Kebijakan Dakwah di Era Reformasi

Kebijakan Dakwah di Era Reformasi 

Kebijakan Dakwah di Era Reformasi

PENDAHULUAN
 
Sejak paruh kedua dekade 1990-an, tepatnya ketika mulai memasuki era reformasi, terjadi perubahan-perubahan politik yang cukup signifikan, yang dipandang sebagai pendorong proses demokratisasi dan perkembangan masyarakat madani di Indonesia. Kalangan muslim yang sebelumnya berada pada margin politik, mulai masuk ke tengah kekuasaan. Begitu juga dengan pergerakan dakwah Islam, yang telah keras disuarakan, terutama pada masa Moh. Natsir. Dakwah Islam dilakukan dengan gigih, berani, dan melalui kebijakan-kebijakan yang dikontekskan dengan masyarakat.
 
Aktifitas dakwah dikatakan berjalan secara efektif apabila apa yang menjadi tujuan benar-benar dapat dicapai, dan dalam pencapaiannya dikeluarkan pengorbanan-pengorbanan yang wajar. Lebih tepatnya jika kegiatan lembaga dakwah yang dilaksanakan menurut kebijakan-kebijakan yang akan menjamin tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan dan akan menumbuhkan sebuah citra profesionalisme di kalangan masyarakat, khususnya dari pengguna jasa dari profesi da’i.
Dalam era transisi, yakni peralihan dari turunnya presiden soeharto ke tangan Habibi, dakwah perlu didukung dengan metode yang bagus dan pelaksanaan program yang akurat, yang nantinya aktivitas dakwah menjadi matang dan berorientasi jelas di mana cita-cita dan tujuan yang telah direncanakan.
 
Salah satu hal yang urgen dalam dakwah pada era reformasi ialah pengoptimalan manajemen dakwah, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian, dan evaluasi Dakwah. Semuanya itu harus berjalan serasi dan saling berhubungan, karena dilihat dari masyarakatnya yang tengah merasakan ketidakaturan akibat kondisi ekonomi yang chaos.

Dalam kondisi yang baru keluar dari masa krisis, Dakwah Islam sangat sebagai agama rahmatan lil ‘alamin melalui umatnya diharapkan mampu memberi jawaban dan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan hidup, baik yang berkaitan dengan masalah pembangunan maupun dampak dari pembangunan itu sendiri. Di samping itu, Islam juga dapat menjadi motivasi penggerak utama pembangunan. Untuk mewujudkan harapan tersebut, dakwah sebagai corong harus direncanakan dan dikelola secara profesional. Dengan da’i berusaha mengidentifikasi masalah yang dihadapan umat Islam, lalu menganalisisnya dan menginterpretasikan ajaran Islam secara cermat dan seiring  dengan masalah yang dihadapi, yang berkaitan dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan budaya untuk membantu masyarakat mengatasi masalahnya. Itu semua sangat tergantug pada kualitas da’i dan pengelolaan dakwah sebagai salah satu kunci perubahan sosial.
 
PEMBAHASAN
 
1. Kondisi Dakwah di Era Orde Baru
 
Ketika era Reformasi melahirkan banyak partai-partai, maka banyak juga tampil partai-partai, yang berani menyatakan prinsip berasas Islam. Kehadiran partai-partai itu, masih tetap dilihat sebagai bahaya. Aliran politik Islam tetap dicurigai. Ada kecemasan tersendiri. Hal ini telah terjadi, mungkin dikarenakan politisi nasionalis yang bernafas dalam keterikatan dengan paham liberalisme ala barat, dan berdalih demokratisasi. Banyak pula yang mulai menghembus nafas dalam slogan Islam Yes, Partai Islam No.
 
Perjalanan sejarah pemerintahan Orde Baru, dimulai dengan menghapus semua paham politik komunis di Indonesia. Tetapi, gelar yang dicapkan dengan “kontra revolusi”, atau bekas “partai yang dilarang”, masih terus berjalan, hingga puluhan tahun kemudian. Walaupun zaman telah berganti, namun kekuatan umat Islam tetap didorong kepinggiran arena percaturan politik berbangsa. 
 
