Pemanfaatan Media Jejaring Sosial Sebagai Media Komunikasi Dalam Keperawatan

Pemanfaatan Media Jejaring Sosial Sebagai Media Komunikasi Dalam Keperawatan
Oleh Diana  Irawati*
PEMANFAATAN MEDIA JEJARING SOSIAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN

Abstrak

Pertumbuhan pengguna media jejaring sosial, khususnya Facebook, di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia. Komunitas keperawatan harus mulai memikirkan pola pemanfaatan yang efektif atas media jejaring sosial dalam program intervensi keperawatan. Media jejaring sosial adalah solusi atas ketersediaan dukungan sosial bagi pasien. Namun, selain berbagai efek positif yang menjanjikan, tulisan ini juga memaparkan beberapa efek negatif yang mungkin muncul dari pemanfaatan media jejaring sosial dalam praktek keperawatan, terkait dengan persoalan etika dan keterbukaan informasi kesehatan.

Kata Kunci : Facebook, komunitas keperawatan, intervensi keperawatan.

FENOMENA “BIBIT-CANDRA”, “PRITA VS OMNI”  DAN “KEONG RACUN”

“Fesbukan” mungkin sudah sepantasnya diserap kedalam kosakata resmi bahasa Indonesia, karena kata yang digunakan untuk menggambarkan aktifitas mengunjungi situs Facebook tersebut semakin sering kita dengar di dalam percakapan sehari-hari di negeri ini, khususnya di kota-kota besar. Tidak aneh, karena ternyata jumlah pengguna situs pertemanan tersebut di Indonesia adalah yang terbesar di Asia. Dalam laporan yang dilansir oleh Okezone.com disebutkan bahwa hingga bulan November 2010 pengguna Facebook di Tanah Air mencapai angka 12,2 juta akun, sebelumnya pada Oktober 2010 Indonesia sudah mengumpulkan pengguna Facebook sebanyak 9 juta lebih, yang berarti dalam sebulan muncul  lebih dari 2 juta pengguna baru. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai pengguna terbesar di benua Asia dan Australia.  Soal angka pertumbuhan, Indonesia juga melesat paling tinggi di antara 30 negara asia lainnya. Pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial ini mencapai angka 25 persen, dengan tingkat penetrasi sebesar 5 persen saja. 

Facebook adalah salah satu dari beberapa situs jejaring sosial yang tengah menjadi kegemaran masyarakat pengguna Internet akhir-akhir ini. Nama-nama situs lainnya yang tengah naik daun diantaranya Twitter dan Youtube. Situs-situs tersebut muncul setelah beberapa situs yang lebih dulu populer seperti Friendster dan Myspace. Beberapa situs lokal-pun cukup mendapat positif masyarakat seperti Kaskus dan Koprol. 

Jumlah pengguna facebook yang demikian besar, meskipun hanya sekitar 5 persen dari total penduduk Indonesia, ternyata terbukti membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya dalam kasus pengadilan yang melibatkan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) yaitu Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah sebagai tersangka penerima suap, sebagai bentuk dukungan terhadap KPK ,masyarakat pengguna Facebook membuat group “1 juta facebooker mendukung Bibit-Chandra” yang mampu menggalang dukungan dari 100 ribu lebih pengguna facebook. Hal ini kemudian diangkat oleh media cetak dan elektronik dan menarik perhatian para pemimpin negeri ini hingga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.  Kasus berikutnya mungkin sedikit  banyak terkait dengan dunia keperawatan dan kesehatan, yaitu kasus perseteruan antara Prita Mulya Sari dengan manajemen RS OMNI Internasional. Prita yang merasa kecewa dengan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit menyampaikan keluh kesahnya melalui mailing list, yang kemudian ditanggapi oleh pihak rumah sakit dengan menuntut Prita ke pengadilan dengan tuduhan mencemarkan nama baik rumah sakit. Prita dituntut untuk membayar denda sebesar 204 juta rupiah kepada pihak RS sebagai ganti rugi. Pengguna Facebook-pun meradang dan membuat kelompok “Koin untuk Prita”, mereka mengajak masyarakat yang mendukung Prita untuk menyumbangkan dana dalam bentuk koin untuk membayar denda yang dijatuhkan oleh pengadilan pada Prita tersebut. Hasilnya, konon terkumpul dana hingga lebih dari 500 juta rupiah dalam bentuk koin, dan melihat dukungan masyarakat yang demikian besar, manajemen RS OMNI Internasional pun menawarkan perdamaian pada Prita.

