Peran Bimbingan Konseling (BK) Dalam Membangun Motivasi Berprestasi

Peran Bimbingan Konseling (BK) Dalam Membangun Motivasi Berprestasi

Peran Bimbingan Konseling (BK) Dalam Membangun Motivasi Berprestasi


PENDAHULUAN 
Dalam setiap aktivitas hidupnya, manusia selalu disertai dengan rasa semangat/dorongan untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya. Rasa semangat tersebut biasa disebut sebagai motivasi. Normalnya, manusia tentu ingin mencapai prestasi-prestasi tertentu dalam hidupnya, sesuai keberadaannya. Sebagai contoh, seorang siswa tentu ingin berprestasi dalam hal akademiknya (perlu motivasi belajar), sedangkan para gurunya, dan pegawai tentu juga memerlukan prestasi dalam karirnya (perlu adanya motivasi kerja). Mengingat penulis  masih sebagai pelajar, maka dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas mengenai motivasi belajar sehingga siswa mampu berprestasi. Pembahasan ini tentu juga tidak terlepas dari pembahasan mengenai penyelengaraan pendidikan dan pengajaran yang menunjang tercapainya prestasi siswa.

PEMBAHASAN  
1. Motivasi Belajar
 
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. 

2. Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik
 

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. 
 
Yang dimaksud dengan Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.  Adapun indikator untuk melihat motif itu itu adalah: (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil, (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan. Sedangkan yang dimaksud dengan Motivasi Ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.  Indikatornya adalah: (1) adanya penghargaan dalam belajar, (2) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, (3) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.

3. Asal Mula dan Perkembangan Motivasi
 
Dalam Pendahuluan telah dikemukakan bahwa manusia selalunmenerapkan motivasi dalam stiap aktivitas hidupnya, termasuk dalam belajar. Betapa pentingnya motivasi dalam belajar, karena keberadaannya sangat berarti  bagi perbuatan belajar. Selain itu, motivasi merupakan pengarah untuk perbuatan belajar kepada tujuan yang jelas yang diharapkan dapat dicapai.
 
Di dalam kegiatan belajar, anak memerlukan motivasi. Misalnya anak yang akan ikut ujian, membutuhkan sejumlah informasi atau ilmu untuk mempertahankan dirinya dalam ujian, agar memperoleh nilai yang baik. Jika pada ujian nanti anak tidak dapat menjawab, maka akan muncul motif anak untuk menyontek karena ingin mempertahankan dirinya, agar tidak dimarahi orang tuanya karena memperoleh nilai yang buruk. Dalam kesempatan lain, bisa terjadi anak akan memperlihatkan motif mencuri, jika dihadapkan dengan keadaan lapar. Motif mencuri ini muncul karena juga ingin mempertahankan dirinya, agar memiliki kekuatan untuk berusaha.
 
Meskipun kedua motif itu berasal dari dorongan yang sama, yaitu dorongan mempertahankan diri, motif yang menyebabkan lapar dan motif yang menyebabkan malu karena tidak dapat memperoleh angka yang baik merupakan dua motif yang berbeda. Perbedaan itu, bukan hanya dalam hal bentuk perbuatan yang ditimbulkannya, melainkan juga dalam hal sifat dan hakikatnya. Motif yang menimbulkan perbuatan makan karena lapar merupakan motif asali, sedangkan motif yang menimbulkan perbuatan nyontek karena rasa maluatau takut adalah motif yang sedikit banyak merupakan hasil belajar atau motif yang dipelajari. Dapat diingat, bahwa anak merasa lapar tanpa harus belajar. Akan tetapi, seprang bayi yang baru dilahirkan tidak pernah merasa malu. Rasa malu dan juga takut itu muncul kemudian, yaitu setelah bayi memperoleh berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh perilaku atau keadaan yang memalukan.
 
Motif yang dipelajari itu muncul dari pengalaman Individu selama perkembangan hidupnya. Seorang dewasa selalu menarik tangannya dari bara api, karena menurut pengalamannya, bara api itu panas dan berbahaya. Motif asali yang muncul tanpa dipelajari itu, karena pengaruh pengalaman dan pembelajaran, ternyata dapat berkembang dan berubah. Itu terjadi karena selama perkembangannya, individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Keinginan untuk menyesuaikan diri sesungguhnya berpangkal pada dorongan, kebutuhan dan motif asali untuk berafiliasi atau hidup bersama dengan lingkungannya, terutama dengan sesama manusia. Dengan cara demikian, individu itu mengubah motif asalinya.
 
