Sejarah Dan Perkembangan Tasawuf

Sejarah Dan Perkembangan Tasawuf
Sejarah Dan Perkembangan Tasawuf


PENDAHULUAN

Kehidupan dewasa ini telah berkembang menjadi demikian materialistis. Materi menjadi tolok ukur segala hal, kesuksesan, kebahagiaan, semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba-lomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengannya manusia merasa dirinya sukses. Akibatnya, manusia sering bertindak tanpa kontrol demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesama serta ukhuwah islamiah (di kalangan umat islam) nampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai-nilai ilahiah. Nilai-nilai berisikan keluhuran inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya fitrah (sifat dasar) manusia. 

Adanya kecenderungan manusia untuk kembali mencari nilai-nilai ilahiyah merupakan bukti bahwa manusia itu pada dasarnya makhluk rohani disamping sebagai makhluk jasmani. Sebagai makhluk jasmani, manusia membutuhkan hal-hal yang bersifat materi, namun sebagai makhluk rohani ia membutuhkan hal-hal yang bersifat immateri atau rohani. Dalam Islam, kebutuhan akan aspek rohani sejalan dengan orientasi ajaran tasawuf. Bertasawuf adalah fitrah manusia.  Akan tetapi, pada masa Nabi, istilah tasawuf belum dikenal apalagi populer seperti saat ini. Lalu bagaimana sejarah lahirnya tasawuf itu dan bagaimana pula sejarah perkembangannya? 

Dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

PEMBAHASAN

Sejarah Tasawuf

Ibn-Jauzi dan Ibn Khaldun membagi secara garis besar kehidupan kerohanian dalam islam menjadi dua, yakni zuhud dan tasawuf. Hanya saja diakui bahwa keduanya merupakan istilah baru, sebab keduanya belum ada pada masa Nabi Muhammad saw dan tidak terdapat dalam Al-Qur’an, kecuali zuhud yang disebut sekali dalam surat Yusuf ayat 20.

Istilah populer pada masa Beliau adalah Shahabat sebagai panggilan kehormatan bagi pengikutnya. Mereka adalah orang-orang yang terhindar dari sikap syirik dan pola kehidupan jahiliyah, selalu mendengar dan meresapi Al-Qur’an. Ketika beliau bersama shahabatnya hijrah ke Madinah, maka ada istilah baru muncul, yaitu Muhajir dan Anshar. Muhajir berarti suatu orang yang berpindah dari Makkah ke Madinah, sedang Anshar adalah julukan bagi orang yang memberi pertolongan kepeda mereka tadi.

Ketika Islam berkembang dan banyak orang yang memeluk Islam, terjadilah perkembangan strata sosial, maka muncul istilah baru di kalangan shahabat, yaitu Qurra’ (ahli membaca Al-Qur’an), Ahl al-Shuffah, serta Fuqarra’. Pada masa Khulafaur Rasyidin ketiga, istilah Qurra’ adalah sebagai panggilan bagi pengkaji Al-Qur’an. Kemudian pada masa Khalifah yang keempat, muncul istilah Mu’tazilah sebagai pertanda bagi orang yang menghindarkan diri dari pertikaian antara Ali dan lawan-lawannya. Mereka berada di rumahnya masing-masing untuk konsentrasi menjalankan ibadah dan diantara mereka ada yang mengasingkan diri ke gua-gua. Ketika itu muncul istilah ‘Ubbad (ahli ibadah) dan bersamaan dengan itu muncul istilah Khawarij bagi orang yang keluar dari barisan Ali ra, mereka itu semua kelompok zuhud yang umumnya disebut Qurra’.

Setelah kematian Ali dan Husain, muncul orang-orang yang merasa dirinya banyak dosa sehingga selalu bertaubat kepada Allah SWT, mereka ini disebut Tawwabin. Ada pula kelompok yang selalu meratapi kesusahan dan kepedihannya,mereka ini disebut Qashashah (pendongeng), Nussak (ahli ibadah), Rabbaniyah (ahli ketuhanan) dan sebagainya.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa sejarah Islam ditandai dengan peristiwa tragis, yakni pembunuhan terhadap diri Khalifah ketiga, Ustman Ibn Affan ra. Dari peristiwa itu secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlak. Hal ini menyebabkan Shahabat-Shahabat yang masih ada dan pemuka-pemuka Islam yang masih mau berpikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran Islam, kembali ke masjid (I’tikaf), kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya. Inilah benih tasawuf yang paling awal.

