Pemikiran Filsafat Al-Farabi "Emanasi, Kenabian & Politik"

Pemikiran Filsafat Al-Farabi
"Emanasi, Kenabian & Politik"
Pemikiran Filsafat Al-Farabi "Emanasi, Kenabian & Politik"

PENDAHULUAN

Al-Farabi adalah filosof Islam pertama yang sangat sistematis dalam membangun dasr-dasar Neoplatonisme Islam. Pandangan filsafatnya sangat dipengaruhi oleh Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Menurut Plato, dunia lahir adalah bayangan dari dunia ide. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu ide tentang dunia. Oleh karena itu, dunia lahir dapat berubah-ubah dan bermacam-macam karena merupakan tiruan (yang sifatnya tidak sempurna) dari ide yang sifatnya ideal (sempurna).

Adapun teori metafisika menurut Aristoteles adalah bahwa matter (materi) dan form (bentuk) itu bersatu. Matter memberikan substansi sesuatu, sedangkan form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri atas matter dan form. Hal ini berbeda dengan dualisme Plato yang memisahkan matter dan form. Bagi Plato, matter adalah potensialitas dan form adalah aktualitas. Namun menurut Aristoteles  ada substansi yang murni form tanpa potensialitas (tanpa matter) yaitu Tuhan. Baginya Tuhan adalah penggerak pertama yaitu jiwa yang memiliki semua jiwa, jiwa yang tidak bergantung pada selain dirinya sendiri.

Sedangkan filsafat Plotinus berpangkal pada keyakinan bahwa Yang Asal itu adalah permulaan dan sebab yang pertama dari segala yang ada. Pandangan itu disebut dengan emanasi dari Yang Asal. Emanasi adalah suatu pandangan baru yang dikemukakan oleh Plotinus dalam filosofinya. Sampai sekian jauh, belum ada pengertian ini dalam pemikiran Yunani. Dari Yang Asal, datang makhluk yang pertama yaitu akal, dunia pikiran. Dari akal ini, datang jiwa dunia, yang pada gilirannya melahirkan materi.

Menurut al-Farabi, Tuhan adalah pikiran yang bukan berupa benda. Bagaimana hubungannya dengan alam yang berupa benda ini? Apakah alam keluar dari-Nya dalam proses waktu, ataukah alam itu qadim seperti qadimnya Tuhan juga?  Dalam pembahasan berikut ini akan dijelaskan konsep pemikiran al-Farabi mengenai filsafat emanasi, dan dua konsepnya yang lain mengenai filsafat kenabian, dan politik.

PEMBAHASAN
Sejarah Singkat Al Farabi

Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkan ibn Uzlagh Al Farabi. Dia berasal dari Farab, Transoxiana (sebelah utara Iran).  Dia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran yang menikah dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian, ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran. Di antara karya Al Farabi yang terkeal ialah:

1. Aghradhu ma Ba’da at-Thabi’ah
2. Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain (Mempertemukan Pendapat Kedua Filsuf)
3. Tahsil As-Sa’adah (Mencari Kebahagiaan)
4. ‘Uyun ul-Masail (Pokok-Pokok Persoalan)
5. Ara-u Ahl-il Madinah Al-Fadlilah (Pikiran-Pikiran Penduduk Kota Utama-Negeri Utama)
6. Ih-sha’u al-Ulum (Statistik Ilmu)

Konsep Pemikiran Al Farabi
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Filsafat Emanasi (Pancaran)

Pemahaman al-Farabi tentang jiwa yang hidup berkaitan dengan pandangannya tentang emanasi, yaitu teori tentang keluarnya suatu wujud yang mungkin dari Dzat yang mesti adanya (Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan “teori tingkatan wujud”.

