Penyebab Terpuruknya Aktivitas Dakwah

Penyebab Terpuruknya Aktivitas Dakwah
Penyebab Terpuruknya Aktivitas Dakwah

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai aktivitas dakwah, jelas tidak dapat terlepas dari unsur-unsur dakwah yang salah satunya adalah subjek dakwah yaitu Da’i. Keberadaannya sangatlah penting sebab berhasil tidaknya suatu dakwah sangat dipengaruhi oleh bagaimana Ia menyampaikan dakwahnya tersebut. Sebagai seorang muslim, kita mempunyai seorang panutan dalam aktivitas dakwah yang begitu sempurna. Dialah Muhammad saw, nabi penutup zaman. Atas jasa Beliau, masyarakat Arab yang semula menganut budaya jahiliyah berubah ke budaya Islam. Akan tetapi setelah masa nabi berakhir, aktivitas dakwah Islam mengalami pasang surut. Tidak ada dakwah yang melebihi keberhasilan sebagaimana yang pernah dicapai oleh Beliau. Hal tersebut tentulah ada penyebabnya. Ada latar belakang masalah yang mempengaruhinya.

Latar belakang terpuruknya seseorang dalam perjalanan dakwah, ada bermacam-macam. Tidak hanya satu sebab. Faktor penyebab itu, kadang terletak pada gerakannya, kadang juga terletak pada individu atau subjeknya, bisa juga disebabkan karena situasi yang terjadi. Fenomena keterpurukan ini menjadi sesuatu yang penting untuk dikaji secara mendalam mengingat hal ini dapat menyebabkan timbulnya banyak hal yang sangat merusak dan merugikan perjuangan Islam antara lain tersebarnya kesalahpahaman, perpecahan, dan isu yang meracuni iklim pergerakan itu, bisa merugikan orang-orang yang baru masuk Islam dan baru mengenal dakwah.

Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba menyajikan tulisan seputar penyebab terpuruknya dakwah yang penulis ambil dari berbagai sumber. Penulis berharap dengan memahami penjelasan ini para aktivis dakwah akan memiliki bekal kesiapan dalam menghadapi serta meniti jalan dakwah untuk menggapai ridha Allah SWT.
         
PEMBAHASAN

Ada banyak sebab yang memicu keterpurukan seseorang dari medan dakwah yang menjadi tanggung jawab gerakan atau organisasi itu sendiri, antara lain: 

1. Faktor Pergerakan 

a. Pembinaan Yang Lemah

Dalam melakukan dakwah Islam, banyak kelompok dan organisasi dakwah menggunakan pola masif dalam aktivitas dakwahnya. Tujuannya menciptakan arus Islam secara umum. Dengan kata lain membangun Islam tidak dengan pola kaderisasi, namun sepenuhnya kerja yang bersifat massal dan sosial. Penggunaan pola kerja yang bersifat massal di awal langkah seringkali menyebabkan organisasi dakwah tidak mampu menciptakan proses pembinaan terhadap unsur-unsur SDM maupun perangkat-perangkat lain yang berfungsi mengikat serta membimbing masyarakat yang mengikutinya di kemudian hari.

Segi pembinaan dalam aktivitas suatu gerakan hanya mendapat porsi sedikit dibanding segi lain yang bersifat administratif, organisatoris dan politis. Ini tampak nyata dan terus berlanjut dalam kehidupan para pemimpin dan manajer, serta mereka yang memegang kendali kehidupan sosial dan politik. Keadan ini telah membuat mereka putus hubungan dengan aspek pembinaan, dan hal-hal yang berhubungan dengannya, baik teori maupun praktik, padahal pengontrolan setiap individu dengan pembinaan, baik anggota maupun para pemimpin haruslah menjadi agenda utama suatu gerakan dalam kondisisi apapun. Bahkan kondisi buruk yang terkadang menimpa dakwah, mengharuskan peningkatan perhatian pada spek pembinaan ini, bukan sebaliknya. Sebab, kebutuhan manusia akan penjagaaan diri, perhatian, dan peringatan justru menjadi lebih penting pada saat situasi darurat.