Fenomena yang terjadi pada pengguna YouTube mungkin lebih menarik lagi. YouTube adalah situs yang memungkinkan penggunanya saling berbagi dokumentasi pribadi berupa video. Dua gadis muda bernama Shinta dan Jojo adalah pengguna YouTube yang secara iseng mengunggah rekaman video mereka tengah melakukan lipsync, yaitu menirukan ekspresi bernyanyi namun tidak benar-benar bernyanyi, hanya menggerakan bibir sesuai lirik lagu. Lagu yang mereka lpsync-kan adalah lagu berjudul Keong Racun. Tidak jelas benar alasanya, namun video ini sangat digemari pengguna YouTube, video ini diputar lebih dari 5 juta kali dalam kurun waktu 5 bulan sejak video ini diunggah pada bulan Juli 2010. Shinta dan Jojo pun menjadi perbincangan dan naik daun. Setelah berkeliling ke beberapa stasiun televisi swasta untuk sesi wawancara, keduanya pun menandatangani kontrak untuk membintangi iklan produk makanan. Popularitas YouTube mampu mengangkat popularitas dua gadis belia yang sederhana, lewat sebuah video sederhana yang dibuat untuk keisengan belaka. Tak terbantahkan, media jejaring sosial memiliki kekuatan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini. Dan komunitas dunia maya mulai memiliki kekuatan pengaruh yang mendekati komunitas nyata.

BARU SEBATAS MEDIA KOMUNIKASI SESAMA PERAWAT

Komunitas perawat sebagai bagian masyarakat tentu ikut terbawa arus maraknya pemanfaatan media jejaring sosial semacam Facebook dan YouTube. Berbagai Group atau kelompok dalam Facebook yang berkaitan dengan dunia keperawatan pun bermunculan. Seperti kelompok praktisi keperawatan dan kelompok akademisi – dosen dan mahasiswa- keperawatan. Namun, tampaknya pemanfaatan media jejaring sosial ini baru sebatas menjadi media komunikasi diantara sesama penggiat keperawatan. Sejauh pengetahuan penulis, belum ada upaya yang disengaja oleh penggiat keperawatan untuk memanfaatkan media jejaring sosial untuk mewadahi tujuan yang lebih besar, seperti mencerahkan masyarakat secara luas atas perkembangan informasi dunia keperawatan.

Padahal, jika terjalin komunikasi yang baik antara dunia keperawatan dan masyarakat umum sebagai konsumen layanan kesehatan, tentu kasus seperti yang dialami oleh Prita dan RS OMNI Internasional dapat diminimalisasi. Paling tidak masyarakat tahu betul apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai pasien, dan penyelenggara layanan kesehatan akan lebih berhati-hati dalam memberikan pelayanan agar tidak melanggar hak-hak pasien.

Ditambah lagi, internet menjadi salah satu sumber pengetahuan masyarakat akan masalah kesehatan. Padahal layaknya sebuah (maaf) “toilet umum” siapa saja dapat membuang informasi kedalamnya, baik ia memiliki kompetensi ataupun tidak terkait bidang informasi yang ia sebarkan lewat internet. Masyarakat awam tentu kesulitan menyaring mana informasi yang benar dan mana yang “sampah”. Tentu menjadi masalah besar jika masyarakat memiliki pemahaman yang sesat terkait masalah-masalah kesehatan dan penanggulangan penyakit. Jika ada upaya yang didesain oleh institusi resmi kesehatan seperti Rumah sakit, organisasi kesehatan, maupun pemerintah lewat departmen kesehatan untuk memanfaatkan media jejaring sosial sebagai penyampai informasi kesehatan yang terpercaya dan akurat, masyarakat tentu akan sangat terbantu.