Proses metafisis pancaran (emanasi) menurut al-Farabi dimulai dari Sebab Pertama yang memikirkan dirinya sendiri yang dari situ melahirkan wujud kedua, atau yang dianggap juga sebagai intelek pertama. Wujud kedua ini merupakan esensi murni yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi dan bentuk. Wujud kedua, sebagai produk Sebab Pertama, memikirkan Sebab Pertama dan memikirkan esensinya sendiri; dari usaha memikirkan Sebab Pertama lahirlah wujud ketiga, dari usaha memikirkan esensinya sendiri muncullah langit pertama. Wujud ketiga yang merupakan intelek kedua memikirkan Sebab Pertama dan memikirkan esensinya sendiri; dari memikirkan Sebab Pertama melahirkan wujud keempat, dan dari memikirkan esensinya sendiri memunculkan bintang-bintang. Wujud keempat berupa esensi juga, memikirkan Sebab Pertama dan dirinya sendiri; dari memikirkan Sebab Pertama lahir wujud wujud kelima, dan dari memikirkan esensinya sendiri muncul planet Saturnus. Wujud Kelima juga esensi, memikirkan Sebab Pertama dan dirinya sendiri; pemikiran Sebab Pertama memunculkan wujud keenam dan dari pemikiran dirinya sendiri melahirkan bintang Yupiter. Wujud keenam berupa esensi, memikirkan Sebab Pertama dan esensinya sendiri; memikirkan Sebab Pertama memunculkan wujud ketujuh dan dari pemikiran atas dirinya sendiri melahirkan bintang Mars. Wujud ketujuh berupa esensi, memikirkan Sebab Pertama dan esensinya sendiri; dari Sebab Pertama lahir wujud kedelapan, dan dari esensinya sendiri muncul Matahari. Wujud kedelapan berupa esensi, memikirkan Sebab Pertama dan esensinya sendiri; dari Sebab Pertama lahir wujud kesembilan dan dari dirinya muncul bintang Venus. Wujud kesembilan masih berupa esensi, memikirkan Sebab Pertama dan dirinya sendiri; dari Sebab Pertama lahir wujud kesepuluh dan dari dirinya sendiri muncul bintang Merkurius. Wujud kesepuluh memikirkan Sebab Pertama dan esensinya sendiri; dari Sebab Pertama muncul wujud kesebelas dan dari dirinya muncul Bulan. Terakhir, wujud kesebelas yang juga masih berupa esensi, memikirkan Sebab Pertama dan dirinya sendiri, tapi disini tidak lagi melahirkan wujud berikutnya dan tidak juga memunculkan bintang-bintang. Proses emanasi berakhir dan bumi dengan segala isinya yang merupakan tempat bagi intelek aktual telah terwujud. 

Al-Farabi membagi wujud-wujud di bumi dalam tiga kelompok, wujud-wujud alami,wujud-wujud hasrati, dan wujud-wujud yang sekaligus alami dan hasrati. Wujud alami adalah wujud-wujud yang eksistensinya tidak disebabkan kehendak manusia, seperti mineral, tumbuhan, dan binatang. Wujud hasrati adalah wujud-wujud yang eksistensinya disebabkan kehendak manusia, seperti kedisiplinan dan perbuatan-perbuatan manusia yang merupakan produk dari pilihan-pilihan. Wujud campuran alami dan hasrati adalah wujud-wujud bumi yang dihasilkan dari gabungan alam dan kehendak manusia, seperti pertanian, industri dan lainnya. 

Filsafat Politik 

Politik didefinisikan oleh al-Farabi sebagai etika dan swakarsa yang terkait erat dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia.

Seperti Aristoteles, meyakini bahwa individu memiliki watak zoon politicon (makhluk kemasyarakatan) dan tidak akan memperoleh kebahagiaan tanpa dukungan msayarakat. Oleh sebab itu, al-Farabi menolak kehidupan soliter (mengucilkan diri) yang disarankan oleh sebagian sufi dan Ibn Bajjah (w. 1138), murid spiritualnya dari Andalusia. Meskipun begitu, al-Farabi masih tetap mendukung cita-cita “semi mistis” kaum sufi untuk melakukan “kontak” dengan intelek aktif sebagai tujuan dari semua kognisi manusia.

“Kesempurnaan manusia,” tulis al-Farabi dalam Mabadi’ Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadlilah, “sesuai dengan watak alamiah manusia itu sendiri,” tidak akan tercapai tanpa berhubungan dengan manusia-manusia yang lain. Kerja sama itu mempunyai tiga bentuk, yaitu kerja sama antarpenduduk dunia pada umumnya, kerja sama dalam suatu komunitas (ummah), dan kerja sama antarsesama penduduk kota (madinah).

Menurut al-Farabi, kota adalah tempat terbaik bagi manusia untuk mencapai kesempurnaannya. Kota yang di dalamnya kebahagiaan menjadi mudah dicapai karena usaha kooperatif para penduduknya, al-Farabi menyebutnya sebagai “kota utama”. Selain “kota utama”, yang ada hanya “lawan-lawannya”.