Dari uraian di atas, tampak bahwa motif merupakan suatu tenaga potensial untuk terjadinya perilaku atau tindakan, sedangkan motivasi merupakan proses pengerahan dan penguatan motif itu untuk diaktualisasikan dalam perbuatan nyata. Dalam kaitannya dengan perilaku, maka motif dan motivasi itu tidak dapat terpisah, sehingga pada gilirannya konsep motivasi telah mencakup motif dan penguatannya. Tatkala orang berucap “Prestasi belajar anak itu rendah karena motivasi belajarnya kurang”, itu berarti bahwa anak itu kurang mampu menjelmakan kekuatan yang dimilikinya secara potensial menjadi perbuatan belajar. Ucapan itu dapat pula berarti bahwa lingkungannya kurang berusaha untuk menguatkan atau mengerahkan tenaga  potensial itu menjadi perbuatan yang aktual.

4. Motif Berprestasi
 
Pada pembahasan di atas, telah diuraikan bahwa terdapat perbedaan antara motif asali dan motif yang dipelajari. Pada pembahasan kali ini, akan diuraikan tentang motif berprestasi. Sebagai ilustrasi, tersebutlah dua orang siswa SD yang sedang menggambar pemandangan alam di belakang sekolahnya, namakanlah Mutiara dan Intan. Pada umumnya, kedua siswa itu memiliki kepandaian dan ketekunan belajar yang sama. Keduanya kebetulan berasal dari lingkungan yang sama, mereka bertetangga dan bertempat tinggal dalam pemukiman yang sama. Namun, dalam pelajaran menggambar mereka berbeda. Mutiara sangat bergairah menggambar dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia telah menghasilkan lukisan pemandangan alam yang “hidup” dengan perspektif yang padan dan tata warna yang serasi. Bagaimana dengan Intan?
 
Intan tidak menghasilkan gambar yang diharapkan. Pada saat pelajaran akan selesai, Intan baru menghasilkan suatu sketsa yang sangat kasar dan hampir tidak berbentuk. Anehnya, meskipun melihat hasil lukisan Mutiara yang sangat bagus, Intan sama sekali tidak berhasrat untuk berusaha menyamai, apalagi bersaing untuk menghasilkan lukisan yang lebih bagus dari Mutiara. Dia seolah-olah pasrah dan berpendapat bahwa memang dia tidak mampu menggambar. Benarkah dia tidak mampu menggambar? Mengapa dia tidak berusaha untuk menggambar? Mengapa dia tidak terangsang oleh hasil lukisan temannya yang bagus itu?
 
Kehendak atau keinginan untuk berhasil sebagaimana ilustrasi kegiatan menggambar antara Intan dan Mutiara, tidak hanya terdapat dalam menggambar atau melukis. Hal itu terjadi pula dalam kehendak untuk berhasil  dalam belajar pada umumnya, bahkan keinginan untuk berhasil dalam kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, motif semacam itu disebut motif berprestasi, yaitu motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan, motif untuk memperoleh kesempurnaan. Motif semacam itu merupakan unsur kepribadian dan perilaku manusia, sesuatu yang berasal dari “dalam” diri manusia yang bersangkutan. Motif berprestasi adalah motif yang dipelajari, sehingga motif itu dapat diperbaiki dan dikembangkan melalui proses belajar.
 
Motif berprestasi sangat berpengaruh terhadap unjuk kerja (performance) seseorang, termasuk dalam belajar. Seseorang yang mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung untuk berusaha menyelesaikan tugasnya secara tuntas, tanpa menunda-nunda pekerjaannya. Penyelesaian tugas semacam itu bukanlah karena dorongan dari luar, melainkan upaya pribadi.  Dia berani mengambil risiko untuk penyelesaian tugasnya itu. Kalau terpaksa menunda pekerjaannya, maka dalam kesempatan berikutnya dia segera menyelesaikan pekerjaannya itu, dengan usaha yang sama dari usaha sebelumnya. Orang yang motif berprestasinya tinggi cenderung memilih rekan kerja dengan kemampuan kerja yang tinggi, dia tidak memerlukan teman kerja yang ramah.
 
Dalam hal itu perlu diperhatikan bahwa tidak selamanya penyelesaian suatu tugas dilatarbelakangi oleh motif berprestasi atau keinginan untuk berhasil. Kadang-kadang seorang individu menyelesaikan suatu pekerjaan sebaik orang yang memilikimotif berprestasi tinggi, justru karena dorongan menghindarkan kegagalan yang bersumber pada ketakutan akan kegagalan itu. Seorang siswa mungkin tampak bekerja dengan tekun karena kalau dia tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik maka dia akan mendapat malu dari gurunya, atau diolok-olok temannya, atau bahkan akan dihukum oleh orang tuanya. Di sini tampak, bahwa “keberhasilan” siswa tersebut disebabkan oleh dorongan atau rangsangan dari luar dirinya.
 