Kalaupun ada, pemanfaatan internet baru sebatas pembuatan wesite resmi yang sangat kaku dan satu arah. Akun-akun twitter terkait informasi kesehatan biasanya dibuat oleh individu maupun organisasi swasta yang tidak dapat diketahui kapasitas dan kapabilitasnya terkait masalah kesehatan. Atau kalaupun ada yang dibuat oleh komunitas kesehatan seperti universitas, akun tersebut cenderung ditujukan untuk sesama komunitas kesehatan, bukan masyarakat luas. Departemen kesehatan mungkin perlu melirik Trafic Management Control POLDA Metro Jaya yang sudah cukup serius menggarap komunitas twitter dan facebook lewat akun @TMCPoldaMetro. Akun yang memiliki jumlah follower hingga 200 ribu lebih ini menjadi sumber yang terpercaya bagi masyarakat terkait informasi kemacetan jalan di Jakarta. Masyarakat bahkan dapat bertanya langsung tentang kondisi jalan terkini, dan mendapatkan respon yang tidak terlalu lama. Selain merasa terbantu, masyarakat juga mendapatkan kepolisian sebagai sebuah institusi yang demikian mudah dijangkau.

MERAWAT DENGAN FACEBOOK

Sejak tahun 1974, pentingnya jaring sosial dan dukungan sosial bagi pemeliharaan kesehatan individu dan masyarakat telah disadari oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Kanada, Marc Lalonde. Ia menempatkan kedua aspek tersebut sebagai aspek penting dalam konsep pemeliharan kesehatan yang dirancangnya. Ternyata pandangan tersebut tetap relevan hingga kini, terbukti  Word Health Organization (WHO) memasukan dukungan sosial (hubungan sosial dan jaringan sosial) sebagai faktor kunci yang berpengaruh bagi kesehatan dalam publikasi laporan The Social Determinants of Health pada tahun 2003. Baik Lalonde dan WHO menggaris bawahi pentingnya dukungan dari keluarga, teman dan komunitas bagi pemeliharaan kesehatan seseorang.

Terdapat banyak penelitian seputar pengaruh baik terputus maupun terhubunganya jaringan sosial seseorang terhadap keberhasilan proses perawatan seorang pasien. Yang terkait dengan problematika keterhubungan pasien dengan jaringan sosialnya misalnya diangkat oleh Linda B. Charron, ,  seorang pakar keperawatan kritis , dan Donald D. Kautz, seorang asisten professor di University of North Carolina Greensboro, Greensboro, North Carolina yang mempersoalkan boleh tidaknya anggota keluarga pasien berada didalam ruang perawatan bersama pasien saat tengah dilakukan upaya resusitasi. Keberadaan anggota keluarga dianggap menjadi masalah karena dapat menimbulkan trauma pada anggota keluarga yang disebabkan oleh pemandangan, suara, dan aroma yang muncul, yang mungkin bisa membuat mereka jatuh pingsan. Selain itu, mereka juga dapat mengganggu pekerjaan tenaga perawat dengan melakukan interupsi dan pertanyaan, sehingga tenaga perawat menjadi tidak fokus dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan tindakan. Namun di sisi lain, keberadaan anggota keluarga juga dapat memberikan manfaat  berupa dorongan bagi pasien untuk bertahan hidup. Dukungan dari anggota keluarga juga dapat merangsang daya juang pasien untuk bertahan hidup.

