Dakwah Di Tengah Pluralitas Agama Dan Budaya

Dakwah Di Tengah Pluralitas Agama Dan Budaya
 
Dakwah Di Tengah Pluralitas Agama Dan Budaya
PENDAHULUAN 
Islam adalah agama rahmatan lil `alamin yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam, begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW diiutus untuk menyebarkan dan mendakwahkan Islam kepada seluruh penjuru dunia agar bertauhid dan berakidah terhadap satu keyakinan yang berkuasa dengan Mutlak tanpa adanya satu pun yang dapat mempengaruhi kekuasaan dan kehendakNya yakni Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam yang wajib di sembah dan ditaati segala syariat yang telah digariskanNya. Pada masa awal dakwah Islam, yang dihadapi oleh Nabi dan para sahabat beliau masih dapat dikatakan menghadapi satu macam kebudayaan, adat dan kebiasaan yakni masyarakat Makkah. Namun, pada perkembangannya ketika Islam dan Nabi serta para sahabatnya melakukan dakwah dengan jalan perluasan dan penaklukan daerah-daerah, maka disitu Islam dihadapkan pada beragam Budaya juga tidak menutupi pula bersinggungan dengan agama dan akidah yang berbeda pula. Namun, dengan bijaknya, Nabi Muhammad Saw dapat mengatasi masalah-masalah tersebut sehingga tercipta suatu tatanan negara dan pemerintahan yang harmonis, rukun dan damai.
 
Dakwah pada era kontemporer ini dihadapkan pada berbagai tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Itu semua karena terjadi perkembangan dinamika masyarakat yang sangat beragam beik dalam bentuk agama dan budaya yang dianut di tengah masyarakat pada masa ini. Berangkat dari hal tersebut, maka laju perkembangan dakwah pun harus seimbang dengan laju perkembangan masyarakat. Maksudnya adalah aktivitas dakwah itu harus dapat mengikuti laju perkembangan zaman dimana tuntutan-tuntutan zaman harus dipenuhi, karena melihat selama ini aktivitas dakwah jauh tertinggal dengan laju perkembangan zaman sehingga dakwah terkesan jalan di tempat.
 
Maka dari itu, sebagai generasi muda yang notabenenya adalah pelajar yang konsentrasi dalam masalah keislaman, alangkah sangat baik dan kompeten untuk mengembangkan dakwah Islam yang terkesan jalan di tempat ini. Mengingat masyarakat yang beragam budaya dan kepercayaan maka harus dapat memahami apa yang menjadi keingin dan tujuan hidup obyek dakwah sehingga dengan demikian dakwah yang kita laksanakan dapat menjadi pedoman dan panduan bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan bimbingan di tengah-tengah keringnya nilai-nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat.
 
PEMBAHASAN
 
1. Hakikat Dakwah Islam
 
Istilah dakwah langsung diungkapkan oleh Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Quran. Kata dakwah dalam Al-Quran diperkirakan diungkapkan sebanyak 198 kaliyang tersebar dalam 55 surat (176 ayat) dimana dalam penggunaannya masih secara umum oleh Al-Quran artinya masih menggunakan istilah da`wah ila Allah (dakwah Islam) dan da`wah ila al-nar (dakwah setan). Secara terminologi, para ahli berbeda-beda dalam memberikan pengertian tentang dakwah Islam. Ada yang mengartikan dakwah Islam secara luas seperti Hasan al-Banna, ada yang memberikan pengertian bahwa dakwah merupakan transformasi sosial seperti Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Abdul Munir Mulkhan dan ada juga yang menafsirkan dakwah secara normatif yakni mengajak manusia ke jalan kebaikan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhiat .
 