Di dalam belajar dan pembelajaran, dengan sendirinya keberhasilan yang dilatarbelakangi oleh motif berprestasi lebih baik, dalam arti lebih lestari daripada yang diperoleh karena ketakutan akan kegagalan. Dalam kasus keberhasilan karena motif berprestasi, maka hasil kepuasan kerja itu adalah untuk individu yang bekerja, sedangkan dalam keberhasilan karena takut gagal, itu adalah untuk orang lain.

5. Pengertian Bimbingan Konseling
 
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau permpuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. (Crow & Crow, 1960).
 
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consillium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellen” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.
 
Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, pross tersebut dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychology).   
 
Dari pengertian bimbingan dan konseling di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.

6. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
 
Mengingat pentingnya adanya bimbingan dan konseling bagi individu, sekolah sebagai lembaga penyelenggaraan pendidikan juga perlu menyediakan layanan bimbingan konseling di sekolah. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik (siswa, pen.) dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan/ atau klasikal sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi pesrta didik.

7. Peran BK dalam Membangun Motivasi Berprestasi
 
Telah disebutkan sebelumnya bahwa motif berprestasi adalah motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan.  Akan tetapi, keberhasilan seseorang dalam melakukan tugasnya belum tentu karena motif  berprestasi, melainkan disebabkan karena ketakutan akan kegagalan. Jika alasan yang terakhir ini yang mendasari suatu keberhasilan,  Individu (siswa, pen.) itu tidak bisa menikmati hasil kerja kerasnya dan kemungkinan lama kelamaan akan menjadi suatu beban mental. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya untuk membangun motivasi berprestasi agar seorang individu (siswa, pen.) mampu mencapai keberhasilan dalam setiap tugas atau pekerjaannya dengan rasa gembira, bisa menikmatinya sehingga mendapatkan kepuasan dengan hasil yang dicapai.
Untuk itulah, adanya layanan Bimbingan Konseling yang berusaha membantu individu (siswa) memperkembangkan diri secara optimal sangat dibutuhkan. Menurut hemat penulis, peran BK dalam membangun motivasi berprestasi dapat dilakukan dengan penguatan motivasi ekstrinsik, karena pada dasarnya motivasi berprestasi adalah motivasi intrinsik, yang karena merupakan motif yang dipelajari, maka masih dapat berubah.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam penguatan motivasi ekstrinsik menurut hemat penulis, adalah sebagai berikut:
 
a. Pujian dan Penghargaan atas apapun hasil yang diperoleh individu (siswa, pen.) pada mulanya, meskipun buruk. Ungkapan “kesan pertama yang paling terkenang” sepertinya memang benar. Sebab seorang siswa yang hasil kerja pertamanya tidak dihargai, dia tidak akan percaya diri lagi untuk melakukannya.

b. Pemberian Hadiah apabila dalam melaksanakan tugasnya siswa tersebut berhasil. Hal itu akan memotivasinya untuk dapat mengulang keberhasilannya.
c. Pemberian Nasihat, meliputi:

1). Membeitahukan bahwasanya setiap manusia dikaruniai kemampuan yang luar biasa oleh Tuhan.

2). Keberhasilan bisa dicapai oleh siapa saja yang mau berusaha maksimal.

KESIMPULAN 
Motif berprestasi adalah motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Motif semacam itu merupakan unsur kepribadian dan perilaku manusia, sesuatu yang berasal dari “dalam” diri manusia yang bersangkutan. Motif berprestasi adalah motif yang dipelajari, sehingga motif itu dapat diperbaiki dan dikembangkan melalui proses belajar. Untuk itulah, adanya layanan Bimbingan Konseling yang berusaha membantu individu (siswa, pen.) memperkembangkan diri secara optimal sangat dibutuhkan. Menurut hemat penulis, peran BK dalam membangun motivasi berprestasi dapat dilakukan dengan Penguatan motivasi ekstrinsik, seperti Pemberian Pujian dan Penghargaan, Pemberian Hadiah, dan Pemberian Nasihat.

DAFTAR PUSTAKA

Anti, Priyatno dan Erman,  Dasar-Dasar Bimbingan & Konseling, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002

Hikmawati, Fenti, Bimbingan Konseling, Jakarta: Rajawali Press, 2010

Uno, Hamzah B., Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007

No comments

Powered by Blogger.