Jika Charon dan Kautz mempersoalkan keterhubungan jaringan sosial pasien, sebaliknya Suzanne Marie Dupuis-Blanchard (2007), seorang doktor dari Fakultas Keperawatan University of Alberta, mengangkat persoalan yang timbul saat pasien harus terputus dari jaringan sosialnya. Dalam laporan penelitiannya yang berjudul Social Engagement in Relocated Older Adults ia mengangkat berbagai masalah yang mungkin timbul akibat relokasi menyebabkan pasien jompo terpaksa terpisah dari keluarga, teman, dan komunitas sosialnya. 

Blanchard menyadari bahwa memiliki hubungan sosial yang baik memberikan manfaat yang berlipat bagi orang lanjut usia (lansia). Lansia merasa lebih berharga saat berpartisipasi dalam sebuah hubungan sosial. Hubungan sosial juga diyakini mempengaruhi secara positif pada kemampuan fungsional pada lansia.  Keterhubungan secara sosial mempengaruhi baik secara biopsikososial, cultural, maupun spiritual pada seorang lansia. Terlibat dalam hubungan sosial diidentifikasi sebagai aktifitas restorative bagi lansia yang memperbaiki fungsi kognitif, perasaan energi mental yang lebih besar, dan kedamaian. Blanchard juga mencatat bahwa berpartisipasi dalam interaksi sosial dapat mencegah penurunan kemampuan kognitif dan memelihara kemampuan (skill) sosial seseorang; kemampuan berkomunikasi dan menghadapi masalah hubungan sosial yang kompleks. Kondisi sebaliknya terjadi jika seseorang terjebak dalam isolasi sosial. Blanchard memaparkan beberapa efek negatif yang ditimbulkan bagi kesehatan fisik dan mental lansia, diantaranya munculnya depresi akibat ketiadaan kontak sosial yang mendorong kondisi penyakit kardiovaskular dan rasa kesepian.

Jika terputusnya hubungan sosial diyakini sebagai ancaman bagi keberhasilan proses perawatan seorang pasien, maka ada baiknya kita melirik media jejaring sosial seperti facebook dan twitter menjadi salah satu solusi menjaga keberlangsungan konektifitas pasien dengan komunitas sosialnya, baik keluarga, teman, maupun komunitas lainnya. Keajaiban yang ditawarkan media jejaring sosial adalah seseorang dapat berhubungan dengan komunitas sosialnya dimanapun dan kapanpun. Lokasi dan waktu tidak lagi membatasi interaksi sosial seseorang saat berselancar di media jejaring sosial. Deborah K. Mayer (2010 ), editor dari Clinical Journal of Oncology Nursing tampaknya menyadari hal ini sehingga ia berseru: ” Social networking sites allow users to communicate regardless of location and time of day. Have you used them? Have your patients?”, dalam sebuah tulisan editorial yang ia beri judul “Social Networking in Cancer Care”. Ia memprovokasi para tenaga kesehatan professional untuk memanfaatkan media jejaring sosial dalam program-program perawatan kesehatan yang dilakukan. Dalam tulisan tersebut Ia menuliskan pengalamannya dalam memanfaatkan media jejaring sosial dalam upaya menjaga kesehatan mental pasien selama krisis kesehatan akibat kanker. Mayer bahkan mengatakan sebaiknya perawat mempelajari lebih dalam tentang situs media jejaring sosial, dan memastikan bahwa pasien dan keluarga juga mengetahui tentang hal tersebut. Melakukan hal ini akan memfasilitasi kebutuhan pasien akan dukungan sosial saat berjuang menghadapi kanker, pungkas Meyer. 

Sedemikian pentingnya keterhubungan secara sosial bagi kesehatan mental pasien, tentu menempatkan solusi yang yang dapat menjaga keterhubungan tersebut sebagai sesuatu yang penting juga. Tidak heran jika, mungkin saja, suatu saat nanti Facebook dan semacamnya menjadi bagian dari intervensi keperawatan. Artinya, penggunaan facebook dapat menjadi salah satu bentuk aplikasi intervensi keperawatan.