Perkembangan Tasawuf dari Masa ke Masa

Dalam sejarah perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat dibedakan ke dalam beberapa periode, yang setiap periode mempunyai karakteristik masing-masing. Adapun periode tersebut adalah sebagai berikut:

1. Abad I dan II Hijriyah

Abad I dan II Hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu. Mereka mengamalkan konsep zuhud dalam kehidupan yaitu tidak terlalu mementingkan makanan enak, pakaian mewah, harta benda melimpah, rumah megah, tahta, pangkat, jabatan dan wanita cantik, tetapi mereka lebih mementingkan beramal ibadah untuk kepentingan akhirat dengan rajin mendekatkan diri kepada Allah.  Diantara 'ulama sufi salafi yang terkenal di masa itu adalah:

a. Hasan al-Basri

Nama lengkapnya adalah al-Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H/642 M dan meninggal di Basrah pada tahun 110 H/728 M.  Hasan al-Basri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. prinsip ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan Sunnah Nabi bahkan beliaulah yang mula-mula memperbincangkan berbagai masalah yang berkaitan dengan hidup kerohanian, tentang ilmu akhlak yang erat hubungannya dengan cara mensucikan jiwa dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela. 

Dasar pendirian Hasan al-Basri adalah hidup zuhd terhadap dunia, menolak segala kemegahannya, hanya semata menuju kepada Allah, tawakal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkaNya tetapi mengharap akan rahmatNya. 

b. Ibrahim bin Adham

Namanya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arab. Dalam sejarah sufi ia dikatakan sebagai seorang pangeran yang meninggalkan kerajaannya, lalu mengembara ke arah barat untuk menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari nafkah yang halal hingga meninggal di negeri Persia kira-kira pada tahun 160 H/777 M. 

c. Sufyan al-Sauri

Namanya adalah Abu Abdullah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al-Sauri al-Kufi. Beliau dilahirkan di Kuffah pada tahu 97 H/715 m dan meninggal di Basrah pada tahun 161 H/778 M. Beliau adalah seorang tabi’in pilihan dan seorang zahid yang jarang ada tandingannya bahkan merupakan ulama hadits yang terkenal, sehingga dalam merawikan hadits, beliau dijuluki amir al-mu’minin dalam hal hadits. Kehidupan kerohaniannya menjurus kepada hidup bersahaja, penuh kesederhanaan, tidak terpukau dengan kemegahan dan kemewahan duniawi.  

d. Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah. Beliau lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M dan meninggal pada tahun 185 H/801 M. Orang-orang mengatakan bahwa beliau dikuburkan di dekat kota Jerussalem. 

Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai usaha yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubb) khas sufi ke dalam mistisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria saleh dengan mengatakan, “Akad nikah adalah hak Pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku hal itu tidak ada karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri! Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup di dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta dariNya, bukan dariku. 

2. Abad III Hijriyah

Dengan datangnya abad ketiga Hijriyah ini, para sufi mulai menaruh perhatiannya terhadap hal-hal yang berkenaan dengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan faham dan akhlaq sufi ditandai dengan upaya menegakkan akhlaq di tengah terjadinya dekadensi moral yang sedang berkembang di masa itu, sehingga di tangan para sufi tasawuf pun berkembang menjadi ilmu akhlaq. Pemberian contoh dalam kehidupan sehari-hari para sufi, akhirnya dapat mendorong kemajuan perubahan pada pola tingkah masyarakat dari yang lebih cenderung mengejar keduniaan yang membuat masyarakat di masa itu lupa pada Allah berubah menjadi masyarakat berakhlaqul karimah. 

Ajaran akhlaq para sufi ini menjadikan tasawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dan mudah dipraktekkan oleh semua orang. Kesederhanaan para sufi dapat dilihat dari kesederhanaan alur pemikiran. Tasawuf pada jalur kesederhaan ini banyak ditampilkan oleh 'ulama sufi salafi di masa itu. Perhatian para sufi di masa itu lebih tertuju kepada realitas pengalaman ke-Islaman yang dipraktekkan dalam kehidupan serhari-hari yang disebut dengan akhlaqul karimah. Mereka menampilkan ajaran tasawuf lewat akhlaq terpuji dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran Islam yang mereka nilai mengandung banyak anjuran untuk beraklak mulia. Kondisi ini mulai berkembang di tengah kehidupan lahiriyah yang sangat formal dan cenderung kurang diterima oleh mereka yang mendambakan konsistensi pangamalan ajaran Islam sampai pada aspek terdalam. Oleh karena itu, ketika para sufi menyaksikan ketidak beresan akhlaq di sekitarnya, mereka menemkan kembali akhlaq mulia, pada masa ini tasawuf lebih identik dengan akhlaq. 