Gerakan yang lemah kemampuan pembinaannya untuk memantau kebutuhan setiap anggotanya akan kontrol, monitoring dan pembinaan, maka bangunan dan tubuhnya akan diserang penyakit, sejauh kelemahannya itu. 

b. Penempatan Individu yang Tidak Tepat

Ketidaktepatan menemptkan seseorang individu pada posisinya yang cocok, selalu menyebabkan kegagalan aktivitas dakwah dan kerugian para anggota gerakan. Gerakan yang punya kesadaran dan kematangan adalah gerakan yang mengenali kemampuan, kecenderungan, dan pembawaan para anggotanya, serta mengenali titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka sehingga dapat memilih hal yang cocok dengannya, sesuai dengan kemampuan, kecenderungan, tabiat, dan levelnya 

c. Distribusi Tugas Tidak Merata

Fenomena ketidakmerataan distribusi tugas bagi masing-masing individu, termasuk fenomene yang paling berbahaya bagi gerakan. Sebab, hal itu mengakibatkan aktivitas bertumpuk di tangan sekelompok orang tertentu, sementara sebagian besar anggotanya tidak memperoleh bagian tugas atau pekerjaan.

Setiap anggota gerakan harus merasa memiliki tanggung jawab dan peran, merasa sebagai anggota yang produktif dan aktif, eksis selama dia mampu berbuat sesuatu. Penugasan yang benar bagi setiap potensi adalah penugasan yang tidak menyia-nyiakan tenaga, bagaimanapun kecil atau besarnya. Tidak ubahnya seperti batu bata atau batu kali yang diletakkan oleh tukang bangunan yang pandai, pada tempatnya yang cocok, baik dari segi ukuran maupun bentuknya. Maka jadilah bangunan itu terdiri atas batu-batu ang beragam ukuran dan bentuknya,namun terpadu, harmonis, dan rapi. 

d. Tidak Ada Pemantauan terhadap Anggota

Para anggota gerakan, seperti juga manusia lainnya, mengalami berbagai situasi sulit dan kritis, serta problema yang bermacam-macam baik yang bersifat emosional, kejiwaan, keluarga, ekonomi, dan lain sebaginya. Jika gerakan membantu dan menolongnya mengatasi semua itu, mereka dapat melaluinya dengan tenang dan mereka percaya pada gerakan. Langkah merekapun jadinya mantap, berbekal semangat dan dedikasi. Akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya, mereka pasti mendapat kekecewaan dan kekosongan jiwa bisa melemparkan mereka keluar lingkungan pergerakan bahkan keluar dari lingkungan Islam. 

e. Tidak Segera Menyelesaikan Masalah

Dalam sebuah gerakan, wajar jika muncul suatu masalah yang perlu pemecahan. Suatu masalah, terkadang awalnya kecil dan terbatas. Namun kalau dibiarkandalam kedaan seperti itu, akan dapat memperuncing masalahnya. Bahkan bisa juga mengakibatkan lahirnya masalah lain yang berasal darinya. Oleh sebab itu, apabila muncul suatu masalah, sesegera mungkin cepat diatasi agar tidak berlarut-larut. 

f. Adanya Konflik Internal

Konflik internal dianggap penyakit yang paling berbahaya bagi gerakan dan dapat dikategorikan sebagai salah satu faktor yang merusak dan menghancurkan garakan. Dari satu sisi, konflik internal dapat meracuni dan menggerogoti gerakan. Dari sisi lain, hal itu dapat mewariskan pertengkaran dan pertikaian. Lebih dari itu, konflik internalpun melemahkan dakwah serta menimbulkan permusuhan.