MEDIA JEJARING SOSIAL DAN KETERBUKAAN INFORMASI KESEHATAN: BAK PISAU BERMATA DUA

Menurut penulis, gagasan Meyer (2010 ), sangat perlu untuk dipertimbangkan implementasinya dalam praktek keperawatan. Aplikasi secara teknis dan prosedural tentu perlu dirancang sedemikian rupa sehingga efektif dan hanya efek positif yang didapat dari penggunaan media jejaring sosial dalam praktek keperawatan. Tidak sekadar misalnya; mengganti televisi di kamar pasien dengan laptop dan jaringan hotspot. Atau bertanya pada pasien, “apa comment status Facebook anda pagi ini?”. Karena sesungguhnya memanfaatkan media jejaring sosial dalam layanan kesehatan bukan tidak memiliki masalah sama sekali. Diantaranya adalah terkait dengan keterbukaan informasi yang terlalu luas dan masalah etika kedokteran. Dalam praktik keperawatan dimana hubungan yang terjadi antara pasien dengan perawat terjalin atas dasar hubungan terapeutik atau malah bergeser menjadi hubungan social saja, kekhawatiran ini juga diungkapkan oleh Mc Bride ( 2009 ) dalam Misue of social networking may have ethical implication for nurses, apakah hubungan antara perawat dengan pasien akan berubah seperti pertemanan? bagaimana kerahasiaan pasien tetap terjaga? Dan akan menjadi tidak etis, saat pasien atau perawat mengupload informasi dari rekam medis pasien. Batasan-batasan lain yang perlu diperhatikan seperti hubungan seorang professional dengan personal menjadi tidak jelas. Seperti yang diungkapkan oleh Thompson (2008), dalam Facebook-cautionary tales for nurses “ respect they trust implicit in the professional nursing relationship”. Bahwa hubungan yang terjadi antara perawat dengan pasien terjalin atas dasar hubungan saling percaya jangan sampai intervensi dalam rangka meningkatkan motivasi dengan memberikan akses untuk dapat berhubungan dengan orang-orang terdekat menjadi area abu-abu yang tidak jelas batasan hubungan antara perawat dan pasien. Pada Akhirnya memang setiap teknologi yang dikenalkan akan memberikan dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya, alangkah bijaknya apabila kita mampu memanfaatkan sisi positif yang dihasilkan dengan tetap mengantisipasi dampak negative yang ditimbulkan seperti adanya kebijakan pengaturan yang jelas dalam kode etik keperawatan itu sendiri. 

* Diana Irawati : Mahasiswa Program Paska sarjana Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah, FIK UI

DAFTAR PUSTAKA

American Psychological Association. (2002). Publication manual of the American Psychological Association. (5th Ed.), Washington, DC: American Psylogical Association.

Blanchard.D.,Marie.S.,(2007). Social Engagement in Relocated Older Adults.University of Alberta.Canada.

Charron.B.L., Kautz.D.D., (2010). Should Family Members Have The Option to Be Present During Resucitation Efforts? www.amsn.org.pg 4.

Desilets.L.D.,Dickerson.S.P.(2009). What About Social Networking. Journal Continuing Education Nurses 2009;40(10):436-437

http://techno.okezone.com/read/2009/11/13/55/275309/pengguna-facebook-indonesia-terbesar-di-asia (diunduh tanggal  30 Oktober 2010 )

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/10/31/brk,20091031-205523,id.html.(diunduh tanggal  30 Oktober 2010 )

http://koinkeadilan.com/.(diunduh tanggal  30 Oktober 2010 ).

http://www.youtube.com/watch?v=VKP1t3gQ_o0(diunduh tanggal  30 Okober 2010 ).

Mayer.D., (2010). Social Networking in Cancer Care. Clinical Journal of Oncology Nursing, Volume 14, Number 1.

Mc Bride.D.(2009)., Misuse of Social Networking May Have Ethical Implications for Nurses.Oncology Nursing Journal.Hal 17.

Thomson.C., (2008). Facebook-cautionary tales for nurses.Vol 16.No 7. 

No comments

Powered by Blogger.