Pada abad ketiga ini terlihat perkembangan tasawuf sangat pesat, ditandai dengan adanya segolongan sufi yang mendalami inti ajaran tasawuf, sehingga didapati ada 3 inti ajaran tasawuf, yaitu:

a. Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa, yaitu ajaran tasawuf yang berisi suatu metode yang lengkap tentang pengobatan jiwa. Ajaran ini mengkonsentrasikan kejiwaan manusia kepada Allah, sehingga ketegangan kejiwaan akibat pengaruh keduniaan dapat teratasi dengan sebaik-baiknya. Inti ajaran tasawuf yang satu ini menjadi dasar teori para psikiater zaman sekarang ini dalam mengobati pasiennya.
b. Tasawuf yang berintikan ilmu akhlaq, yaitu di dalamnya terkandung petunjuk tentang cara berbuat baik dan cara menghindari keburukan. Ajaran ini lengkap dengan riwayat dari kasus-kasus yang pernah dialami oleh para sahabat Nabi. Dari ajaran inilah munculnya ilmu akhlaq.
c. Tasawuf yang berintikan metafisika, yaitu ajaran tasawuf yang berintikan hakikat Tuhan. Dari ajaran inilah munculnya ilmu tauhid, ilmu aqidah, ilmu qalam dan ilmu filsafat.  
Beberapa tokoh tasawuf pada abad III H diantaranya adalah: Ma’ruf al-Karkhi, Abu al-Hasan Surri al-Saqti, Abu Sulaiman al-Darani, Haris al-Muhasibi, Zu al-Nun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Junaid al-Baghdadi, A-Hallaj, dan Abu Bakar al-Syibli.

3. Abad IV Hijriyah

Abad keempat hijriyah ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dari sebelumnya, karena upaya maksimal dari 'ulama tasawuf dalam pengembangan dakwahnya masing-masing, sehingga kota Baghdad yang hanya satu-satunya kota terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf terbesar sebelumnya tersaingi oleh kota-kota besar lainnya.

Upaya untuk mengembangkan ajaran tasawuf di luar kota Baghdad dipelopori oleh beberapa 'ulama tasawuf yang terkenal kesufiannya, yaitu:

a. Musa Al-Anshory: Mengajarkan ilmu tasawuf di Khurasan (Persia atau Iran), wafat di Khurasan pada tahun 320 H.
b. Abu Hamid Bin Muhammad Ar-Rubazy: Mengajarkan ilmu tasawuf di Mesir dan wafat di Mesir pada tahun 322 H.
c. Abu Zaid Al-Adamy: Mengajarkan ilmu tasawuf di Saudi Arabiyah dan wafat di sana pada tahun 314 H
d. Abu Ali Muhammad Bin Abdul Wahab As-Saqafy: Mengajarkannya di Naisabur dan kota Syaraz hingga ia wafat di tahun 328 H.

Di abad keempat ini pula para sufi membagi inti ilmu menjadi 4 tingkatan atau 4 tahapan, yaitu:

a. Ilmu Syari'at
b. Ilmu Tariqat.
c. Ilmu Hakikat.
d. Ilmu Ma'rifat.

Di abad ketiga ini pula dikenal sistem pendidikan dan pengajaran tasawuf yang terlembaga dan terkonsentrasi yaitu: "Suluk", sebagai lanjutan pengajaran ilmu tasawuf yang diajarkan oleh para sufi di abad sebelumnya.  

4. Abad V Hijriyah

Fase ini disebut sebagai fase konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni tasawuf yang sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Tokoh tasawuf pada fase ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali. Ia dilahirkan di Thus Khurasan. Ia hidup dalam lingkungan pemikiran maupun madzhap yang sangat hitorigen. al-Ghazali dikenal sebagai pemuka madzhab kasyf dalam makrifat. Tentang kesunnian al-Ghazali dikomentari oleh muridnya Abdul Ghafir al-Faritsi,”Ahirnya al-Ghazali berkonsentrasi pada hadits Nabi al-Mushthofa dan berkumpul bersama-sama ahli Hadits dan mempelajari kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim. Dia menerima tasawuf dari kelompok persia menuju tasawuf suuni. Itulah sebabnya ia banyak menyerang filsafat Yunani dan menunjukkan kelemahan-kelemahan aliran batiniyyah. Di antara buku karangannya adalah Tahafut al-Falasifah, al-Munqidz Min al-Dlalal dan Ihya` Ulum al-Din. 