Faktor penyebab timbulnya konflik internal antara lain:

1). Lemahnya kepemimpinan dan ketidakmampuannya mengadakan konsolidasi barisan serta menyelesaikan berbagai masalah.
2). Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebarkan fitnah.
3). Perbedaan watak dan persepsi yang ditimbulkan oleh latar belakang pembinaan dan lingkungan.
4). Perebutan kedudukan, terutama di bidang gerakan dan politik.
5). Tidak adanya komitmen pada kebijakan, kaidah dan dasar gerakan, serta tidak adanya sikap untuk segera merujuk pada ketetapan bersama. Juga penonjolan pribadi dan tingkah laku individu.
6). Kevakuman aktivitas dan produktivitas, yang seharusnya menjadi kesibukan para aktivis dakwah dan pencurahan segenap daya mereka dalam bekerja dan memperjuangkannya.

2. Faktor Internal Individu Anggota Gerakan 

Sesungguhnya tanggung jawab gerakan atas keterpurukan individu anggotanya di jalan dakwah, tidaklah membebaskan individu itu dari pertanggungjawaban. Akan tetapi, sebagian besar faktor penyebab fenomena itu juga bersumber dari para individu itu.

Ada banyak hal yang terkait penyebab gagalnya dakwah dari keterpurukan individu, diantaranya:

a. Watak Yang Tidak Disiplin

Ada orang yang tertarik pada gerakan dalam satu situasi atau karena suatu sebab. Namun dalam perjalanannya, mereka tidak sanggup menyesuaikan diri dengan kebijakan pergerakan, serta tuduk kepadanya.

b. Mengkhawatirkan Nasib Pribadi Dan Ekonomi Keluarga

c. Sikap Ekstrim Dan Melampaui Batas 

Sikap ekstrim dan melampaui batas termasuk diantara faktor penyebab yang mengakibatkan terpuruknya sebagian orang dalam perjalanan dakwah. Mereka membebankan iri di luar kemampuan dan tidak menerima sikap moderat, serta bertekad penuh untuk bersikap ekstrim.  Sikap seperti ini tidak baik karena sesungguhnya diri manusia itu lemah. Pada suatu saat, kadang dia mampu memikul berbagai kewajiban. Namun ia tak kuat menanggungnya sepanjang masa, karenanya, ia akan memikulnya secara berangsur-angsur, sampai pada sutu waktu ia mampu tapi tidak sekaligus.

Allah SWT mengecam perilaku yang melampaui batas atau berlebih-lebihan. Sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. al-Isra: 27 yang artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar terhadap Tuhannya.” 

d. Terlalu Mengentengkan Dan Meremehkan

Orang-orang yang bersikap terlalu mengentengkan dalam melaksanakan perintah Allah dan komitmennya dengan hukum syara, akan mendapatkan diri mereka terdorong dari sikap mengentengkan hal-hal yang kecil pada sikap mengentengkan hal-hal yang besar. Mengentengkan satu soal, menjadi mengentengkan semua soal. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya setan dapat menaklukkan mereka dan amal mereka. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. menyatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
ياعا ئشة ا ياك و محقرات الذنوب فان لها من الله طا لبا

“Hai Aisyah, hendaklah engkau menjauhi sikap meremehkan dosa, sesungguhnya dosa-dosa itu mempunyai penuntut dari Allah.” (HR. An-Nasa’i)

e. Senang Menonjolkan Diri

Diantara sebab dan latar belakang mundurnya seseorang dari perjalanan dakwah adalah penyakit gemar tampil. Penyakit tersebut merupakan penyakit yang berbahaya dan akan membinasakan para da’i, memusnahkan pahala amal, dan mencelakakan masa depannya.

