Mazhab Teologi Asy'ariyyah

Mazhab Teologi Asy'ariyyah
Mazhab Teologi Asy'ariyyah
PENDAHULUAN

Serangan Mu`tazilah terhadap para Fuqaha dan Muhadditsin semakin gencar. Tak seorang pun pakar fiqih yang populer atau pakar hadits yang masyhur luput dari serangan itu. suatu serangan dalam bentuk pemikiran disertai penyiksaan fisik dalam suasana al-Mihnah (inkuisisi). Akibatnya, timbul kebencian masyarakat terhadap mereka yang berkembang menjadi permusuhan dan masyarakat melupakan jasa baik dan jerih payah mereka untuk membela Islam dalam melakukan perlawanan terhadap kaum Zindiq dan budak hawa nafsu. Masyarakat hanya mengingat hasutan mereka kepada para kahlifah untuk melakukan inkuisisi terhadap setiap imam dan ahli hadits yang bertaqwa.

Ketika berkuasa, Al-Mutawakkil menjauhkan pengaruh Mu`tazilah dari pemerintahan. Sebaliknya, dia mendekati lawan-lawan mereka dan membebaskan para Ulama. Para Fuqaha dan ulama yang beraliran Sunni serta orang yang menerapkan metode Sunni dalam pengkajian `aqidah menggantikan kedudukan mereka. Sebagian ulama yang menguasai metode diskusi golongan Mu`tazilah tidak lagi berpegang kepada pendapat-pendapat mereka, malah berusaha membantah pendapat mereka kelompok Sunni. Usaha mereka didukung oleh para ulama terkemuka dan para khalifah.

Pada akhir  abad ke-3 H muncul dua tokoh yang menonjol, yaitu Abu al-Hasan al-Asy`ari di Bashrah dan Abu Manshur al-Matiridi di Samarkand. Mereka bersatu dalam melakukan bantahan terhadap Mu`tazilah, meskipun sedikit banyak mereka mempunyai perbedaan.

A. RIWAYAT SINGKAT AL-ASY`ARI

Abu al-Hasan `Ali Ibn Isma`il al-Asy`ari lahir di Bashrah di tahun 873 M dan wafat di Bagdad pada tahun 935 M. Pada mulanya ia adalah murid al-Jubba`i dan salah seorang terkemuka dalam golongan Mu`tazilah sehingga menurut al-husain Ibn Muhammad al-`Askari, al-Jubba`i berani mempercayakan perdebatan dengannya.

Menurut Ibnu `Asakir, ayah al-Asy`ari adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah dan ahli hadits. Ia wafat ketika al-Asy`ari masih kecil. Sebelum wafat ia berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya as-Saji agar mendidik Asy`ari. Ibu Asy`ari sepeninggal ayahnya, menikah lagi dengan seorang tokoh Mu`tazilah yang bernama al-Jubba`i (w. 303 H/932 M), ayah kandung Abu Hasyim al-Jubba`i (w. 321 H/932 M). Berkat didikan ayah tirinya itu, al-Asy`ari kemudian menjadi tokoh Mu`tazilah. Ia sering menggantikan al-Jubba`i dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu`tazilah. Selain itu, ia banyak menulis buku yang membela alirannya.

Tetapi oleh sebab-sebab yang tdak jelas, al-Asy`ari, sungguhpun telah puluhan tahun menganut paham Mu`tazilah, akhirnya meninggalkan ajaran Mu`tazilah. Sebab yang biasa disebut al-Subki dan Ibn `Asakir, ialah bahwa pada suatu malam al-Asy`ari bermimpi; dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW, mengatakan kepadanya bahwa madzhab ahli Haditslah yang benar, dan madzhab Mu`tazilah salah. Sebab lain bahwa al-Asy`ari berdebat dengan gurunya al-Jubba`i dan dalam perdebatan itu guru tak dapat menjawab tantangan murid.

