Dakwah, Jihad dan Terorisme

Dakwah, Jihad dan Terorisme 

Dakwah, Jihad dan Terorisme

A. Pengertian Dakwah, Jihad dan Terorisme
 
Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya (red. pelaku) adalah da’I yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’I sebagai orang yang memanggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya . Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain: Mengajak dan menyeru,  berdo’a, mendakwa, mengadu, memanggil, meminta, mengundang,  malaikat Israfil, gelar, anak angkat.
 
Dari makna yang berbeda tersebut sebenarnya semuanya tidak terlepas dari unsur aktifitas memanggil. Mengajak adalah memanggil seseorang untuk mengikuti kita, berdoa adalah memanggil Tuhan agar mendengarkan dan mengabulkan permohonan kita, mendakwa/menuduh adalah memanggil orang dengan anggapan tidak baik, mengadu adalah memanggil untuk menyampaikan keluh kesah, meminta hampir sama dengan berdoa hanya saja objeknya lebih umum bukan hanya tuhan, mengundang adalah memanggil seseorang untuk menghadiri acara, malaikat Israfil adalah yang memanggil manusia untuk berkumpul di padang Masyhar dengan tiupan Sangkakala, gelar adalah panggilan atau sebutan bagi seseorang, anak angkat adalah orang yang dipanggil sebagai anak kita walaupun bukan dari keturunan kita. Kata memanggil pun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia meliputi beberapa makna yang diberikan Al-Quran yaitu mengajak, meminta, menyeru, mengundang, menyebut dan menamakan. Maka bila digeneralkan makna dakwah adalah memanggil.
 
Dengan demikian dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat.

Dakwah juga bisa diartikan penyebaran ilmu agama Islam yang dilakukan oleh seseorang atau suatu lembaga keagamaan kepada khalayak banyak. Akan tetapi, dakwah tidak bisa hanya diartikan seperti itu saja. Karena pada dasarnya, dakwah itu memiliki arti yang lebih luas dan cara penyampaian yang sangat beragam. Karena ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk berdakwah. Bisa secara langsung atau tatap muka dalam artian seorang da’i atau penceramah langsung berhadapan dengan pendengarnya untuk memberikan tausyiah-tausyiah agama Islam dalam satu ruangan dan waktu. Atau bisa juga secara tidak langsung atau yang  biasa disebut dengan dakwah secara on line.  Dakwah secara on line bisa dilakukan dengan memanfaatkan jasa internet atau hand phone. Dengan begitu, kita bisa berdakwah dimana saja dan kapan saja.

Jihad menurut bahasa (etimologi) berarti kesungguhan dalam mencapai tujuan. Sedang secara morfologis, jihad berasal dari kata kerja ja>hada – yuja>hidu yang berarti mencurahkan daya upaya atau kerja keras, pengertian ini pada dasarnya menggambarkan perjuangan keras atau upaya maksimal yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu dan menghadapi sesuatu yang mengancam dirinya. Menurut E. W. Lane, pengertian jihad adalah bekerja, berjuang, atau bersusah payah, mencurahkan daya upaya atau kemampuan luar biasa dengan kerja keras, usaha maksimal, rajin, tekun, bersungguh-sungguh atau penuh energi, bersakit-sakit atau menanggung beban sakit yang dalam . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jihad diartikan sebagai:

1. usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai perbaikan.
 
2. usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa dan raga.
 
3. perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam. Berjihad berarti berperang (di jalan Allah), berjuang.
 
Ada pula yang menafsirkan jihad menurut bahasa berarti pengerahan seluruh potensi untuk menangkis serangan musuh. Dalam hukum Islam jihad bermakna luas yaitu segala upaya maksimal penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kejahatan, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. 
 
Jihad menurut hukum Islam adalah peperangan melawan orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslim atau negara Islam. Bertujuan untuk meninggikan dan membela agama Islam, menjamin kemerdekaan bertanah air serta memelihara keamanan dan ketentraman kehidupan kaum muslimin, antara lain dalam melaksanakan ajaran agama.
Nurcholis Madjid berpendapat bahwa ada 3 akar jihad:
 
1. Juhdun, yang lebih mengarah pada pengertian kerja keras, yakni kerja keras untuk membela kebenaran yang dalam proses sejarahnya lebih banyak mengandung pengertian fisik
 
2. Ijtihad, yang lebih menunjukan kepada kesungguhan dari segi pemikiran intelektualitas
 
3. Mujahadah, yang lebih mengarah kepada spiritual exercise (pengalaman spiritual) sebagai latihan ruhani yang sungguh-sungguh (sufi)
 
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jihad adalah sebuah perbuatan yang dilakukan oleh orang Islam yang bertujuan untuk menegakan kalimat Allah dan melindungi agamanya, secara sungguh-sungguh dan penuh kerja keras. Baik itu menggunakan pedang, lisan maupun ilmunya. Jika dilihat dari bentuknya  jihad dalam agama Islam dibagu menjdi tiga yaitu:
 
1. Jihad Dakwa, yaitu melalui pikiran dan pengetahuan.

2. Jihad dengan pengerahan senjata (perang). (QS An Nisa (4):49).
Konon nabi  Muhammad SAW sendiri lebih dari dua puluh kali memimpin peperangan fisik guna membela, mempertahankan dan meluaskan agama Islam.
 
3. Berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa (QS An Nisa (4):95. QS 61:11).
 
Terorisme adalah penggunaan kekerasan secara sengaja, tidak dapat dibenarkan, dan bersifat acak, demi tujuan-tujuan politik dengan sasaran orang-orang yang dilindungi. Jelas, tindakan terorisme tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Dalam kenyataannya, sering terdapat kerancuan yang amat besar antara fenomena kekerasan politik dan terorisme. Istilah terorisme berlaku pada kategori tindakan keji tertentu dan tidak pada seluruh tindakan kekerasan yang bersifat politik. Tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan kecuali untuk memerangi ketidak-adilan. Tindakan terorisme berakibat jatuhnya korban pada orang-orang yang semestinya dilindungi agama. Meskipun dalam jihad (perang yang disetujui oleh agama), terdapat keadaan yang mungkin membawa resiko bagi mereka yang tidak ikut berperang, namun membahayakan mereka yang tidak ikut berperang tidak boleh dilakukan secara sengaja atau berlebihan. Oleh karena itu tren “terorisme Islam” secara signifikan memberi gambaran yang keliru terhadap akar keagamaan dari kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslim.
 
B.    Dakwah, Jihad dan Terorisme
 
Jihad dalam islam itu bukanlah untuk menhancurkqn umat, bukanlah untuk mencari kemenangan semata, dam bukan menghina pihak yang kalah. Kehadiran Nabi bukan untuk menekan, bukan untuk memaksa manusia masuk islam, sebagai firman Allah;

لااكراه فى الدين قد تبين الر شد من الغي

tiada paksaan dalam beragama, telah jelas kebenar itu dari kebatilan.
 
Nabi Muhammad itu tidak pernah menjadi seorang raja yang memeksakan dengan kekuasaannya itu agar manusia masuk Islam. Akan tetepi, beliau sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, penyeru kepada Allah, pemberi cahaya, berdasarkan atas izin-Nya. Oleh karena itu, beliau berjuang dalam rangka berdakwah Islamiah, yaitu mengesakan Allah secara murni. 
 
Untuk mencapai hal tersebut, otomatis memerlukan perjuangan yang sering diistilahkan dengan jihad. Seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran). Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !".(QS 4:75)
 
Perang yang mengatasnamakan penegakan Islam namun tidak mengikuti Sunnah Rasul tidak bisa disebut Jihad. Sunnah Rasul untuk penegakkan Islam bermula dari dakwah tanpa kekerasan, hijrah ke wilayah yang aman dan menerima dakwah Rasul, kemudian mengaktualisasikan suatu masyarakat Islami (Ummah) yang bertujuan menegakkan Kekuasaan Allah di muka bumi.

Jadi pertempuran dalam Islam itu dilaksanakan semata-mata hanya untuk membuka pintu dakwah dan menutup kezaliman, dan bukanlah implementasi paksaan untuk masuk Islam. Pertempuran itu dilakukan dalam rangka menolak kekafiran dan permusuhan serta menyelamatkan bangsa-bangsa dari tekanan pihak orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an;

وقا تلو هم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين لله فان انتهوا فلا عدوان الا على اظا لمين

Perangilah oleh kalian mereka itu sehingga tidaklah terjadi fitnah, dan agama Allahlah yang menang, dan jika selesai dari pertempuran, janganlah mengadakan permusuhan kecuali pada oranng-orang yang berbuat zallim(setelah itu).

Pertempuran itu tidaklah disenangi Nabi Muhammad saw., Nabi hanya hendak membuka pintu dakwh Islamiah, sedangkan mereka sendiri menyaksikan atas sepakterjang perjuangannya. Orang-orang beriman membenci pertempuran dan pembunuhan, sedangkan yang mereka cintai hanyalah dakwah Islamiah kepada Tauhidullah, dan menampakkan kebenaran dan keadilan kepada manuusia, serta mewujudkan keimanan kepada Allah wahdahulasyarikalahu(Allah yang tiada sekutu bagi-Nya).

Di masa kita sekarang ini istilah jihad telah diselewengkan maknanya oleh sebagian kelompok. Menurut mereka aksi-aksi terorisme berupa bom bunuh diri, pembunuhan orang-orang kafir tanpa alasan yang benar, dan menimbulkan kekacauan merupakan bagian dari jihad. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan. Ajaran Islam adalah ajaran yang mendatangkan rahmat bagi umat manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.” (QS. al-Anbiya’: 107).