f. Cemburu Terhadap Orang Lain

Setiap jamaah memiliki anggota yang berasal dari beragam tingkat kualitas pribadi, kejiwaan, semangat, kebersamaan, dan pemikirannya. Kecerdasan, peradaban, dan kemampuan berkomunikasi lisan atau tulisan itu bertingkat-tingkat. Inilah yang menjadikan pengorbanan, pengaruh, dan tindakan para pelaku dakwah berbeda-beda dalam segala hal, dan ini sesuatu yang wajar. Akan tetapi, karena cemburu, kadang-kadang (bagi orang-orang yang picik) menolak mengikuti lingkup batas sendiri dan sengaja elompat dengan cara apa saja serta memaksakan diri. Padahal usaha mereka itu sia-sia. Terkadang seagian mereka dilanda pertentangan jiwa yang melemparkan mereka keluar barisan atau mendorong mereka untuk membalas dendam pada pihak yang mereka anggap sebagai penyebab kegagalan mereka.

g. Membudayanya Ghibah dan Namimah

Faktor lain sebagai penyebab terpuruknya individu, merusak barisan, gerakan, mengurai ikatan, dan mengguncang bangunan adalah lahirnya perilaku suka menggunjing, mengadu domba, mengintai aib orang lain, banyak bicara, dan tersebarnya itu semua tanpa kendali dengan alasan memperbaiki keadaan melalui amar ma’ruf nahi munkar.

Selain beberapa penyebab yang telah disebutkan di atas, DR. Sayyid M. Nuh dalam bukunya yang berjudul “Penyebab Gagalnya Dakwah” mengkaji kurang lebih 28 sikap sebagai penyebab gagalnya dakwah Islamiah serta cara mengatasinya. Adapun beberapa contohnya (yang belum tersebut dari penjelasan sebelumnya) adalah sebagai berikut:

a. Futuur  

Futuur ialah suatu penyakit hati yang efek minimalnya yaitu timbulnya rasa malas, lamban, dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya terputusnya sama sekali praktik sari suatu amaliyah tersebut.

Adapun kiat mengatasi Futuur antara lain:

1) Menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menjalankan agama.
2) Menghibur diri dengan hal-hal yang dibolehkan seperti berwisata dll.
3) Menghadiri majelis-majelis ilmu.

b. Isti’jaal 

Isti’jaal memiliki arti yakni keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhatikan akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem, dn sarana. Dengan perkataan lain, Isti’jaal merupakan cara-cara berdakwah yang menginginkan hasil yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.

Kiat mengatasi Isti’jal antara lain:

1) Senantiasa mengkaji dan merenungkan ayat-ayat al-Quran
2) Senantiasa mengkaji sunnah dan Sirah Nabawiyah
3) Berjuang dengan sebuah program yang jelas, terarah,dan komprehensif.

c. ‘Uzlah 

‘Uzlah adalah tindakan seseorang yang lebih mengutamakan hidup menyendiri daripada hidup bersama dengan orang lain. Jadi jika ada seorang aktivis yang merasa cukup dengan mengatakan Islam pada diri sendiri saja tanpa peduli dengan keadaan orang lain, dan tanpa melihat keadaan mereka yang tengah terjerumus dalam lembah kebinasaan dan kehancuran, maka dia termasuk orang yang terkena penyakit ‘Uzlah. 

Salah satu dampak buruk akibat ‘Uzlah yakni buta teradap kemampuan pribadi sebab meski manusia memiliki kecerdasan dan kecemerlangan berpikir, namun ia tiak akan mungkin mampu menilai kemampuan dan potensi yang ada pada diri pribadinya secara rinci. Ia tetap memerlukan orang lain yang bertindak sebagai penolongnya. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Seorang mukmin dalah cermin bagi saudara mukmin lainnya.” ( HR. Abu Daud)

Salah satu kiat dalam rangka mengatasi dan mencegah ‘Uzlah  adalah dengan mendalami pengertian akan Manhaj Islam dalam sikap interaksi antara pribadi dan jamaah. Hal tersebut dapat memberi motivasi kepada seorang muslim untuk hidup bersama jamaah, dimana ia dapat memelihara harga diri dan pribadinya.  

