Portofolio Filsafat Islam "Filosof Dan Filsafatnya"

Portofolio Filsafat Islam
"Filosof Dan Filsafatnya"
Portofolio Filsafat Islam "Filosof Dan Filsafatnya"
Add caption
 
PENDAHULUAN
 
Akal merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang paling istimewa bagi manusia. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan dibawa sejak lahir karena manusia ketika lahir belum mengetahui apa-apa.
 
Pengetahuan dapat diperoleh manusia melalui dua pendekatan, pendekatan rasional yang melahirkan filsafat, dan pendekatan intuisi yang melahirkan Tasawuf. Pendekatan rasional digunakan oleh sebagian besar pemikir Yunani, sementara pendekatan intuisi lebih banyak digunakan pemikir Arab. Bagaimana kemudian munculnya kajian Filsafat Islam?
 
Seiring berkembangnya zaman, persoalan manusia semakin kompleks. Hal itu mengakibatkan perkembangan pemikiran manusia. Apalagi berpikir merupakan kebebasan tertinggi manusia. Islam yang sebelumnya (yaitu pada masa Nabi) merupakan doktrin, kemudian menjadi suatu kajian keilmuan. Secara otomatis, untuk mengkaji suatu ilmu apapun tidak bisa tidak berhubungan dengan pertannyaan apa (ciri pertannyaaan filsafat).
 
Dengan demikian, muncullah Filsafat Islam. Akan tetapi, tidak ada satu pemikiran yang dapat terlepas dari pemikiran sebelumnya. Oleh karena itu, pemikiran filsafat orang Arab juga terpengaruh oleh hasil pemikiran bangsa Yunani.
 
Dalam tulisan ini, akan disampaikan beberapa hasil pemikiran para filosof muslim dalam rangka membangun pengetahuan yang terstruktur secara sistematis tentang hal-hal yang paling mendasar, yaitu hakikat Tuhan dan  alam semesta seisinya.
 
PEMBAHASAN 
 
AL-KINDI
 
1. Biografi Singkat Al Kindi
 
Ia adalah seorang filosof besar pertama Arab dan Islam. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Ia berasal dari suku Kindah dari negeri Yaman. Ia lahir di Kuffah sekitar 185 H (801 M), ayahnya bernama Ishak bin Sabah yang pada waktu pemerintahan al-Mahdi dan Harun al-Rasyid pernah menjabat sebagai gubernur Kufah.
 
2. Konsep Pemikiran Al-Kindi
 
Pertama, Hubungan Filsafat dan Agama
 
Al-Kindi merupakan filosof muslim pertama yang sangat berjasa karena usahanya untuk membuka jalan dan menjawab rasa enggan umat Islam untuk menerima filsafat. Menurutnya, antara filsafat dan agama atau akal dan wahyu tidak bertentangan karena masing-masing dari keduanya adalah ilmu tentang kebenaran. Sedangkan kebenaran itu adalah satu (tidak banyak).
 
Kedua, Ketuhanan
 
Pemikiran lain dari Al-Kindi adalah tentang Tuhan. Menurutnya, Tuhan adalah wujud yang bukan ada dari tidak ada. Namun, Tuhan adalah wujud yang tidak berawal dan tidak berakhir. Al-Kindi mengemukakan tiga argumen untuk membuktikan adanya Tuhan. Pertama, baharunya alam. Alam mempunyai permulaan waktu dan setiap yang bermula tentu akan berakhir, sehingga alam ini baharu dan pasti ada yang menciptakannya. Siapa? Dialah yang tidak berawal dan tidak berakhir. Kedua, keanekaragaman dalam wujud. Menurutnya, terjadinya keanekaragaman bukan secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan.
 
Dan Ketiga, kerapian alam. Al-Kindi menegaskan bahwa alam empiris ini tidak mungkin teratur dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya. Pengatur dan pengendalinya tentu yang berada di luar alam dan tidak sama dengan alam.
 