Sedangkan menurut Ismail R. Al-Faruqi dan istrinya Lois Lamya membagi hakikat dakwah Islam pada tiga term: Kebebasan, Rasionalitas dan Universalisme. Ketiganya saling berkaitan dan melengkapi. Kebebasan sangat dijamin dalam agama Islam termasuk kebebasan meyakini agama. Obyek dakwah harus merasa bebas sama sekali dari ancaman, harus benar-benar yakin kebenaran ini penilaiannya sendiri. Jelas, Dakwah tidak bersifat memaksa. Dakwah adalah ajakan yang tujuannya dapat tercapai hanya dengan persetujuan tanpa paksaan dari obyek dakwah. Dakwah Islam merupakan ajakan untuk berfikir, berdebat dan beragumen serta untuk menilai suatu kasus yang muncul. Dakwah Islam tidak dapat disikapi dengan keacuhan kecuali oleh orang bodoh atau berhati dengki. Hak berpikir merupakan sifat dan milik semua manusia, tak ada orang yang dapat mengingkari. Kemudian apa yang diupayakan adalah penilaian, maka hakikat sifat penilaian dakwah tak lain adalah kepasrahan, bebas dan sadar dari obyek dakwah terhadap kandungan dakwah. Keuniversalan Risalah Nabi Muhammad SAW adalah untuk manusia bahkan Jin. Risalahnya berlaku sepanjang masa tanpa batasan ruang dan waktu .
 
2. Manajemen dakwah dan dakwah profesional
 
Jika aktivitas dakwah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen, maka “citra profesional” dalam dakwah akan terwujud pada kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak dipandang dari obyek ubudiyah saja, akan tetapi diinterpretasikan dalam berbagai proses. Inilah yang dijadikan inti dari pengaturan secara manajerial organisasi dakwah. Menurut A. Rosyad Shaleh mengartikan manajemen dakwah yaitu sebuah pengaturan secara sistematis dan koordinatif dalam kegiatan atau aktivitas dakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan sampai akhir dari kegiatan dakwah .
 
Dakwah profesionl adalah dakwah dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsp-prinsip manajemen yakni memandang bahwa dakwah tidak dilihat dari segi ubudiyah saja akan tetapi diinterpretasikan alam berbagai profesi. Juga di sisi lain, dakwah harus berjalan secara efektif dan efisien bilamana apa yang menjadi tujuan dakwah dapat tecapai dan dalam pencapaiannya diperlukan pegorbanan yang wajar. Adapun unsur-unsur yang menjadi manajerial dakwah adalah meliputi takhthith (perencanaan strategi), Tanzhim (pengorganisasian), tawjih (penggerakkan), riqabah (pengawasan dan evaluasi) .
 
3. Pluralisme dan Kebebasan Beragama
 
Dakwah tidak dapat meniscayakan agama yang beraneka ragam. Karena ada keanekaragaman agama ini, maka ada misi dakwah. Agama yang membawa kebahagiaan memungkinkan menjadi sarang konflik, tatkala tafsiran eksklusif muncul dari masing-masing agama. Mengemukakan perang atas nama agama. Kemrdekaan agama dalam lingkup dakwah jika dilihat dengan jitu, merupakan ajang agama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (dimensi positif untuk menarik pengikut). Setiap agama dituntut untuk bersikap dewasa dalam menghadapi segala problem yang berkaitan dengan interaksi antar agama. Pluralisme positif memiliki kaidah bahwa selain agama sendiri masih ada agama lain yang harus dihormati, sikap inilah yang harus dipupuk dan dikembangkan. Kebenaran agama pun tidak ditafsirkan secara rigid (kaku). Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan dalam setiap agama samawi, walaupun masing-masing tradisi agama memiliki bahasa dan bungkusnya yang berbeda-beda. Karena perbedaan bungkus inilah maka kesulitan, kesalahpahaman dan perselisihan antar pemeluk agama seringkali muncul ke permukaan.
 
Rasulullah SAW juga mengembangkan dan memberlakukan pluralisme positif. Ketika beliau berada di Madinah, dengan masyarakatnya yang beraneka ragam agama dan suku, ia mencanangkan Piagam Madinah (Mitsaqul Madinah). Dengan perjanjian yang merupakan manifesto politik penting ini, maka Rasul telah berhasil menyatukan penduduk Madinah yang berbeda agama dan turunan darah untuk menghadapi musuh.
Sebuah paradigma bisa dianggap menawarkan semangat pembebasan jika ia mampu meratakan jalan dan membuka kemungkinan bagi transformasi sosial dalam lingkungan kehidupan di sekitar kita. Paling tidak perubahan pada tingkat kesadaran kita, mesti lebih dulu diwujudkan.
 