Ibnu Abbas menerangkan bahwa rahmat tersebut bersifat umum mencakup orang yang baik-baik maupun orang yang jahat. Barang siapa yang beriman kepada Nabi Muhammad  maka akan sempurnalah rahmatnya di dunia sekaligus di akhirat. Di antara bukti kasih sayang Islam kepada umat manusia adalah Islam tidak membenarkan penumpahan darah manusia tanpa alasan yang benar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu membunuh nyawa yang diharamkan Allah -untuk dibunuh- kecuali dengan sebab yang benar.” (QS. al-An’am: 151).
 
Al-Baghawi menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah mengharamkan membunuh seorang mukmin dan mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian keamanan dengan umat Islam), kecuali dengan sebab yang benar yaitu sebab-sebab yang membuat orang itu boleh dibunuh seperti karena murtad, dalam rangka qishash (bunuh balas bunuh), atau perzinaan yang mengharuskan hukuman rajam bagi pelakunya. 
 
Demikian juga Islam tidak memperkenankan perilaku bunuh diri -meskipun dengan niat yang baik, yaitu untuk memerangi musuh- sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya), “Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi dirimu.” (QS. an-Nisa’: 29). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu alat maka dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim). Yaitu dia bunuh diri dengan alat untuk membunuh, meminum racun dan lain sebagainya.
 
C. Perbedaan Terorisme dan Jihad
 
Islam membedakan hukum terorisme dan jihad, baik dari aspek pengertian, tindakan yang dilakukan dan tujuan yang hendak dicapai.

Terorisme bersifat merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha). Tujuannya untuk menciptakan rasa takut atau menghancurkan pihak lain, yang dilakukan dengan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.
 
Sedangkan jihad bersifat melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dilakukan dengan cara peperangan. Jihad bertujuan untuk menegakkan agama Allah dan /atau membela hak-hak pihak yang terzhalimi. Jihad dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh dan sudah jelas.
 
Hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun negara. Berdasarkan firman Allah Swt:
 
”...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya...”. (QS. Al Maidah [05]: 32). Rasulullah Saw juga bersabda: ”Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti orang muslim lainnya” (HR. Abu Dawud)
 
Sedangkan hukum melakukan jihad adalah wajib, berdasarkan firman Allah Swt: ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”  (QS. Al Anfal [08]: 60). ”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan Kami hanyalah Allah".  (Al Hajj [22]: 39-40)
 
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka berkata: Tiada Tuhan selain Allah.” Dalam hadits lain, Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Anas, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Jihad berlaku sejak Allah mengutusku sampai umat terakhirku memerangi Dajjal. Dia tidak dibatalkan oleh kelaliman orang yang lalim, dan tidak pula oleh penyelewengan orang yang menyeleweng.”

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam. 

Setelah kita ketahui makna dakwah secara etimologis dan terminologis maka kita akan dapatkan semua makna dakwah tersebut membawa misi persuasive bukan represif, karena sifatnya hanyalah panggilan dan seruan bukan paksaan. Hal ini bersesuaian dengan firman Allah (ayat la ikraha fiddin) ”Bahwa tidak ada paksaan dalam agama.” Maka penyebaran Islam dengan pedang atau pun terror tidaklah bisa dikatakan sesusai dengan misi dakwah. Bahkan tidak ada kaitan antara perilaku atau aktivitas terorisme dengan jihad. Terorisme bukanlah jihad, jihad juga bukan terorisme. Malah, jika kita mau jujur, dilihat dari makna dan praktiknya maka tindakan Israel menggempur Libanon Selatan dan Palestina adalah tindakan terorisme yang sesungguhnya. Demikian pula tindakan Amerika Serikat dibawah pimpinan Bush yang dilanjutkan oleh Barack Obama dalam menghancurkan Afghanistan dan Irak adalah tindakan terorisme. Sejatinya Israel dan AS lah terorisme sejati, bukan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen pendidikan dan kebudayaan, KBBI (Jakarta:Balai Pustaka,1995)

Ensiklopedi Islam ( jakarta : Ichtiar Baru, Van Hoeve,2005).

Ensiklopedi indonesia 3 (jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,1982) 

http://blog.smkn22-jkt.sch.id/khantnt/2010/08/29/jihad-dan-terorisme/., dikutip 19 maret 2011

http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/08/26/jihad-vs-terorisme/., dikutip 19 maret 2011

http://msibki3.blogspot.com/2010/03/pengertian-dakwah.html., dikutip 19 maret 2011

http://www.suara-islam.com/news/konsultasi/fiqih/603-terorisme-dan-jihad., dikutip 17 maret 2011

http://msibki3.blogspot.com/2010/03/pengertian-dakwah.html., dikutip 19 maret 2011

http://basyirin.blog.man18-jkt.sch.id/2010/02/27/definis-dakwah/., dikutip 19 maret 2011

I.E.W. Lane, arabic english lexicon (Cambridge, 1984)

Rachaman Budhy munawar, Ensiklopedi Noerchoish Madjid (Mizan Semesta,cet 1. 2006)

Zahrah Abu , Dakwah Islamiah,(Banbung:PT Remaja Rosdakarya Offset Penulis,1994),ctk. 1.

No comments

Powered by Blogger.