Puisi Rajut Asmara Karya Eri Ahmad Suryadi

Puisi Rajut Asmara
Karya Eri Ahmad Suryadi*

Puisi Rajut Asmara Karya Eri Ahmad Suryadi Part 1

Untaian Cahaya

Kau tercipta dalam keraguan
Melebarkan sayap disaat senja... menyapa
Rona yang terpancar
Membuat batu terkikis cahaya
Sulit ditebak arah utara
Kurcaci datang
Membawa peri kecil yang ada
Angin pun membawa pergi kenuansa
Buih yang kudamba
Hilang ditelan sirna

Sepanjang Usia, Untuk Faturrahmah

Dalam peraduan Sumbawa
Ku ucap huruf “fa”
Membawa kata dalam gerilya
Sepanjang usia
Pistol pun tertancap didada
Menyeret arus air dalam huruf “fa”


Suara Hati

Degub hati degub jumpawa
Untaian kata, mengiringi dalam bisik cerita
Dunia yang gelap
Seakan terang oleh bias cahaya
Burung-burung yang menguntaiku
Mengiringi suara dalam bisik telinga
Dalam fana dunia dan kedap suara
Mekarnya bunga tak lepas ku jaga

 

Pelangi

Kau tampakkan dirimu penuh warna
Saat mendung dan raja alam membabibuta
Sorot yang kau pancarkan
Membuat pupil mata terpana
Saat hati mendambakan kehadiranmu
Tertanam penantian yang yang tak tertunda
Elok pelangi yang kudamba
Laksana lagu rindu yang menentramkan anima.


Menghapus Jejakmu

Selendang sutra tersemayam dihelai tubuhmu
Melambai-lambai penuh irama
Langit biru diwajahmu
Menyematkan hati nan tanya
Ssst....!!!
Aku tak tahu
Lukisan yang kulihat
Dengan gaya yang elok
Meninggalkan dunia yang indah
Berpijak melangkah bersama
Desis angin ke singgasana


Kepala Batu

Tak pernah kulambaikan tangan dalam sapa
Sebagai rona pijak dalam jiwa
Mendesah hati bersinar cahaya
Dalam bunga yang tertanam di kepala

Awan biru Singaperbangsa
Dalam pekatnya kau bersimabah luka
Menelusup gerbong rel kereta
Menepi di awan biru Singaperbangsa
Gemuruh manusia dalam gelora


Tasbih Cinta, Kepada Iroh Muniroh

Kusematkan hitam lembarku
Mengisi hening penuh rindu
Menguntai harapan dalam kalbu
Menghidupkan relung-relung jiwa yang membisu
Meski dunia terbubuhi noda
Keping hati tak ada pancarnya
Dalam untaian-untaian
Tasbih cinta berdebar dibibirnya
Purwokerto, 2010


Pohon, Kepada Faturrahmah

Seekor merpati bersemayam di ranting
Bernyanyi melepaskan teduh terik mentari
Pohon yang sepi
Seakan mendapatkan duri dalam semedi
Gugurnya usia daun
Duri pun lepas dari peraduan
Melangkah bersama angin
Berteduh di gubug petani
Hujan yang dinanti
Membasahi dan meresap kesanubari
Akar yang rapuh
Mekar bersama usia waktu
Kuatnya pohon berduri
Memaksa merpati hinggap kembali
Tapi bunga tak lagi wangi
Ranting pun patah dipijaki
Purwokerto, 2010


Perjalanan Cinta, Kepada Faturrahmah

Tak usah kau lebarkan sayapmu
Seperti kupu-kupu yang mengitari bunga seroja
Tak usah kau jemari jarimu
Dalam uluran harapan
Tak usah kau cintaiku
Demi menerjang samudra
Tak usah kau satukan pulau
Kalau kau tak mampu
Dalam perjalanan cinta
Purwokerto, 2010


Harapan Kosong, Kepada Faturrahmah

Tersudut aku dipelupuk matamu
Saat cahaya dikunyah oleh pejuang cinta
Relung hati yang tak terjaga
Menjadi abu di masanya
Purwokerto, 2010


Peneduh Hati, Kepada Iroh Muniroh

Saat pujangga membubuhkan tinta asmara
Ku tak tahu dimana kau berkelana
Pikirku menepi ke barat laut
Berharap dunia mengikat dua pena
Hingga fajar menyingsing
Burung pun jadi tempat kicaumu
Dan bila siang datang
Ijinkan aku menjadi awan yang meneduhkan hatimu
Purwokerto, 2010


Gerimis Tak Usai, Kepada Faturrahmah

Apa yang kau inginkan
Dari lubang hati yang ditumpuki duri
Apa yang kau cari
Dalam kebun yang dihiasi relung
Kau kafiri aku dengan cintamu
Berlari pada berhala surgamu
Sungguh ku tak mampu
Bertahan dengan penuh nestapa
Melawan dunia yang terhempas
Dalam gerimis yang tak usai
Purwokerto, 2010


Gelisah

Harum bunga dipersimpangan
Mengingatkanku pada seorang bidadari
Dalam cermin yang kupandang
Tersimpan sayup luka dihati
Sendiri hati tertusuk sunyi
Menikam hati yang menangis
Menuju dunia yang bergolak
Merangkai kata gelisah
Purwokerto, 2010


Nafas Surga

Kau kecupkan hatimu dengan asmara
Menghempaskan rindu tak terkira
Dengan luapan samudra cinta
Mekar bunga merambat ke pucuk surga
Purwokerto, 2010


Hari Penuh Cinta

Perlahan kau bisikkan kedalam hatimu
Melebur menjadi anak sungai
Memancar memecah keheningan malam
Membawa kabar gembira pada derita
Tersimpan pada batas perasaanmu
Kau tanam perasaan cinta dihati
Hingga kau kuras habis darahmu dalam ketulusan
Kau bangun dikala fajar menyapa
Mencari hari penuh cinta
Purwokerto, 2010


Kalbu Memanjang dihatiMu

Termenung aku dikala surya pulang keperaduannya
Menunggu angin membawa kabar gembira
Sampai bedug adzan memanggil jiwaku
Menyucikan kalbu memanjang dihatiMu
Purwokerto, 2010


Hujan

Lantunan air yang menginjaki rumahku
Menambah ceria hatimu yang gemerlap
Mengalir bersama gemercik kerinduan
Hinggap bersama terang
Purwokerto, 2010


Pengorbanan

Kau lemparkan tubuhmu menjulang langit
Tumbuh bersama terik mentari
Mengakar bersama jiwa kedamaian
Menjadi awan yang berteduh di bawahmu
Tak pernah kau berharap hati
Walaupun gugur usiamu
Hingga jiwa ini membisu
Berharap kau tetap di sampingku
Purwokerto, 2010 


Di Bawah Tumpukan Seribu Batu

Di bawah tumpukan seribu batu kau terperangkap
Mencari celah menelusuri cahaya
Ingin kau beranjak keluar
Merayap bersama waktu kehidupan
Sulit terasa kulihat kau berjuang melawan padat belerang
Meski terhimpit keterbatasanmu
Hingga terbit mentari memanggilmu

*Eri Ahmad Suryadi adalah penulis kelahiran Pati. Merupakan alumni dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

No comments

Powered by Blogger.