Agama, pendeknya, boleh menawarkan jalan kebenaran, tapi tidak boleh merasa paling benar. Agama boleh menawarkan kemenangan tapi tidak boleh cenderung ingin menang sendiri. Allah yang memiliki agama itu, boleh bersikap mutlak, tapi bukanlah kita sendiri makhluk dhaif dan tidak mutlak. Nilai toleransi beragama, ditegaskan dalam satu kaidah atau prinsip tidak ada paksaan dalam agama “tiadalah ada paksaan dalam beragama, nyatalah sudah suatu petunjuk dan kebathilan”.
Maka setelah menegaskan kemerdekaan memeluk agama, Islam berkata bahwa adalah kewajiban tiap-tiap orang beriman supaya mempertahankan  kmerdekaan meyembah Tuhan. Toleransi yang diajarkan dalam Islam adalah toleransi yang mewajibkan tiap-tiap pemeluk agama untuk berjuang dan menjunjung kemerdekaan beragama, bukan bagi agama Islam saja akan tetapi juga bagi agama-agama ahli kitab. Yakni melindungi kemerdekaan menyembah Tuhan dalam Gereja, Biara, Sinagong dan Masjid dimana disebut nama Allah SWT.
 
4. Dakwah dalam Konteks Modern
 
Pemaknaan dakwah dalam konteks modern telah dipergunakan oleh para aktivis dan penulis di bidang dakwah. Sekurang-kurangnya ada empat orientasi dakwah dalam konteks modern, yaitu : pertama, pemaknaan yang lebih berorientasi secara politis (political orientation).  Dakwah digunakan sebagai gerakan untuk menegakkan sistem politik alternatif, penyesuaian sistem politik, masuknya dakwah Islam dalam sistem politik modern dan perlawanan terhadap sistem politik yang tidak Islam. Kedua, pendalaman (interiozation). Gerakan dakwah selain untuk menyampaikan kebenaran kepada orang di luar Islam, juga dipergunakan untuk memperdalam keimanan umat Islam. Ketiga, sebagai organisasi atau lembaga pendidikan dakwah yang modern. Keempat, Dakwah yang berkonsentrasi pada kesejahteraan sosial (social welfare).
 
Mungkin dapat dibuat asumsi, bahwa dakwah “konvensional” tak lagi efektif bagi lapisan bawah. Dakwah “peringatan” (menakut-nakuti) dan dakwah yang persuasif semata-mata tak lagi berdampak kejujuran, kesetiakawanan atau tanggung jawab sosial di kalangan umat. Umat Islam pada lapisan bawah tak dapat lagi menghubungkan secara tepat isi dakwah yang sering didengar (dakwah lisan) dengan realitas kehidupan sosial sehari-hari. Sebab, metode dakwah konvensional memang tak mengajarkannya, misalnya cara menagatasi inflasi moneter, cara memberantas AIDS atau cara ilmiah lainnya untuk memperoleh hasil pertanian yang memadai, memberantas hama dan sebagainya.
 
Dakwah sekarang dan masa mendatang haruslah mencakup “dakwah penyuluhan” atau “dakwah bil hikmatil khasanah” (QS. An-Nahl :92), meskipun tidak perlu merupakan pendidikan keterampilan yang terlalu teknis. Ceramah-ceramah agama idealnya adalah ceramah-ceramah yang bertemakan kebutuhan-kebutuhan nyata sosial ekonomi, tanpa meninggalkan aspek-aspek sakralisasi.
 
Bolehlah dikatakan, kini muncul keperluan baru dalam kegiatan dakwah islamiyyah, sebagai akibat meluasnya dan semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat yang perlu meneriman dakwah. Dakwah pun tak lagi sekadar bermakna sebuah retorika di pusat-pusat kegiatan keagamaan, ia juga harus menjadi “komunikasi nonverbal” atau dakwah bil hal.
 
Lembaga-lembaga dakwah tak hanya berpusat di mesjid-mesjid, di forum-forum diskusi, pengajian dan semacamnya. Dalam pengertian demikian, dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Ia harus berada di bawah, di pemukiman kumuh, di rumah-rumah sakit, di teater-teater, di studio-studio film, musik, di kapal laut, kapal terbang, di pusat-pusat perdagangan, ketenagakerjaan, di pabrik-pabrik, di tempat-tempat pembangunan pencakar langit, di bank-bank, di pengadilan dan sebagainya. 
 