Tokoh lainnya adalah Abu al-Qasim Abd al-Karim bin Hawazin Bin Abd al-Malik Bin Thalhah al-Qusyairi atau yang lebih dikenal dengan al-Qusyairi ( 471 H.), al-Qusyairi  menulis al-Risalah al-Qusyairiyah terdiri dari dua jilid. 

5. Abad  VI Hijriyah

Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa ( dzauq ) dan rasio ( akal ), tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani. Pengalaman – pengalaman yang diklaim sebagai persatuan antara Tuhan dan hamba kemudian diteorisasikan dalam bentuk pemikiran seperti konsep wahdah al-wujud yakni bahwa wujud yang sebenarnya adalah Allah sedangkan selain Allah hanya gambar yang bisa hilang dan sekedar sangkaan dan khayalan. 

Tokoh –tokoh pada fase ini adalah Muhyiddin Ibn Arabi atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi ( 560 – 638 H.) dengan konsep wahdah al-Wujudnya. Ibnu Arabi yang dilahirkan pada tahun 560 H. dikenal dengan sebutan as-Syaikh al-Akbar (Syekh Besar). Di masa mudanya, ia pernah menjadi sekretaris hakim tingkat wilayah. Sakit keras yang pernah dialami mengubah sikap hidup yang sangat drastis. Dia menjadi seorang zahid dan abid. Dia menghabiskan waktunya di beberapa kota di Andalusia dan di Afrika Utara untuk bertemu para guru shufi. Umur tiga puluh tahun pindah ke Tunis kemudia ke Fas. Disini, Ibnu Arabi menulis buku berjudul  al-Isra Ila Maqam al-Asra (الإسراء إلى مقام الأسرى ). Kemudian pergi ke Kairo dan al-Quds yang kemudian diteruskan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Arabi beberapa tahun tinggal di Mekkah dan disinilah ia menyusun kitab Taj al-Rasail (تاج الرسائل) dan   Ruh al-Quds (روح القدس) dan pada tahun 598 H. Mulai menulis kitab yang sangat terkenal al-Futuhat al-Makkiyyah (الفتوحات المكية). Ahirnya Ibnu Arabi tinggal di Damaskus dan menulis kitab Fushush al-Hikam (فصوص الحِكَم ). Ibnu Arabi meninggal pada tahun 638 H. 

Tokoh lainnya adalah  al-Syuhrawardi (549 – 587 H.) dengan konsep Isyraqiyahnya. Ia dihukum bunuh dengan tuduhan telah melakukan kekufuran dan kezindikan pada masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayubi. Diantara kitabnya adalah Hikmat al-Israq. Tokoh berikutnya adalah  Ibnu Sab’in (667 H.) dan Ibn al-Faridl (632 H.) 

Pada abad VI juga ditandai dengan munculnya tariqat yakni madrasah shufi yang bertujuan membimbing calon shufi menuju pengalaman ilahi melalui teknik dzikir tertentu. Oleh sebagian orang dikatakan bahwa munculnya taiqat adalah untuk membantu orang-orang –awam agar ikut mencicipi tasawuf karena selama ini pengalaman tasawuf hanya dialami oleh orang-orang tertentu saja ( khawash). Disamping itu kehadiran thariqat juga untuk memagari tasawuf agar senantiasa berada dalam koridor syariat. Itulah sebabnya sistem thariqat sangat ketat. 

KESIMPULAN

Adanya kekacauan pada masa khalifah keempat telah menyadarkan para pemikir Islam selanjutnya untuk kembali pada keindahan hidup zuhud sebagaimana Rasul yang menjalani hidup dalam kesederhanaan. Inilah cikal bakal munculnya tasawuf. Dalam perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat dibedakan ke dalam beberapa periode dengan karakteristik masing-masing. Abad I dan II Hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu. Perkembangan faham dan akhlaq sufi pada abad III H ditandai dengan upaya menegakkan akhlaq di tengah terjadinya dekadensi moral yang sedang berkembang di masa itu, sehingga di tangan para sufi tasawuf pun berkembang menjadi ilmu akhlaq. Abad IV H ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dari sebelumnya, karena upaya maksimal dari 'ulama tasawuf dalam pengembangan dakwahnya masing-masing. Abad V H disebut sebagai fase konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni tasawuf yang sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Abad VI H ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa (dzauq) dan rasio ( akal ), tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani.

DAFTAR PUSTAKA

Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf,  Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002 

http://kcpkiainws.wordpress.com/2009/06/18/sejarah-perkembangan-tasawuf/

http://meetabied.wordpress.com/2009/10/30/285/

Syukur, Amin dan Masyharudin, IntelektualismeTasawuf, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

No comments

Powered by Blogger.