AL-FARABI
 
1. Biografi Singkat Al- Farabi
 
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkan ibn Uzlagh Al Farabi. Dia berasal dari Farab, Transoxiana (sebelah utara Iran). Dia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran yang menikah dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian, ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.
 
2. Konsep Pemikiran Al Farabi
 
Pertama, Ketuhanan
 
Dalam membuktikan adanya Allah, Al-Farabi mengemukakan dalil Wa>jib al-wuju>d dan mumkin al-wuju>d. Menurutnya, segala yang ada ini hanya dua kemungkinan, Wa>jib al-wuju>d dan mumkin al-wuju>d. Adapun yang dimaksud Wa>jib al-wuju>d, adalah wujudnya tidak boleh tidak mesti ada, ada dengan sendirinya, yaitu Allah. Sementara itu, yang dimaksud dengan mumkin al-wuju>d  ialah sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya, yaitu ciptaan Allah.
 
Kedua, Emanasi
 
Dalam perbincangan mengenai proses penciptaan alam, terdapat dua paham besar yang berkembang dalam Islam (mutakallimin), yaitu antara Mu’tazilah (alam tercipta dari sesuatu yang ada) dan Asy’ariah (alam tercipta dari yang ada). Untuk menjembatani kedua pendapat tersebut, dan untuk menegaskan keesaan Allah, Al-Farabi mengemukakan teori yang disebut emanasi (pancaran). Teorinya itu sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato, dan Plotinus.

Menurut Al-Farabi, Allah adalah ‘Aql, ‘A<qil, dan Ma’qu>l (Akal, substansi yang berpikir, dan substansi yang dipikirkan). Allah Maha Sempurna, Ia tidak memikirkan dan berhuungan dengan alam karena terlalu rendah bagi-Nya untuk memikirkan dan berhubungan dengan alam yang tidak sempurna. Allah cukup memikirkan zat-Nya, maka terciptalah energy yang maha dahsyat secara pancaran dan dari energi inilah terjadinya Akal Pertama. Akal Pertama berpikir tentang Allah menghasilkan Akal Kedua dan berpikir tentang dirinya sendiri menghasilkan Langit Pertama. Demikian proses tersebut berlangsung, Akal-akal dan planet-planet terpancar secara berurutan hingga sampai pada Akal Kesepuluh dengan daya yang sudah lemah, maka ia tidak lagi dapat menghasilkan akal sejenisnya dan hanya menghasilkan bumi, roh-roh, dan materi pertama yang menjadi dasar keempat unsure pokok: air, udara, api, dan tanah.

Struktur emanasi Al-Farabi dipengaruhi oleh temuan saintis saat itu, yakni Sembilan planet dan satu bumi. Karenanya, ia membutuhkan sepuluh Akal, setiap satu akal mengurusi satu planet termasuk satu bumi.
 
IBNU MASKAWAIH
1. Biografi Singkat Ibnu Maskawaih
 
Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yakub ibnu Miskawaih. Beliau dilahirkan di kota Rayy (sekarang Teheran, Iran) pada tahun 330 H/ 941M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 shafar 421 H / 16 Februari 1030 M adalah seorang penganut syiah.

2. Konsep Pemikiran Ibnu Maskawaih
 
Pertama, Ketuhanan

Menurut Ibnu Maskawaih, Tuhan adalah zat yang tidak berjism, azali dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan adaNya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkanNya.
 
Kedua, Emanasi
 
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun emanasinya berbeda. Menurut entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif. Akal aktif ini tanpa perantara apapun. Ia qadim, sempurna dan tak berubah. Dari akal inilah timbul jiwa dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di dalam alam ini. Andaikan Allah menahan Pancaran-Nya, maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
 
Ketiga, Kenabian

Menurut Ibnu Miskawaih, nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat kebenaran. Hakekat kebenaran seperti ini juga diperoleh oleh para filosof. Perbedaannya terletak pada teknik memperolehnya. Filosof mendapatkan kebenaran tersebut dari bawah ke atas dari daya indrawi naik ke daya khayal dan naik lagi ke daya fikir yang dapat berhubungan dan menangkap kebenaran dari akal aktif. Sementara itu, Nabi mendapatkan kebenaran diturunkan dari atas kebawah, yakni dari akal aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah.
 