Dakwah sebagai bagian dari sistem agama Islam yang berfungsi sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam, dapat dilihat dari dua pandangan, yakni: mikro dan makro. Secara mikro, dakwah dipahami sebagai kegiatan yang menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia baik khotbah, pengajian, dan sejenisnya, yang bersifat rutin pada waktu dan tempat tertentu. Pemahaman ini berakibat pada peran dan fungsi dakwah menjadi sempit dan terbatas kegiatan keagamaan yang seremonial, dan terbatas di masjid dan tempat-tempat pengajian saja, di luar itu dianggap bukan tugas dakwah. Akibat lebih lanjut, dakwah hanya dapat menyentuh persoalan luar dari kehidupan umat manusia dan tidak menyentuh inti persoalannya, lebih-lebih memberikan alternatif jalan keluar.
 
2. Bentuk Kebijakan Dakwah di Era Reformasi
 
Secara makro, dakwah pada hakikatnya upaya pembebasan umat manusia secara fundamental hanya untuk mengabdi kepada Allah dan Rasulullah. Perwujudan dari pemahaman ini maka dakwah merupakan akualisasi teologi (iman) yang dimanifestasikan dalam sistem kegiatan dalam bidang sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, dan bertindak pada dataran kenyataan individual dan sosio kultural dalam rangka mewujudkan ajaran Islam pada semua segi kegiatan.  Maka pada masa reformasi, dakwah mengarah pada dua dataran penting: pertama, memberi motivasi kepada masyarakat, agar mereka menyadari situasi perubahan yang sedang berlangsung sehingga terlibat secara positif dan memberi warna serta arah (Islam) bagi dinamika perubahan sosial yang sedang berlangsung. Dengan demikian, perubahan yang terjadi tidak kehilangan makna dan arah.
 
Dakwah merupakan usaha membangun. Dalam pada reformasi ini, dakwah seharusnya menjadi penenang, penyejuk iman, dan akhlak bangsa. Kedua, dakwah bersifat responsif terhadap problem masyarakat, sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai kontrol individu dan sosial. Dengan tetap berpegang pada pemahaman dakwah makro itulah maka Islam rahmatan lil ‘alamin dapat terwujud dalam kehidupan ini dalam rangka untuk menunjukan Indonesia baru. Dengan tetap berpegang pada prinsip amar ma’ruf nahi munkar dan atas dasar hikmah, maka dakwah dapat menembus semua kawasan kehidupan serta permasalahan yang dihadapi umat berikut kemungkinan jalan keluarnya, utamanya dalam menghadapi krisis disegala bidang kehidupan yang semakin lama semakin parah.
 
Di sinilah titik perjuangan atau jihad di bidang dakwah oleh para dai atau lembaga dakwah, dimana sebelum  reformasi bangsa-bangsa  berjuang menguasai wilayah atau berjuang untuk kemerdekaan wilayahnya, sekarang orang mulai berjuang bidang baru, salah satunya yaitu informasi  agar tidak dikendalikan oleh yang menguasai informasi,  dalam rangka membebaskan umat dari dari sifat-sifat kejahiliahan modern dengan pendekatan bil hikmah.  Menurut Sayid Quthub, dakwah dengan metode hikmah akan terwujud apabila memperhatikan tiga factor. Pertama, keadaan dan situasi orang-orang yang didakwahi. Kedua, ada atau ukuran materi dakwah yang disampaikan agar mereka tidak merasa keberatan dengan beban materi tersebut. Ketiga, metode penyampaian materi dakwah dengan membuat variasi sedemikian rupa yang sesuai dengan kondisi pada saat itu.
 
Pada akhir abad ke 20-an di dunia muslim lahir sebuah kesadaran untuk membangun paradigm baru yang diharapkan dapat memberikan keseimbangan (sintesis) antara paradidigma Timur dan Barat, dan sekaligus dapat menjadi paradigma alternative yang dapat menyembatani perbedaan yang cukup controversial antara paradigma  timur yang disebut-sebut paradigm yang disebut sabagai pradigma yang bersifat mistis, religious, serta alamiah denga paradigm Barat yang bersifat positivistik, mekanistik, dan ilmiah. Di mana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.  Memahami paradigma dan komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung dan akhirnya dapat diketahui apa yang dapat diperbuat untuk mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.
 