Salah satu perdebatan itu, menurut, menurut al-Subki, berlaku sebagai berikut :
Al-Asy`ari     :     Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut : Mukmin, Kafir dan anak kecil di akhirat?
Al-Jubba`i     :     Yang Mukmin mendapat tingkat baik dalam surga, yang kafir masuk neraka dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.
Al-Asy`ari     :     kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu?
Al-Jubba`i     :     Tidak, yang mungkin mendapat tempat baik tu, karena kepatuhannya kepada Tuhan. Yang kecil belum mendapat kepatuhan serupa itu.
Al-Asy`ari    :     Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan; Itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau blehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang Mukmin itu.
Al-Jubba`i     :     Allah akan menjawab : “Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab.”
Al-Asy`ari     :     sekiranya yang kafir mengatakan : “Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya. Apa sebabnya engkau tidak jaga kepentinganku?
Di sini al-Jubba`i terpaksa diam.

Dalam rangka menjawab pemikiran kaum Mu`tazilah, al-Asy`ari untuk sementara berdiam diri di rumahnya dan mencoba membandingkan dalil-dalil kedua kelompok di atas. Setelah itu, ia keluar menemui masyarakat dan mengundang mereka untuk berkumpul. Selanjutnya ia naik ke mimbar pada hari Jum`at di masjid Jami` Bashrah dan berkata, “Barangsiapa yang telah mengenalku, maka sebenarnya ia memang telah mengenalku dan barangsiapa yang belum mengenalku, maka kini saya memperkenalkan diri. Saya adalah si Fulan ibn Fulan. Saya pernah mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, bahwa Allah tidak terlihat oleh indra penglihatan kelak pada hari kiamat dan bahwa perbuatan-perbuatan saya yang tidak baik, maka saya sendirilah yang melakukannya. Kini saya  bertaubat dari pendapat seperti itu serta siap untuk menolak pendapat Mu`tazilah da mengungkap kelemahan mereka. Selama ini saya telah menghilang dari hadapanmu karena saya sedang berpikir. Menurut pendapat saya, dalil-dalil kedua kelompok seimbang. Tidak satu pun dalil yang lebih unggul atas dalil yang lain. Kemudian saya memohon petunjuk Allah maka Allah memberikan petunjuk kepada saya untuk meyakini apa yang tertera di dalam kitab-kitab saya. Saya akan melepaskan apa yang pernah saya percayai sebagaimana saya menanggalkan baju saya ini.”Kemudian al-Asy`ari menanggalkan baju yang dikenakannya  dan menyerahkan kepada hadirin kitab yang ditulisnya berdasarkan metode kelompok Fuqaha dan Ahli Hadits.

B. DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI AL-ASY`ARI
Ajaran-ajaran al-Asy`ari sendiri dapat diketahui dari buku-buku yang dituliskannya, terutama dari kitab al-Luma` fi al-Rad `ala ahl al-ziagh wa al-bida` dan al-Ibanah `an usul al-Dianah di samping buku-buku yang ditulis oleh para pengikutnya.  Formulasi pemikiran al-Asy`ari, secara esensial, menampilkan sebuah upaya sintesis antara formulasi ortodoks ekstrim di satu sisi  dan Mu`tazilah di sisi lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksionis terhadap Mu`tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat dihindarinya. Corak pemikiran yang sintesis ini, menurut Watt, barangakali dipengaruhi oleh teologi Kullubiah (Sunni yang dipelopori Ibn Kullab (w. 854 M). 
Pemikiran-pemikiran al-Asy`ari yang terpenting adalah berikut ini.
a. Tuhan dan sifat-sifatnya
Sebagai penentang Mu`tazilah, sudah tentu ia berpendapat bahwa Tuhn mempunyai sifat. Mustahil kata al-Asy`ari Tuhan mengetahui dengan dzat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhann sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`Ilm) tetapi yang mengetahui (`Alim). Tuhan mengetahui dengan pengatahuan dan pengetahuan-Nya bukanlah zat-Nya. Demikian pula dengan sifat-sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. 
Al-Asy`ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Di satu pihak ia berhadapan dengan kelompok Mujassimah (antripomorfis) dan kelompok Musyabbihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam al-Quran dan Sunnah dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harfiahnya. Di lain pihak ia berhadapan dengan kelompok Mu`tazilah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain selain esensi-Nya. Adapun tangan, kaki, telinga Allah atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara harfiah, melainkan harus dijelaskan secara alegoris.
Menghadapi dua kelompok tersebut, al-Asy`ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifatsifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah, melainkan secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiah). Selanjutnya al-Asy`ari berpendapt bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. Sifat-sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi sejauh menyangkut realitasnya (haqiqah) tidak terpisah dari esensi-Nya. Dengan demikian, tidak berbeda dengan-Nya.
Mengenai anthropomorphisme, al-Asy`ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai muka, tangan, mata dan sebagainya dengan tidak ditentukan bagaiamana (bila kaifa) yaitu dengan tidak mempunyai bentuk dan batasan (la yukayyaf wa la yuhad).
b. Kebebasan dalam berkehendak
Perbuatan-perbuatan manusia, bagi al-Asy`ari, bukanlah diwujudkan oleh manusia sendiri, sebagai pendapat Mu`tazilah, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Dari dua pendapat ekstrim, yakni Jabariyyah yang fatalistik dan menganut faham pradeterminisme semata-mata dan Mu`tazilah yang menganut faham kebabasan mutlak dan berpendapat bahwa menusia membedakan antara khalik dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri mngupayakannya (Mukassab). Hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan Manusia).
Demikian pula yang menciptakan pekerjaan iman bukanlah orang mukmin yang tak sanggp membuat iman bersifat tidak berat dan sulit, tetapi Tuhanlah yang menciptakannya dan Tuhan memang menghendaki supaya iman bersisfat berat dan sulit. Istilah yang dipakai al-Asy`ari untuk perbuatan manusia yang diciptakan Tuhan ialah al-kasab. Dan dalam mewujudkan perbuatan yang diciptakan itu, daya yang ada dalam diri manusia tak mempunyai efek.
c. Akal dan Wahyu dan kriteria baik dan buruk
Walaupun al-Asy`ari dan orang-orang Mu`tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-Asy`ari mengutamakan wahyu, sementara Mu`tazilah mengutamakan akal.

Dalam menentukan baik dan buruk punterjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Al-Asy`ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan Mu`tazilah mendasarkan pada akal. Perbuatan Kufur adalah buruk, tetapi orang kafir ingin supaya perbuatan kufur itu sebenarnya bersifat baik. Apa yang dikehendaki oleh orang kafir ini tak dapat diwujudkannya. Perbuatan iman bersifat baik, tetapi berat dan sulit. Orang mukmin ingin supaya perbuatan iman itu janganlah berat dan sulit, tetapi apa yang dikehendakinya itu tak dapat diwujudkannya. Dengan demikian yang mewujdkan perbuatan kufur itu bukanlah orang kafir yang tak sanggup membuat kufur bersifat baik, tetapi Tuhanlah yang mewujudkannya dan Tuhan memang berkehendak supaya kufur bersifat buruk.
d. Qadimnya al-Quran
Al-Quran, berlainan pula dengan pendapat al-Mu`tazilah, bagi al-Asy`ari tidaklah diciptakan sebab kalau diciptakan, maka sesuai dengan  QS. An-Nahl ayat 40 :
انما قولنا لشيئ اذا اردنا ان نقول له كن فيكون
Artinya : Jika Kami menghendaki sesuatu, maka Kami bersabda “terjadilah maka ia pun terjadi.”
Untuk pencitaan itu perlu kata kun, dan untuk penciptaan kun ini perlu pula kata kun yang lain; begitulah seterusnya sehingga terdapat rentetan kata-kata kun yang tak berkesudahan. Dan ini tak mungkin. Oleh karena itu al-Quran tak mungkin diciptakan.