Dan keempat, AkhlaK

Akhak menurut konsep Ibnu Miskawaih ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.

AL-RAZI 
 
1. Biografi Singkat Al-Razi
 
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria ibn Yahya al-Razi. Di barat dikenal Rhazes, lahir di Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H/865 M. Ia hidup pada pemerintahan Dinasti Saman (204-395 H).
 
2. Konsep Pemikiran Al-Razi
 
Pertama, Lima Kekal

Filsafat Al-Razi terkenal dengan ajarannya Lima yang Kekal, yakni al-Ba>ry Ta’ala> (Allah Ta’ala), al-Nafs al-Kulliyat (Jiwa Universal), al-Hayu>la> al-U<la> (Materi Pertama), al-Maka>n al-Muthlaq (Tempat/Ruang Absolut), al-Zama>n al-Muthlaq (Masa Absolut).

Menurut Al-Razi dua dari Lima yang Kekal itu hidup dan aktif; Allah dan Roh. Satu diantaranya tidak hidup dan pasif, yakni materi. Sea lainnya tidak hidup, tidak aktif, dan tidak pula pasif, yakni ruang dan masa.

Timbulnya doktrin adanya yang kekal selain Allah, dalam filsafat Al-Razi ini, agaknya disebabkan adanya filsafat adanya Allah yang merupakan sumber Yang Esa yang tetap.
 
Kedua, Akal, Kenabian, dan Wahyu

Al-Razi dikenal sebagai seorang rasionalis murni. Akal, menurutnya, adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia. Dengan akal manusia dapat memperoleh manfaat sebanyak-banyaknya, bahkan memperoleh pengetahuan tentang Allah. Oleh sebab itu, manusia tidak boleh menyia-nyiakan dan mengekangnya, tetapi harus memberikan kebebasan padanya dan harus merujuknya dalam segala hal.

Pernyataan tersebut membuat Al-Razi dinilai telah menyimpang dari agama. Dari gagasan-gagasan itu, Harun Nasution menyimpulkan bahwa Al-Razi: 1) tidak percaya pada wahyu, 2) Al-Quran bukan mu’jizat, 3) tidak percaya pada nabi, 4)adanya hal-hal yang kekal selain dari Allah.

Akan tetapi, kemudian Harun Nasution meralat apa yang disampaikannya dan menyatakan pernyataannya tersebut dikarenakan ia belum menemukan karya-karya Al-Razi yang lain. Kesimpulannya, Al-Razi adalah seorang intelektual muslim yang menghimbau agar kita menggunakan akal sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya.
 
IBNU SINA 
 
1. Biografi Singkat Ibnu Sina

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina. Di Eropa dia lebih dikenal dengan nama Avicenna. Beliau lahir di sebuah desa Afsyana, daerah Bukhara pada tahun 340 H atau 980 M.
 
2. Konsep Pemikiran Ibnu Sina
 
Pertama, Hubungan Agama dan Filsafat, Ketuhanan, dan Emanasi

Pemikiran Ibnu Sina mengenai ketiga hal di atas, hampir sama dengan apa yang sudah dikemukakan Al-Farabi. Hanya saja, dalam filsafat wujudnya, Ibnu Sina membagi menjadi tiga: wa>jib al-wuju>d, mumkin al-wuju>d, dan mumtani’ al-wuju>d (esensi yang tidak dapat mempunyai wujud).

Selain itu, dalam filsafat emanasinya, Ibnu Sina sedikit berlainan dengan Al-Farabi. Bagi Ibnu sina, Akal Pertama mempunyai dua sifat: sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya. Dengan demikian, Ibnu Sina membagi objek pemikiran akal-akal menjadi tiga: Allah, dirinya akal-akal sebagai pancaran dari Allah, dan dirinya akal-akal ditinjau dari hakikat dirinya.
 
