sebelum dia mengusir tikus-tikus, laki-laki bicara dalam hatinya "Saya takut kalau tikus-tikus itu dengar suara kucing, kemudian mereka lari ke para tetangga. Dan saya tidak suka hal ini terjadi pada saya dan saya juga tidak suka tetangga saya itu juga kemasukan tikus.."

B. Adab Bertamu, Bertetangga dan Bertutur Kata Dalam Islam

1. Adab Bertamu
Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Artinya :“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari).
Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.
Adab Bagi Tuan Rumah
1). Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa).
2). Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin.
3). Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
4). Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَجَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

Artinya:“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)

5). Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْن
Artinya:“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
Adab Bagi Tamu
1). Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

•    Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
•    Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
•    Orang yang mengundang adalah muslim.
•    Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
•    Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
•    Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
2). Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
3). Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim.
4). Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)
5). Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًافَلْيُطْعِمْ
Artinya:“Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)
6). Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
7). Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
8). Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

9). Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

10). Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
Artinya:“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”" (HR. Bukhari)
11). Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
Artinya:“Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي
Artinya:“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَقْتَهُمْ
Artinya:“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)
12). Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.
2. Adab Bertetangga

Memuliakan Tetangga Dan Wasiat Akan Hal Tersebut : Allah subhanahu mewasiatkan di dalam kitabnya agar memuliakan tetangga, Allah berfirman : “dan berbuat baiklah kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh “ (An-Nisaa’ : 36). Maka tetangga yang masih keluarga memiliki dua hak : hak keluarga dan hak tetangga, dan tetangga jauh hanya memiliki hak tetangga. Dan keduanya dimuliakan dan diperhatikan kebutuhannya dan diperlakukan dengan baik.

Tetangga yang paling dekat yang saling berdekatan memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga yang jauh. Hukum ini diambil dari pertanyaan Aisyah radhiallahu anha, dia berkata : “Saya berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga maka yang manakah yang saya berikan hadiah? Nabi berkata : “Yang paling dekat pintunya dari rumahmu.

Tidak halal bagi seorang mu’min untuk mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan, dan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari akhir dan dengan mengganggu tetangga, dari apa yang menunjukkan atas besarnya perkara mengganggu tetangga-. Abu Hurairah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.

Dan di dalam hadits yang lain, hadits Abu Syuraih radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, sahabat berkata : Siapakah wahai Rasulullah? Beliau bersabda : “Yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya.
3. Adab Bertutur Kata

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ - متفق عليهعليه
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut:
1). Islam merupakan agama fitrah yang menjunjung tinggi nilai dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dan demikian pentingnya etika dalam Islam, hingga Rasulullah SAW mengkategorikan etika sebagai “faktor” yang paling banyak untuk dapat mengantarkan orang ke dalam surga:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْج الترمذي
Artinya:Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang yang paling banyak masuk surga, beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Kemudian beliau ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, ‘Lisan dan kemaluan.’ (HR. Turmudzi)
2). Diantara etika atau akhlak yang baik adalah etika dalam bertutur kata atau berbicara. Allah SWT bahkan menjadikannya sebagai “perintah” yang wajib untuk dilakukan oleh setiap hamba-Nya, dimanapun dan kapanpun, bahkan terhadap siapapun. Apakah di rumah terhadap keluarganya, di kantor terhadap rekan kerja, atasan atau bawahannya, di masyarakat terhadap tetangganya, dsb. Artinya bahwa bertutur kata yang baik, seharusnya menjadi jati diri bagi setiap muslim. Apabila diibaratkan dengan sebuah pohon, maka bertutur kata yang baik adalah seperti buahnya, yang memberikan manfaat kepada siapapun. Allah SWT berfirman (QS. Al-Ahzab : 70 – 71):

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
3). Bertutur kata yang baik bukan hanya sebagai satu kewajiban, namun lebih dari itu, ia memiilki dampak positif bagi setiap muslim, (sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab : 70–71) di atas. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Allah SWT akan menjadikan orang yang berutur kata dengan baik, bahwa amalnya akan diperbaiki oleh Allah SWT. Menurut Ibnu Katsir firman Allah ( يصلح لكم أعمالكم ) maknanya adalah ( يوفقهم للأعمال الصالحة ) Allah akan menunjukkan mereka pada amal-amal shaleh. Atau memudahkan mereka untuk melakukan amal shaleh.
  • Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. 
  • Mendapatkan kemenangan yang besar (surga). Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah diselamatkan dari Azab Allah SWT serta dihantarkan ke dalam keni'matan yang langgeng (surga).
4). Bahwa dasar untuk bertutur kata yang baik adalah bukan untuk mendapatkan pujian, atau agar dikatakan sebagai orang yang shaleh, dsb. Namun hendaknya dalam bertutur kata yang baik, semata-mata didasari untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT. Sehingga kendatipun ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita, maka kita tetap harus bertutur kata yang baik terhadapnya. Karena tujuan kita dalam bertutur kata yang baik adalah mengharapkan keridhaan Allah, bukan supaya orang lain juga berkata-kata yang baik kepada kita.
5). Kebalikan dari berturur kata yang baik adalah berkata-kata yang kasar dan atau kotor. Indikasi dari suatu perkataan itu baik atau tidak adalah bahwa perkataan kita tidak menjadikan orang lain sakit hati, tersinggung, marah dan kecewa.