Merubah paradigma berpikir dan budaya kerja adalah langkah strategis yang harus dimulai sekarang ini juga (tanpa menunda sedetikpun), yaitu agar  berorientasi kepada sasaran khalayak dan ummah (to client or market oriented) dengan pendekatan “bil hikmah wal mauizah hasanah” dan dengan pemanfaatan media (bi al-tadwin). Langkah strategis tersebut harus diimbangi dengan sumber daya yang berkualitas yang akan menjadi juru dakwah behind the media, behind the technology, behind the screen dan on the screen. Tujuannya adalah menyadarkan kaum muslimin, mendidik jiwa mereka dan membekalinya dengan ketakwaan yang cukup untuk memperlihatkan kepadanya keharusan menyatukan barisan.
 
Pada era reformasi dewasa ini, yang sanggup bertahan hanyalah mereka  yang berorientasi ke depan secara bijak, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan. Para sosiolog agama sepakat bahwa intensitas pengaruh agama dalam kehidupan sosial masyarakat semakin lama semakin berkurang sejalan dengan naiknya perkembangan kebudayaan masyarakat tersebut. tetapi berkurangnya pengaruh tersebut bukan pada dataran keberagaman individu, melainkan pada dataran kehidupan beragama secara komunal. Pada masyarakat kota, agama mulai berkurang perannya dalam aspek-aspek tertentu. Misalnya dalam penentuan jenis pendidikan dan afiliasi pada partai politik tidak selalu melibatkan pertimbangan-pertimbangan agama. 
 
Kita telah mengetahui bahwa pada sebelum era reformasi, dakwah Islam atau yang berbau Islam sangat dilarang, karena Islam dianggap sebagai suatu ancaman pada rezim orde baru. Baru setelah lengsernya soeharto, muali ada keterbukaan dan kebebasan, termasuk dakwah Islam. Namun dalam suatu situasi yang baru  terbebas dari kungkungan otoritarianisme rezim soeharto, maka perlu adanya menejemen dalam mendakwahkan Islam, salah satunya yaitu dengan perencanaan, pengorganisasian, penggerekan, pengendalian dan evaluasi dakwah. Dalam pelaksanaan semua itu, perlu adanya sarana untuk menunjang lancarnya kegiatan dakwah. Di antara sarana-sarana yang penting ialah manajemen krisis, yaitu sebuah manajemen yang bersifat insidental yang khusus menangani kejadian mendadak dan krisis yang sifatnya sementara. Dalam organisasi dakwah, sarana-sarana manajemen dapat diterapkan sesuai dengan kondisi yang berkembang. Pada tataran ini, seorang da’i harus mampu menganalisis fenomena yang terjadi dalam masyarakat, dan selanjutnya menentukan apa yang harus dilakukan.  Sarana tersebut ialah:
 
1. Tersedianya informasi
 
2. Adanya kemudahan komunikasi antara da’i dan mad’u
 
3. Adanya intensifitas yang dapat memotivasi juru dakwah.
 
4. Kepercayaan timbal balik antara da’i dan mad’u yang menimbulkan hubungan persaudaraan secara ekstern.
 
5. Mengetahui potensi-potensi yang dimiliki para da’i dan mengembangkannya sesuai dengan potensiya.
 
6. Menetukan keahlian dan otoritas, sehingga pelaksanaan dakwah tidak tumpang tindih
 
Fungsi-fungsi manajemen dakwah merupakan fungsi-fungsi kegiatan yang berangkai, bertahap, berkelanjutan, dan saling mendukung satu sama lain. Untuk itu, harus melihat tujuan dakwah agar manajemen yang tadi dicanangkan agar dapat diterima masyarakat dalam kondisi reformasi. Adapun karateristik tujuan dakwah itu adalah:
 
a. Sesuai, tujuan dakwah bisa selaras dengan misi dan visi dakwah tu sendiri
 
b. Berdimensi waktu, tujuan dakwah harus konkret dan bisa diantisipasi kapan terjadinya.
 
c. Layak, tujuan dakwah hendaknya berupa suatu tekad yang bisa diwujudkan (realistis).
 
d. Luwes, senantiasa bisa disesuaikan atau peka terhadap perubahan situasi dan kondisi umat.
 
e. Bisa dipahami, tujuan dakwah harus mudah dipahami dan dicerna.
 