Kedua, Jiwa

Keistimewaan Ibnu Sina terletak pada Filsafat Jiwa. Secara garis besarnya pembahasan Ibnu sina tentang jiwa adalah:

a. Fisika, membicarakan tentang jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

b. Metafisika, membicarakan tentang wujud jiwa, hakikat jiwa, hubungan jiwa dengan jasad, dan kekekalan jiwa.
 
AL-GHOZALI 
 
1. Biografi Singkat Al-Ghozali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Al-Ghazali lahir di Thus bagian dari kota Kurasan, Irak pada 450 H (1056 M). Diperkirakan Al-Ghozali, hidup dalam suasana kesederhanaan sufi tersebut sampai usia 15 tahun (450-465 H).

2. Konsep Pemikiran Al-Ghozali

Pada masa Al-Ghazali, masyarakat telah terpilah-pilah dalam berbagai golongan madzhab fiqh dan aliran teologi. Salah satu sebabnya adalah karena pemikiran masyarakat saat itu sudah terpengaruh oleh pemikiran filsafat Yunani. Hal ini menyebabkan adanya kecurigaan dan penentangan kaum ortodoks terhadap ilmu-ilmu Yunani. Karena dalam kenyataannya, tidak sedikit tokoh muslim yang belajar filsafat akhirnya justru meragukan dan bahkan menyerang ajaran Islam sendiri. Salah satunya adalah Ibn Rawandi. Ia menolak adanya kenabian, setelah belajar filsafat.

Agaknya, Al-Ghazali sendiri juga mengalami konflik batin karena mempelajari filsafat. Ia menderita krisis rohani sebagai akibat sikap kesangsiannya, yang oleh orang barat disebut skeptisme, yaitu krisis yang menyangsikan terhadap semua makrifah, baik yang bersifat empiris maupun rasional. Akibatnya, ia menderita sakit selama enam bulan. Setelah sembuh, ia menulis bukunya yang terkenal Taha>fut al-Fala>sifat (Kerancuan Pemikiran Para Filosof). Ia melontarkan sanggahan luar biasa keras terhadap pemikiran para filosof (dalam hal ini Aristoteles, Plato, Al-Farabi dan Ibnu Sina).

Menurut Al-Ghzali, teori emanasi yang dirumuskan filosof muslim yaitu melimpahnya akal-akal dari Allah adalah angan-angan yang dibuat-buat, pada hakikatnya merupakan kegelapan di atas kegelapan. Sekiranya alam melimpah dari Allah sebagai suatu keniscayaan, misalnya melimpahnya sinar dari matahari, alam ini akan kadim serupa kadimnya Allah. Paham ini sama dengan madzhab panteisme.

Kritikan Al-Ghazali di atas erat hubungannya dengan pemahamannya sebagai seorang tokoh al-Asy’ary. Secara pasti ia tidak mungkin menerima paham emanasi yang berdasarkan pemikiran rasional terhadap paham keagamaan, sedangkan ia sendiri bertolak dari kekuasaan kehendak mutlak Allah.
 
KESIMPULAN
Adanya berbagai macam hasil pemikiran para filosof muslim di atas, perlu kita yakini bahwa tujuan mereka adalah dalam rangka pembuktian keberadaan pencipta alam seisinya ini, yaitu Tuhan, dengan kerangka yang sistematis. Selanjutnya, mengenai keragaman pemikiran mereka perlu juga disikapi secara bijak bahwa hasil pemikiran tersebut tentunya tidak terlepas dari konteks yang ada (latar belakang pendidikan, lingkungan dan sosial kemasyarakatannya). Dengan demikian, masih terbuka lebar bagi pemikir-pemikir yang datang kemudian untuk melakukan pembacaan ulang sehingga hasil pemikiran itu bisa bermanfaat.

No comments

Powered by Blogger.