Bunuh Diri Dalam Perspektif Emile Durkheim

Bunuh Diri Dalam Perspektif Emile Durkheim
Bunuh Diri Dalam Perspektif Emile Durkheim

Kasus bunuh diri akhir-akhir ini marak terjadi. Modusnya sama, yaitu terjun dari gedung bertingkat, baik mal maupun apartemen, namun ada juga bunuh diri dengan cara yang penulis anggap tradisional misalnya gantung diri atau minum racun.
Bunuh diri sudah seharusnya tidak dipandang lagi sebagai satu persoalan yang parsial, melainkan memiliki berbagai variabel kausalitas. Bunuh diri bukanlah masalah pribadi individu secara psikogis semata. Tetapi banyak faktor ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya sebagai faktor sistemik.
Bunuh diri bisa disebut sebagai tindakan a solution permanent to a temporay problem (solusi kekal untuk masalah yang sementara). Untuk masalah-masalah yang sebetulnya ringan seperti putus cinta, gagal membayar hutang, dan masalah lainnya yang menurut calon pelaku bunuh diri adalah besar karena ia hanya bersikap emosional sesaat dalam menghadapi masalah tersebut.
Tindakan mengakhiri hidup telah mengalami pergeseran, yang sebelumnya orang bunuh diri merasa malu dan melakukannnya sembunyi-sembunyi, kini malah dilakukan di tempat umum (mal, apartemen, tower). Jika melihat gejala ini, pelaku bunuh diri sebenarnya ingin menunjukkan penderitaannya kepada khalayak, semacam protes kepada lingkungan, sosial-masyarakat yang tak memahami bahwa mereka sebetulnya mengalami masalah yang berat. Bukan hanya masyarakat yang berada di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang akan mengetahui tindakan ini secara langsung, namun juga masyarakat lain, yang tak melihat secara langsung peristiwa ini. Media massa, terutama televisi, menjadi “informan” yang cepat, berupa audio-visual untuk memberitakan perilaku bunuh diri. Pernah saya menonton berita di televisi swasta, detik-detik seseorang menjatuhkan diri dari sebuah tempat yang tinggi.
Kasus bunuh diri yang merupakan cermin penurunan moral dan ketidak-berdayaan manusia baik secara individu atau masyarakat dalam menghadapi hidup. Ia harus ditempatkan sebagai faktor psiko-patologi-sosial, penyakit masyarakat. Sehingga memunculkan tanggung jawab sosial.
Emile Durkheim sosiolog Prancis, dengan tegas menunjuk tanggung jawab sosial sebagai sumber persoalan tinggi-rendahnya kasus bunuh diri. Studinya terhadap dua segmen religius menunjukan bahwa satu kelompok memiliki potensi bunuh diri lebih banyak. Diketahui bahwa integrasi sosial masyarakat tersebut melemah, memunculkan individualisme dan menciptakan dorongan bunuh diri.
Bunuh diri bagi Durkheim lebih dipahami sebagai persoalan yang datang dari masyarakat. Bunuh diri problem individual yang bersifat saling berkait (dependent variable) dan faktor yang paling berpengaruh adalah persoalan sosial. Lemahnya pengawasan, kekeluargaan, dan saling menjaga antar-individu dalam masyarakat merupakan faktor utama.
Transisi masyarakat tradisional yang memiliki solidaritas mekanik ke masyarakat modern yang dipenuhi solidaritas organik, ternyata juga banyak yang dipertaruhkan. Di balik modernitas yang mengoperasikan pembaharuan hukum dan pengorganisasian masyarakat, ada sisi lain yang justru mmperburuk kondisi masyarakat. Dalam bukunya yang berjudul Suicide (1897) Durkheim menggunakan sejumlah data untuk membuktikan bahwa jumlah orang bunuh diri itu bervariasi sesuai dengan perubahan solidaritasi sosialnya, dan bisa disimpulkan bahwa tindakan bunuh diri yang tampaknya bersifat pribadi itu sebenarnya merupakan respon terhadap kekuatan-kekuatan sosial.
Bunuh diri merupakan dampak dari modernitas yang menggiring masyarakat ke jurang individualisme dan melemahkan integrasi sosial. Individualisme dan melemahkan integrasi sosial, biang keladi faktor psiko-patologi-sosial. Faktor sosial yang terpuruk inilah oleh Durkheim yang membentuk kategorisasi bunuh diri: egoistik, altrustik, dan anomik.
Bunuh Diri Egoistik, dorongan yang dipengaruhi rasa yang tak membutuhkan orang lain dalam hidup. Sudah tidak lagi merasakan arti pentingnya keberadaan orang lain disekitar pelaku. Committed by people who are not strongly supported by membership in a cohesive sosial group (Durkheim, 1987). Hilangnya kepekaan terhadap komunitas, tidak lagi merasakan kemanfaatannya sebagai anggota masyarakat.
Bunuh Diri Altrustik, bunuh diri yang sebaliknya malah lebih memprioritaskan kelompoknya ketimbang pribadinya. Keinginan untuk menghadapi kematian demi membela agama, ras, etnis, dan kelompoknya yang berlebihan merupakan contoh nyata tipikal bunuh diri ini. Committed by people who are deeply committed to group norms and goals and who see their own lives as unimportant (Durkheim, 1987). Kehidupan baginya sudah tidak lagi penting. Baginya yang terpenting adalah identitas dan kepentingan kelompoknya.
Yang terakhir, adalah Bunuh Diri Anomik, ketidak berdayaan pribadi dalam menghadapi arus perubahan lingkungan atau committed by people when society is in crisis or rapid change (Durkheim, 1987). Orang tidak bisa menggapai tujuan-tujuannya di tengah perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Bunuh diri juga jika dipandang dari kaca mata Islam merupakan hal yang dilarang, karena salah satu kewajiban ummat Islam adalah menjaga jiwanya (Hifdzunnafsi). Jadi jelas bahwa bunuh diri merupakan penyakit masyarakat (Patologi Sosial) yang harus disembuhkan demi terciptanya masyarakat yang humanis dan berkeadaban.

No comments

Powered by Blogger.