5. Dakwah antar Budaya dan Pluralitas Budaya
 
Dalam proses lalu lintas antar budaya, dakwah merupakan nilai. Nilai dakwah dimaksud adalah Islam. Islam, baik dimaknai sebagai sikap maupun dipahamai sebagai sistem nilai dan pesan yang menyertai transfer suatu dakwah, seperti dalam tabligh, menjadi sangat penting ketika bersentuhan dengan nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat. Terjadi tarik-menarik dan transaksi atau lebih tepatnya terjadi transaksi budaya, sehingga tidak sepenuhnya nilai Islam tersebut langsung mendominasi nilai budaya yang lainnya. Budaya yang berkembang dala suatu masyarakat memang terkadang berbentuk gagasan-gagasan atau ide-ide. Bahkan terkadang sangat abstrak seperti terdapat pada nilai budaya itu sendiri .
 
Dakwah apabila tidak mengindahkan dan memperhatikan nilai-nilai budaya termasuk tradisi dalam beragama yang dianut masyarakat akan tertolak dan segera ditinggalkan umat. Padahal, dakwah selain untuk diri sendiri juga untuk umat. Suatu upaya renungan integratif antara hati, pikir dan amal serta apresiasi terhadap perkembangan ilmu dakwah pada sisi yang lain, sekecil apa pun mesti dilakukan. Karena dalam telaah dakwah antar budaya, dakwah tidak hanya dipahami sebagai the transfer of Islamic values (transfer nilai-nilai Islam) yang luhur kepada manusia di bumi. Tetapi hendaknya mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa melihat latar belakang budaya formal suatu masyarakat.  
 
Kecenderungan dasar masyarakat terhadap kehidupan yang melingkupinya, di samping hidup damai dan harmonis juga sangat rentang terhadap konflik (tend to conflict) dan konfrontatif. Konflik individu dengan dirinya, individu dengan individu lainnya maupun konflik antar masyarakat dalam dakwah adalah bagian dari situasi dan kondisi mad`u yaitu masyarakat yang mudah terkena pertengkaran dan percekcokan dengan penyebab konflik internal (konflik yang berasal dari diri manusia) dan konflik eksternal (konflik yang berasala dari luar diri manusia) yang muncul sangat beraneka ragam.
 
Problematika masyarakat beragama tersebut merupakan masalah sosial sekaligus merupakan problematika dan tantangan dakwah yang bharus dikaji dengan cermat dan dicarikan solusinya malalui kegaiatan dakwah. Secara teoritik, solusi problematika dakwah pada masyarakat yang rentan konflik itu hanya dapat ditempuh melalui pendekatan dakwah intra dan antar budaya, yaitu “ proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da`I dan mad`u, dan keragaman penyebab terjadinyagangguan interaksi pada tingkat intra dan antar budaya agar peran dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai”. Dengan demikian pendekatan dakwah intra dan antar budaya adalah “pendekatan budaya damai sebagai salah satu watak dasar islam sebagai agama perdamaian”.  Perdamaian dimaksud bukan sesuatu yang bersifat statis, tetapi mesti diikuti dengan sikap dan tindakan dalam ranah kompetisi yang sehat dalam mencapai kebaikan.
 
KESIMPULAN
 
Dakwah dapat diartikan cara atau strategi penyampaian nilai nilai Islam baik secara lisan maupun perbuatan yang dilakukan secara individual maupun kelompok agar timbul kesadaran untuk menjelaskan nilai-nilai Islam tanpa adanya unsur paksaan demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Dengan demikian, hakekat dakwah ialah mengajak manusia ke jalan Allah (din al-Islam) untuk memperoleh keselamatan dunia-akherat. 
 
Pluralisme dalam konteks keberagaman adalah mengakui adanya keanekaragaman agama ditengah-tengah kita, sebab pluralisme merupakan fakta atau realitas yang tidak dapat dipungkiri. Pluralisme adalah bukan hanya mengakui keanekaragaman agama semata, tetapi lebih jauh lagi adalah pengakuan secara akomodatif adanya  hukum kemajemukan sebagai suatu aturan Tuhan,  dan terciptanya interaksi sosial antara masyarakat agama secara positif, harmonis, dan berkesinambungan.

No comments

Powered by Blogger.