e. Melihat Allah
Tuhan dapat dilihat di akhirat, demikian pendapat al-Asy`ari. Di antara alasan-alasan yang dikemukakannya, ialah bahwa sifat-sifat yang tidak dapat diberikan kepada Tuhan hanyalah sifat-sifat yang akan membawa kepada arti diciptakannya Tuhan. Sifat dapatnya Tuhan dilihat tidak membawa kepada hal ini, karena apa yang dapat dilihat tidak mesti mengandung arti bahwa ia mesti bersifat diciptakan. Dengan demikian kalau dikatakan Tuhan dapat dilihat, itu tidak mesti bahwa Tuhan harus bersifat diciptakan.
f. Keadilan
Al-Asy`ari seterusnya menentang oaham keadilan tuhan yang dibawa kaum Mu`tazilah. Menurut pendapatnya, Tuhan berkuasa mutlak dan tak ada suatu pun yang wajib bagiNya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga kalau ia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Ia bersifat tidak adil dan jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Ia bersifat zalim. Dengan demikian ia juga tidak setuju dengan ajaran Mu`tazilah tentang al-wa`d wa al-wa`id.

g. Kedudukan orang berdosa
Ajaran tentang posisi menengah ditolak. Bagi al-Asy`ari orang yang berdosa besar tetap mukmin, karena imanya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Sekiranya orang yang berdosa besar buknlah mukmin dan bukan pula kafir, maka dalam dirinya akan didapati kufur atau iman, dengan demikian bukanlah ia atheis dan bukanlah monothei, tidak teman dan tidak pula musuh. Hal serupa ini tidak mungkin. Oleh karena itu tidak pula mungkin bahwa orang yang berdosa besar bukan mukmin dan tidak pula kafir.

C. MADZHAB ASY`ARIYYAH SEPENINGGAL AL-ASY`ARI
Madzhab al-Asy`ari memiliki banyak pengikut. Di Irak dan di wilayah-wilayah Islam bagian barat madzhab ini dikenal sebagai madzhab Ahlussunnah wal Jama`ah. Banyak tokoh terkemuka yang menguatkan pandangan al-Asy`ari. Bahkan, sebagian mereka berpegang pada pendapatnya secara fanatik, bukan hanya mengenai kesimpulan yang dicapaianya, melainkan juga dalam premis-premis yang digunakan untuk sampai kepada kesimpulan itu. mereka mengahruskan kepada para pengikutnya untuk mengikuti premis dan kesimpulannya (konklusinya) sekaligus. Tokoh kelompok ini adalah :
1. Abu Bakar al-Baqillani (403 H)

Al-Baqillani adalah seorang ulama besar yang menyaring berbagai kajian yang pernah dilakukan al-Asy`ari. Ia berbicara tentang premis-premis dalil rasional mengenai tauhid. Ia membicarakan masalah jauhar dan `ardh. `Ardh tidak dapat bertempat pada sesama `ardh; ia tidak dapat berada dalam dua masa dan seterusnya. Al-Baqillani tidak hanya memantapkan madzhab al-Asy`ari sesuai dengan konklusi-konklusi yang telah mencapainya sebagaimana telah kami isyaratkan. Lebih dari itu, ia menyatakan tidak boleh mengambil selain premis yang telah dikemukakannya dalam rangka mencapai konklusi tersebut.
Pernyataan al-Baqillani tersebut jelsas merupakan sikap ekstrim dalam mengikuti suatu pendapat dan dalam memberikan dukungan dan pembelaan, sebab premis rasional tidak pernah disebutkan dalam al-Quran maupun sunnah, ruang geraknya luas dan pintunya terbuka lebar. Metode yang dapat ditempuh juga banyak. Boleh saja seseorang sampai kepada dalil-dalil dan bukti-bukti dari berbagai penalaran akal dan menghasilkan berbagai konklusi melalui berbagai eksperimen yang tidak pernah dikemukakan al-Asy`ari. Mengambil cara ini tidaklah buruk selama tidak bertentangan dengan konklusi yang dicapainya dan pemikiran yang dihasilkannya.
2. Al-Ghazali (w.505 H)