6). Diantara bentuk tutur kata yang kurang baik adalah “bercanda” atau guyonan yang malampaui batas.

7). Hadits di atas juga menggambarkan keterkaitan antara bertutur kata yang baik dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menggambarkan bahwa ternyata apapun yang kita ucapkan kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah SWT.

8). Perkataan yang tidak baik akan mengakibatkan “hilangnya” pahala amal shaleh seorang. Dalam sebuah riwayat dikisahkan sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِن فَنِيَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ مسلم

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah SAW bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

C. Meringankan Penderitaan dan Beban Orang Lain

Saat menyisihkan sebagian harta pribadi untuk berderma,mayoritas kita akan merasa sudah meringankan penderitaan orang lain dalam skala tertentu. Begitu juga berbagai bentuk pertolongan yang lain semisal membantu seorang nenek menyeberangi jalanan padat kendaraan, meringankan tugas bunda mengiris sayuran saat memasak, membawakan segelas teh hangat untuk ayah sepulang kerja, mengajari sahabat cara menyelesaikan soal-soal PR yang sulit, dan semacamnya. Perasaan lega yang muncul karena telah ikut menyelesaikan masalah yang dimiliki orang lain setelah berbagai aksi bantuan itu merupakan suatu hal yang sangat manusiawi.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.(QS. Al-Maidah : 2)
Ini adalah prinsip umum kemasyarakatan Islam. Individu-individu haruslah bekerjasama satu dengan yang lain dalam mengatasi musibah dan kesulitan hidup dan mencapai kesejahteraan. Nabi SAW bersabda : “Allah SWT selalu menolong seorang hamba selama ia selalu mau menolong saudaranya”. Sabdanya yang lain : “Barangsiapa yang memudahkan seorang muslim dari kesulitan dunia maka Allah akan memudahkannya dari kesulitan di akhirat”. Kerjasama untuk menciptakan kebaikan dan mencegah kejahatan adalah sesuatu yang kongkrit dalam realisasi Islam.
Mula-mula kerjasama harus terwujud dalam kehidupan keluarga. Hubungan antar suami istri berdiri atas prinsip kerjasama total dalam menjalani kehidupan dunia ini. Istri adalah tempat tinggal dan bernaung dari terik panasnya dunia, sedangkan suami adalah pelindung baginya dalam kehidupan, tempat berlindung dari segala kesusahan hidup dan suamilah yang akan memikul semuanya. Keduanya bekerjasama untuk merawat buah yang dititipkan Allah SWT, yakni anak-anak mereka, mengasuh secara baik-baik dan menumbuhkan nilai-nilai sosial dalam diri mereka, sampai mereka cukup kuat untuk berperan di masyarakat.

PENUTUP

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dan hidup berdampingan. Semua umat muslim adalah bersaudara. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga hubungan satu sama lain dengan mencintai sesama muslim. Mencintai sesama muslim merupakan salah satu bukti keimanan setiap muslim. Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.

Akhlak pun merupakan suatu interpretasi dari keimanan seseorang. Semakin kuat keimanan seseorang, maka akan semakin baik pula akhlak seseorang. Baik akhlak terhadap sesama manusia dan makhluk lain di alam semesta juga akhlak terhadap Allah SWT sang Khaliq yang Maha Mulia. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa mempergunakan dan melaksanakan bagian akidah, ibadat, aturan dan adat istiadat, perlu berpegang kuat dan tekun dalam mewujudkan bagian lain yang disebut dengan akhlak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yamin, 2007, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran, Jakarta: Amzah

Abu Zahrah, Muhammad, 1994, Membangun Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus.

Fakhry, Majid, 1996, Etika dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Syaltut, Syekh Mahmud, 1985, Akidah dan Syari`ah Islam, Jakarta: Bina Aksara
Syarifudin An-Nawawi, Imam Yahya, tt, Kitab Arbain Nawawi, Surabaya: Al-Miftah

Ya`qub, Hamzah, 1996, Etika Islam, Bandung: CV. Diponegoro

No comments

Powered by Blogger.