d. Ghuruur 

Ia memiliki arti rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri secara berlebihan sehingga mengakibatkannya merendahkan dan meremehkan apa-apa yang datang dari orang lain serta merasa dirinya lebih dalam segalanya dibandingkan dengan orang lain. Upaya agar dapat menghindari sikap Ghuruur, ada baiknya menunda diri untuk tidak menduduki posisi di depan sementara waktu sampai sekiranya sudah bisa melepaskan diri dari sikap Ghuruur tersebut.    

e. Ittibaa’ul Hawa 

Ittibaa’ul Hawa berarti sikap cenderung untuk mengikuti penilaian hati tanpa pertimbangan logika atau tanpa merujuk pada tuntunan syariat dan mempertimbangkan akibatnya. Orang-orang yang selalu memperturutkan kehendak hawa nafsunya berarti hidupnya akan selalu tenggelam dalam lumpur kemaksiatan dan dosa. Kondisi semacam itu akan sangat membahayakan kesehatan hatinya. Dalam hatinya akan berjangkit aneka penyakit. Setelah itu hatinya akan menjadi kesat, kasar, keras, lalu mati.

Untuk dapat mengatasi hal ini, salah satu sikap yang perlu diambil adalah dengan meyakini bahwa kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, dan kemenangan itu hanya dapat diraih dengan mengikuti syari’at-Nya dan bukan dengan sikap mengekor ambisi dan kesenangan hati.

3. Faktor Tekanan Eksternal 

Faktor lain yang mengakibatkan gagalnya aktivis dan da’i dala perjalanan dakwah adalah berhubungan dengan situasi dsan kondisi umum,serta berbagai faktor luar yang menekan. Penyebab ini banyak dan bermacam-mcam. Secra garis besarnya antara lain sebagai berikut:

a. Tekanan Berbagai Ujian

Ujian dalam kehidupan dakwah dan da’i merupakan benturan yang paling kuat dan ujian yang paling besar. Berapa banyak orang yang mundur dari panggung amal islami setelah mengalami cobaan atau siksaan. Padahal sebelumnya mereka tergolong orang-orang yang sangat bersemangat.
Al-Qur’anul Karim telah menetapkan bahwa cobaan itu tidak dapat dihindarkan dari kehidupan orang-orang mukmin untuk menguji barisan, membedakan emas dari loyang serta mengukur dalamnya iman. Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yan benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut:1-3) 

b. Tekanan Keluarga dan Kerabat

Di antara tekanan yang dihadapi oleh para aktivis dalam lingkungan Islam yang juga sering membuat mereka gagal adalah berkaitan dengan keluarga dan para kerabat seperti orang tua, istrei, suami, dan anak-anak. Sedikit sekali orang yang selamat dari tekanan keluarga ini. Karena keluarga itu semua merasa khawatir terhadap anak-anak mereka jika tertimpa penderitaan, seperti yang menimpa para da’i, pejuang, dan para aktivis pada setiap masa dan tempat. Sebagian yang lain terlena dengan keangkuhan, lalu dia merasa tisak rela keluarganya yang lebih kecil mendahuluinya mengikuti jalan yang benar, kemudian dia berusaha membelokkan dan menekannya dengan berbagai cara. Di antara contoh yang dihikayatkan oleh al-Qur’an tentang tekanan karib kerabat dan keluarga yang dihadapi oleh para aktivis adalah kisah Ibrahim as. Dengan keluarga serta bapaknya.  

c. Tekanan dan Pengaruh Lingkungan

Faktor lainnya yang mendorong keterpurukan dan kegagalan para aktivis dari panggung dakwah islamiyah adalah tekanan lingkungan. Seorang muslim dalam lingkungan suatu daerah, kemudian dia pindah untuk belajar atau bekerja ke lingkungan lain yang faktor negatifnya lebih banyak dan tarikan jahiliyahnya lebih kuat. Di sinilah mulainya benturan keras, dapat saja dia tangguh dan menang, atau justru gugur dan terseret arus. Contohnya ada seorang saudara kita yang berangkat ke Amerika untuk studi. Di negerinya ia merupakan tipe seorang musllim ideal dan menjadi panutan yang baik bagi saudara-saudaranya. Dia tinggal di Amerika beberapa tahun. Kemudian saat dia kembali, dia berubah sebagai seorang manusia yang lain.