Al-Ghazali sesudah al-Baqillani. Ia tidak menempuh jalur al-Baqillani dan tidak menyerukan apa yang diserukannya. Akan tetapi, ia menyatakan bahwa berbeda dalam beragumentasi dengan al-Baqillani belum tentu membawa kepada kesimpulan yang salah. Agama menyeru kepada akal dan orang wajib mempercayai apa yang dibawa al-Quran dan Sunnah serta menetapkannya dengan berbagai dalil yang dikehendaki.

Pada hakikatnya, al-Ghazali tidak mengikuti abu al-Hasan aAsy`ari atau Abu Manshur al-Mathuridi. Ia justru melakukan pengakajian secara liberal dan intensif, tidak seperti pengkajian orang-orang yang bertklid. Ia kebetulan sependapat dengan Asy`riyyah dalam berbagai kesimpulan yang mereka hasilkan, tetapi ia juga berbeda pendapat dengan mereka dalam berbagai hal yang mereka pandang wajib diikuti. Itulah sebabnya banyak diantara pendukung al-Asy`ari yang menuduhnya kafir dan penganut paham Zindiq.

D. DISKUSI ANTARA AL-ASY`ARI DAN AL-JUBBA`I

Marilah kita akhiri pembiacaraan kita tantang Asy`ariyyah dengan sebuah diskusi singkat yang terjadi antara Abu al-Hasan al-Asy`ari dan gurunya Abu `Ali al-Jubba`i, seorang tokoh Mu`tazilah. Topik diskudi berkenaan dengan kewajiban berbuat yang terbaik (wujub al-ashlah) bagi Allah.
Al-Asy`ari     :     Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut : Mukmin, Kafir dan anak kecil di akhirat?
Al-Jubba`i     :     Yang Mukmin mendapat tingkat baik dalam surga, yang kafir masuk neraka dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.
Al-Asy`ari     :     kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu?
Al-Jubba`i     :     Tidak, yang mungkin mendapat tempat baik tu, karena kepatuhannya kepada Tuhan. Yang kecil belum mendapat kepatuhan serupa itu.
Al-Asy`ari    :     Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan; Itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau blehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang Mukmin itu.
Al-Jubba`i     :     Allah akan menjawab : “Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab.”
Al-Asy`ari     :     sekiranya yang kafir mengatakan : “Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya. Apa sebabnya engkau tidak jaga kepentinganku?
Di sini al-Jubba`i terpaksa diam, tidak dapat memberikan jawaban.

PENUTUP

Sesungguhnya letak keunggulan sistem Asy`ari atas lainnya ialah segi metodologinya, yang dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara berbagai ekstremitas. Maka ketika menggunakan metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia tidaklah menggunakannya sebagai kerangka kebenaran itu an sich (seperti terkesan hal itu ada pada para Filusuf), melainkan sekedar alat untuk membuat kejelasan-kejelasan dan itu pun hanya dalam urutan sekunder. Sebab bagi al-Asy`ari, sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadits, yang primer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari Kitab maupun yang dari Sunnah, menurut makna harfiah atau literernya. Oleh karena itu kalaupun ia melakukan ta`wil, ia melakukan hanya secara sekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu jalan tengah antara metode kaum Hambali dan metode ta`wili kaumMu`tazili. Di tengah-tengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, metode yang ditempuh al-Asy`ari ini merupakan jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah alasan utama penerimaan paham Asy`ari hampir secara universal dan itu pula yang membuatnya begitu kukuh dan awet sampai sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Imam Muhammad, 1996, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Jakarta: Logos Publishing House.
Madjid, Nurkholis, 1992, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta : Paramadina.

Nasution, Harun, 1986, Teologi Islam, jakarta: Universitas Indonesia Press.

Rozak, Abdul & Rosihon Anwar, 2009, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia.

1 comment:

Powered by Blogger.