Penggunaan tujuan dan sasaran dakwah ini akan banyak dibahas pada konteks perencanaan dan manajemen. Sasaran jangka pendeknya dicerminkan dalam rencana operasi terperinci. Dalam kaitan ini, M. Natsir dalam serial dakwah Media Dakwah mengemukakan, bahwa tujuan dari dakwah adalah:
 
a. Memanggil pada syariat, untuk memecahkan persoalan hidup, baik perseorangan atau kelompok, berjamaah-masyarakat, dan sampai antar negara.
 
b. Memanggil pada fungsi hidup sebagai hamba Allah di dunia yang berisi manusia yang heterogen, bermacam karakter, yakni fungsi pelopor dan pengawas manusia.
 
c. Memanggil pada tujuan hidup yang hakiki, ialah menyembah Allah.

Lebih lanjut Abdul Basit memaparkan bahwa peran da’i dan lembaga keagamaan amat urgen. Da’i dan pengurus lembaga keagamaan dapat memberikan wawasan dan ketauladanan dalam mengembangkan sikap yang saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbendaan.  Da’i dalam mengemas materi-materi yang disampaikan kepada mad’u hendaknya lebih mengedepankan materi yang dapat diterima semua kalangan, tidak menimbulkan konflik, relevan dengan problem kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sedang dihadapi manusia, dan materi yang memberikan wawasan bagi umat Islam. Demikian juga, pengurus lembaga keagamaan, dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program-programnya lebih mengarah pada persoalan pokok yang dihadapi umat Islam, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan. Agenda dakwah ke depan sudah seharusnya dikembangkan dalam berbagai kegiatan dan aksi, bukan hanya melalui ceramah saja, terutama di era reformasi dengan masyarakat yang masih dalam kondisi chaos.

KESIMPULAN 
Kondisi masyarakat pasca orde baru atau reformasi yang masih dalam kondisi yang tidak teratur (chaos), sehingga mengakibatkan dakwah Islam harus benar-benar sesuai, yang dapat diterima kepada semua kalangan, bukan hanya saja ceramah. Lebih jauh lagi, para aktivis dan lembaga dakwah harus jeli membangun paradigma dalam melakukan dakwah Islam, karena setelah turunnya soeharto dari kursi kepresidenannya meninggalkan banyak maslah, salah satunya kondisi ekonomi yang mencekik kehidupan rakyat (krisis).

Maka perlu adanya manajemen dalam berdakwah yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerekan, pengendalian dan evaluasi dakwah. Dalam pelaksanaan semua itu, perlu adanya sarana untuk menunjang lancarnya kegiatan dakwah. Di antara sarana-sarana yang penting ialah manajemen krisis, yaitu sebuah manajemen yang bersifat insidental yang khusus menangani kejadian mendadak dan krisis yang sifatnya sementara.

Dakwah hendaknya lebih mengedepankan materi yang dapat diterima semua kalangan, tidak menimbulkan konflik, relevan dengan problem kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sedang dihadapi manusia, dan materi yang memberikan wawasan bagi umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ahamad, Amrullah,. 1985. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial Yogyakarta: PLP2M.
 
Asmaya, Enung. 2003Aa Gym, Dai sejuk dalam Masyarakat Majemuk.Jakarta: Hikmah.
 
Basit, Abdul. 2005. Wacana Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press dan Pustaka Pelajar.
 
http://tulisendw.blogspot.com/2011/01/makalah-dakwah-dalam-era-reformasi.html.
 
Ilaihi, M. Munir dan Wahyu,. 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana.
 
Suisyanto. 2006. Pengantar Filsafat Dakwah. Yogyakarta: Teras.

No comments

Powered by Blogger.