d. Tekanan Gerakan Provokasi

Faktor eksternal lain yang mengakibatkan terpuruknya banyak orang dalam dakwah terkait gerakan provokasi yang sering disaksikan di kalangan Islam. Modus gerakan itu adalah menyebarkan keragu-raguan dan kritik, yang seolah-olah seperti cangkul yang menghunjamgerakan Islam, untuk menghancurkan dan meruntuhkannya atas nama Islam. Sebagian besar gerakan provokasi ini mempunyai jargon yang terkadang dapat membutkan mata, diantaranya:

1) Mereka ini ada yang memusatkan perhatian pada segi akidah, yang dapat mengalihkan perhatian orang pada kehebatannya di bidang ini, tapi tanpa menyentuh kelemahan dan kekurangan di bidang-bidang lain.
2) Ada yang memusatkan perhatiannya pada urusan-urusan militer, berupa hal yang dapat membangkitkan kekaguman terhadap hal tersebut, tanpa menoleh pada kelemahan dari hal-hal lainnya.
3) Ada juga yang memprioritaskan segi rohani. Namun secara pasti berdasarkan perhitungan, harus ada segi-segi lain untuk membentuk kepribadian Islam dan amal islami yang mendasar.

Demikianlah, bangkitnya kelompok-kelompok Islam seperti itu telah menyebabkan timbulnya kerancuan kepribadian Islam, serta dari sini membawa kepada kerancuan amal Islam itu sendiri. Dengan demikian, Islam pun jadi terlihat penuh dengan hal-hal yang kontradiktif dan kontroversial.

e. Tekanan Gaya Hidup Mewah dan Gengsi

Di antara faktor terpuruknya para aktivis dalam perjalanan dakwah adalah berhubungan dengan gaya hidup hedonis dengan segala embel-embelnya. Semua itu termasuk penyakit kejiwaan berupa kesombongan yang menipu, gengsi, dan hedonisme. Ini pula yang menjerumuskan iblis ketika ia berbangga dengan dosa-dosanya, lalu berkata: “…aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf: 12)

Dalam kehidupan dakwah, banyak manusia yang tertimpa bencana karena sikap bangga yang menjadi pintu masuknya syaitan ke dalam diri mereka. Pada awalnya sebelum terjun ke masyarakat, mereka merupakan teladan karena keteguhan dan ketaatannya. Akan tetapi, setelah merasa menjadi “sesuatu” atau telah mendapat suatu status sosial terpandang, yang terkadang mereka dapatkan melalui dakwah, tiba-tiba berubah. Jika mereka tidak memperoleh inayah dari Allah, mereka akan bebalik ke belakang, memerangi “ibu” yang telah mengasuh mereka dan masyarakat yang telah mendidik mereka, serta mengingkari keluarga yang telah membimbing mereka kepada Islam.  

PENUTUP

Kegiatan dakwah merupakan tugas dari setiap muslim. Hal ini juga telah disebutkan dalam al-Qur’an, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya  sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’:28)

Akan tetapi, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an juga, bahwasannya kehidupan orang-orang mukmin (sebagaimana para da’i) tidak akan terlepas dari cobaan dan ujian. Meski demikian, kita tidak boleh berputus asa. Kita tentu bisa berhasil dalam tugas dakwah kita jika kita jeli membaca situasi dan kondisi yang ada. Disamping itu, kita bisa berhasil jika kita mengetahui apa yang selama ini menjadi sebab gagalnya dakwah. Oleh karena itu, kajian mengenai faktor-faktor penyebab gagalnya dakwah menjadi penting agar setidaknya kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Amin.

Wallohu a'lamu Bihs Showab

No comments

Powered by Blogger.