Bentuk generik pertama dari lawan “kota utama” adalah “kota kebodohan”, yang terbagi menjadi beberapa subbagian, yaitu:

1. Kota kemestian (necessary city), para penduduk kota ini tidak peduli pada watak sejati kebahagiaan. Mereka berkumpul sekadar untuk menangguk kemakmuran materiil dan memenuhi kebutuhan primer.
2. Kota kehinaan, yang di dalamnya para penduduknya mencukupkan diri dengan kekayaan dan kepemilihan materiil.
3. Kota kebejatan, yang di dalamnya kenikmatan adalah satu-satunya tujuan.
4. Kota ningrat atau timokrasi, berorientasi pada gengsi atau kehormatan publik.
5. Kota tiranik atau despotis, yang di dalamnya penaklukan atau dominasi menjadi dambaan para penduduknya.
6. Kota demokratis, yang di dalamnya kebebasan individual menjadi tujuan utama meskipun berujung pada pelanggaran hukum dan anarkisme.

Bentuk generik kedua dari lawan “kota uatama” adalah “kota pembangkang”, yang disebut juga kota korup. Para penduduk kota ini umumnya mengenal Tuhan dan kehidupan akhirat, namun gagal mengamalkannya. Bentuk ketiga adalah “kota kesesatan”, yang di dalamnya para penduduknya sebetulnya mempunyai pandangan yang benar dan perbuatan yang baik, tetapi kemudian menjadi mursal atau sesat.

Bentuk keempat adalah “kota error”’, yang ada di dalamnya para penduduknya begitu nyaman dengan pandangan-pandangan yang keliru tentang Tuhan ataupun intelek aktif. Pemimpin kota ini lazimnya adalah seorang nabi palsu yang menggunakan tipu daya dan kelicikan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya .

Berlawanan dengan semua kota tadi ialah “kota utama” yang menjadi contoh moral dan teoretis dari kehidupan bermasyarakat. Semua warga kota termaktub sudah tentu mengenali hakikat Tuhan, intelek aktif, kehidupan akhirat, dan bersandar pada tata nilai kebajikan. 

Filsafat Kenabian

Pemimpin “kota utama” hendaknya adalah seorang yang becus mengelola segenap bidang kehidupan sepatut-patutnya. Ia harus pula mampu menerima pencerahan intelek aktif, baik lewat bakat (nature) maupun pengembangan diri. Sedemikian rupa sehingga apabila ia menjadi pemimpin berkat kesempurnaan daya-daya teoretis dan praktisnya, niscaya ia adalah seorang filosof. Dan apabila ia sampai mampu mencandrakan (prophecy) masa depan melalui kontak intelek aktif, niscaya ia adalah seorang nabi.

Al-Farabi lantas memerinci beberapa karakter yang harus dimiliki oleh nabi-filosof ini agar kemampuannya sebagai pemimpin “kota utama” dapat sepenuhnya terjamin. Paling penting diantara keduabelas karakter yang dijabarkannya adalah cinta keadilan, jujur, cerdas, sehat jasmani, lugas, berakhlak mulia, moderat, dan pemberani. Banyak diantara karakter ini yang sangat mirip konsep Plato tentang raja-filosof dalam Republic VI  atau karakteristik khalifah menurut ahli fiqih Islam. 

KESIMPULAN

Pemahaman al-Farabi tentang jiwa yang hidup berkaitan dengan pandangannya tentang emanasi, yaitu teori tentang keluarnya suatu wujud yang mungkin dari Dzat yang mesti adanya (Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan “teori tingkatan wujud”.

Pemikiran al-Farabi tampak selaras dan konsisten, dimana tiap-tiap bagiannya saling terkait. Dimulai dari yang Esa, Sebab Pertama, secara hierarkis turun menuju kesepuluh intelek yang kemudian melahirkan langit dan bumi yang merupakan wujud empiris dan plural. Artinya disini bisa diselesaikan perbedaan dua kutub yang saling berseberangan, sehingga bisa dijelaskan keterkaitan antara Tuhan yang Esa dengan wujud empiris yang plural, antara yang substantif dan aksiden, antara yang tidak bergerak dengan yang berubah, yang merupakan persoalan pelik filsafat saat itu.

DAFTAR PUSTAKA

Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, 2002, alih bahasa Zainul Am, Bandung: Penerbit Mizan.

Rosleny Marliany, 2010, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia.
Sholeh, A. Khudori, 2004, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


No comments

Powered by Blogger.